Anak-anak bermain rebana | Foto Google Image
Anak-anak bermain rebana | Foto Google Image

Begitu Ramadan tiba sedari awal, keramaian menjadi milik langgar kecil di belakang rumah saya. Langgar itu tidak terlalu luas dengan langit-langit rendah dan dinding berwarna putih susu yang terkesan kusam. Lantainya keramik, memiliki dua jendela kayu yang sedikit keropos, serta dinding yang sebagian masih menyatu dengan rumah si pemilik langgar. Di bangunan mungil itu tidak ada ornamen-ornamen Arab yang dipoles di sepanjang langit-langit dan dindingnya sebagaimana masjid-masjid megah.

Langgar yang telah ada sejak bapak saya kecil itu sungguh sederhana dan tidak menarik. Satu-satunya yang menandainya sebagai tempat ibadah adalah kubah besar yang berkilauan di atap langgar. Namun meski bangunannya kecil, ia untungnya punya pelataran yang luas sekali. Di situ para jamaah tarawih yang tidak kebagian shaf di dalam, sering menggunakannya untuk menggelar beberapa tikar besar. Anak-anak pun juga menggunakannya untuk  berkumpul bersama teman dan bermain petasan.

Saya ingat ketika sedang bergerombol di pelataran itu bersama teman-teman, seorang teman tiba-tiba menyalakan petasan tikus. Sebenarnya bentuk petasan ini kecil, namun cukup berbahaya lantaran ketika dinyalakan akan memercikkan api sambil berputar-putar seolah tikus yang sedang berlarian. Saat itu pun kami juga berlari dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan sampai dimarahi bapak yang tinggal di sekitar langgar. Cerita itu terjadi kira-kira 14 tahun lalu, namun keriangan setiap kali mengingatnya belum tercabut hingga sekarang.

Barangkali hampir semua anak menyukai Ramadan. Jika Ramadan disambut oleh orang-orang dewasa dengan takzim dan haru. Anak-anak menerima Ramadan serupa pesta yang seharusnya dirayakan dengan main dan gurauan. Sewaktu kecil, saya ingat Pak Kyai di sekolah diniyah saya selalu berkata bahwa di bulan puasa ibadah kita akan dilipatgandakan. Hanya di bulan puasa juga setan-setan di penjara dan lailatul qodar turun di 10 hari terakhir.

Tetapi saya dan teman-teman masih terlalu kecil untuk bisa memahami esensi dari kisah-kisah semacam itu. Jadi, topik pelipatgandaan pahala tak bisa menghibur atau membuat kami takjub, juga tentang lailatul qodarnya. Kami menyenangi Ramadan lantaran ia punya kolak warna-warni, desingan mercon di udara. ronda thetek di malam buta, teriakan keras untuk menyahut bilal tarawih, pakaian baru sebagai hadiah menyelesaikan puasa, angpau-angpau dari setiap kunjungan dari rumah ke rumah, ngaji di masjid setiap dzuhur hingga sore, bertemu teman setiap tarawih. Ia sungguh serupa perayaan senang-senang satu bulan penuh.

Saya tidak terlalu mengamati bagaimana hari ini anak-anak di kampung saya melewati Ramadan. Telah banyak yang berubah. Langgar mungil di belakang rumah telah berubah menjadi masjid besar. Pelatarannya masih sama luas tetapi tak ada lagi anak-anak yang ngobrol-tertawa seusai buka puasa dan tarawih. Petasan juga tak lagi bisa dimainkan dan sahutan untuk bilal tarawih tak lagi tak boleh berteriak-teriak.

Tetapi anak-anak selalu tahu cara bersenang-senang. Imajinasi mereka selalu segar. Gairah mereka untuk selalu bermain membuatnya bisa melahirkan kreativitas-kreativitas menggemaskan. Kita tentu pernah melihat bagaimana seorang anak bisa tertawa hanya karena bermain dengan bayangannya sendiri atau bergurau dengan anak kecil lain yang baru dikenalnya. Anak-anak adalah simbol untuk hidup yang tak dipatok manfaat dan nilai, kepolosan tanpa ketegangn, serba dorongan impuls tanpa kecemasan. Mereka melakoni hidup begitu santai, tanpa kecurigaan dan kebencian. Melihat anak-anak dari sisi ini, kita barangkali bisa belajar bagaimana agar salah satu aspek kehidupan kita, yakni beragama, juga bisa dilakoni tidak secara kaku, tegang, serba saklek.

Hari ini mudah sekali kita menyaksikan banyak orang dewasa beragama secara tidak sehat. Mereka ini percaya berita hoax, menganggap yang berbeda sebagai ancaman, menjunjung yang tidak berilmu sebaga guru. Di tangan orang-orang ini agama benar-benar nampak sebagai keyakinan yang sakit—alih-alih sakti seperti anggapan mereka. Mereka ini, sebaiknya perlu belajar dari dunia anak-anak, dari aspek keriangannya dan dari sikap: yang bisa berteman dengan siapa pun tanpa kelewat curiga, sebagaimana dunia orang dewasa. Sebab, dunia ini—yang betapa pun fana dan buruknya (penuh hal jahat dan maksiat) dibanding akhirat—adalah juga dunia pemberian Tuhan tempat untuk menyebarkan kebaikan. Selamat berlebaran.

TINGGALKAN KOMENTAR