Selamat Datang Generasi Muda dalam Politik Elektoral

Akhirnya hari itu datang juga ya, Lur, bakal calon presiden & wapres sudah pada daftar di KPU Pusat. Walaupun penuh drama mirip sinetron, yang penting tetap ada yang daftar. Ya begitu-lah politik permainan para penghuni Menara Gading, kalau lihat begituan jangan baper, sudah biasa, selalu ada PHP, permainan isu, permainan uang dan lain sebagainya. Terus Kalian masih baper, buang-buang energi, Lur. Dunia masih berputar.

Politik itu selalu dibilang seni berkemungkinan, ruang ekspresinya sangat luas dan terkadang tidak punya batasan yang jelas dan tegas. Aturan main politik sebenarnya adalah etika, tetapi karena etika setiap orang itu berbeda-beda, jadi ya tidak jelas. Terus kalau undang-undang pemilu aturannya apa? Ya jelas itu aturan permainan politik dalam proses pemilu. Sayangnya, politik tidak hanya soal pemilu, tidak hanya tiap lima tahun sekali.

Politik itu seperti hujan, bisa datang kapan pun walau sedang musim kemarau. Setiap langkah kita sebenarnya terikat konsekuensi politik. Ya jelas kita sebagai warga negara terkait dengan politik secara nilai bukan melulu proses elektoral. Anda semua pernah melihat atau membaca sekelompok orang dilarang oleh negara, untuk melakukan aktivitas religiusnya? Saya yakin Anda pernah melihat & membaca, itu adalah salah satu efek dari keputusan politik yang diambil dengan berbagai macam alasan bagi pengambil keputusan.

Ini contoh kecil bahwa politik adalah salah satu hal yang terikat pada kita, bahkan sampai kita mati nanti; bagaimana jenazah teroris ditolak warga sekitar lokasi makam. Itu adalah pernyataan sikap politik warga untuk melawan teroris, dengan menolak dimakamkan di lingkungannya. Banyak sikap warga dalam mengekspresikan political statement-nya ini.

Para millennials & gen Z juga memiliki cara sendiri dengan mengekpresikan pilihan politiknya, seperti pawang hujan yang memiliki berbagai macam metode dalam melakukan ritual menghambat hujan sesuai dengan permintaan pelanggannya. Begitu banyak jalur yang dapat digunakan mulai dengan media sosial, gerakan suka relawan hingga bergabung dengan partai politik. Akhir-akhir ini, yang menjadi senjata utama untuk mengekspresikan political statement adalah  media sosial.

Media sosial adalah medan perang baru bagi para cheerleader politik. Tujuannya selain membangun opini, juga untuk menarik simpati pemilih muda. Walaupun secara statistik kemungkinan keberhasilan penggunaan media sosial juga tidak bisa diukur. Alasannya jelas karena satu orang bisa memiliki dua sampai empat akun media sosial. Untuk itu, penggunaan media sosial hanya untuk pengenalan semata dan selanjutnya harus serangan darat.

Itulah kenapa framing yang dilakukan di media sosial sering kali jauh dari kenyataan di dunia realitas, karena perhitungan massa yang sebenarnya ada di masyarakat bukan di netijen. Alasan ini kenapa survei tidak dilakukan melalui media sosial. Faktor kesalahannya sangat besar, di media sosial cukup menggunakan polling saja. Jadi, calon-calon yang menang polling jangan senang dulu, itu semua ghaib.

Para pebisnis millennial ini menggunakan buzzer di bisnis yang basis promosinya menggunakan media sosial. Fenomena buzzer juga terjadi di politik, jadinya time line media sosial kita kalau nggak hoax ya penghinan salah satu pasangan calon. Ini yang berbahaya. Para pemilih muda belum semuanya terdidik soal politik, sehingga menganggap hal-hal yang bertebaran di media sosial semua sebagai kebenaran.

Jika hal-hal seperti ini terus dilakukan para pemilih muda di pemilu-pemilu, mendatang, akan membuat friksi politik jadi friksi sosial dan selanjutnya yang terjadi adalah dis-integrasi bangsa. Kondisi ini juga menjadikan para pemilih muda sebagai komoditi politik, yang harus memilih berdasarkan kesamaan secara lahiriah. Walaupun begitu, pilihan terhadap kesamaan lahiriah tetap masuk akal dan tetap dibolehkan. Tapi, jika tidak memiliki track record, program yang jelas, seringkali akan berbalik memakan pemilihnya yang memiliki identitas yang sama.

Di sinilah peran pemilih muda yang terdidik untuk mengedukasi teman sebayanya untuk peduli dan memilih orang berdasarkan pilihan-pilihan yang terbaik. Terkadang intimidasi politik juga terjadi di para pemilih muda. Jika ada salah satu keluarga atau teman yang juga ikut dalam konstentasi politik ini. Salah satu contohnya adanya kerenggangan hubungan personal yang disertai dengan bully-an verbal, yang berujung baku hantam.

Pemilih muda juga sangat dekat dengan fenomena golput, gerakan yang dipopulerkan pada era Orde Baru berkuasa ini, menjadi salah satu cara masyarakat untuk protes dengan tidak datang ke TPS. Gerakan golput selalu mengintai KPU sebagai penyelenggara pemilu, karena partisipasi pemilih menjadi salah satu indikator keberhasilan KPU. Golput juga didasarkan pada tidak adanya calon yang bisa mengakomodir kepentingan-kepentingan masyarakat khususnya pemuda.

Ingat youth power adalah keniscayaan. Pemilu 2019 ini akan banyak anak muda yang turun ke politik. Walau belum bisa dipastikan apakah mereka akan menjadi faktor pengungkit perubahan atau justru melanggengkan praktik politik dagang sapi. Tapi kedatangan mereka ke dunia abu-abu ini, saya yakin salah satu niatnya adalah untuk regenerasi politik yang lebih baik.

TINGGALKAN KOMENTAR