Kapan Renovasi Kios-kios di Pasar Sebo Selesai
Pasar sebo tampak depan | Foto: Roin J. Vahrudin

Awal akhir trisemester tahun kemarin, tak kurang dari 4 pedagang yang memiliki kios di Pasar Sebo, Watulimo, kegirangan karena tempatnya berjualan dibangun ulang oleh pemerintah Kabupaten Trenggalek. Harapan untuk memiliki tempat berjualan yang lebih baik dalam infrastruktur dan tampilan, akhirnya akan segera terealisasi.

Kios yang dibangun ulang oleh pemerintah Kabupaten Trenggalek tepatnya berada di bagian sebelah timur, menghadap jalan. Jadi, kios-kios tersebut adalah wajah Pasar Sebo. Banyak warga Pasar Sebo mengamini pembangunan tersebut, karena menurut mereka, dengan bangunan kios yang dibangun ulang, secara otomatis tampilan pasar pun juga ikut berubah, lebih “manis” dan bersih. Masak iya, pasar daerah kalah dengan pasar desa, begitu kata mereka.

Saya sempat berbincang dengan penanggung jawab lapangan pembangunan ulang kios di Pasar Sebo. Proses pembangunan baru di tahap pengukuran lokasi ketika saya tanya padanya, berapa lama proses pembangunan ini berjalan, dan kapan bangunan tersebut bisa digunakan oleh para pedagang? Jawabannya sekitar sebulan sampai dua bulan, setelah itu bisa langsung dipakai. Berarti, akhir tahun 2017 pasar Sebo sudah memiliki wajah baru yang “kinyis-kinyis” pikir saya.

Dengan proses pembangunan yang ngebut, akhirnya bangunan-bangunan tersebut sudah berdiri meskipun belum semuanya tersentuh finishing. Kira-kira satu setengah bulan barulah terlihat bahwa bangunan sudah siap pakai. Namun, setelah beberapa hari, ada lagi pekerja yang kembali karena ada keluhan dari pihak pengelola Pasar Sebo bahwa terdapat kekurang-sempurnaan pembangunan di beberapa titik. Pihak pengelola pasar menghendaki untuk disempurnakan.

Sampai sekarang, warga Pasar Sebo, khususnya para pedagang yang berhak untuk menempati kios-kios tersebut masih bertanya-tanya, kapan kios-kios tersebut bisa ditempati. Mungkin akan mudah terucap bagi pemerintah yang mengurusi hal tersebut untuk mengatakan bahwa ada prosedur-prosedur yang harus dilalui. Mereka, saya yakin juga mengikuti saja prosedur yang harus dilalui, meskipun itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar tanpa ada usaha-usaha untuk mempercepatnya.

Ada kemungkinan menurut saya: pertama, mereka memang patuh mengikuti aturan tanpa ada inisiatif dan greget agar pekerjaan dan tugas-tugasnya selesai lebih cepat. Kepatuhan terhadap aturan—dalam hal kesejahteraan masyarakat—memang hal yang baik, tetapi jika patuh tunduk tanpa mampu melihat bahwa memenuhi kebutuhan hajat orang banyak adalah lebih baik, maka saya rasa kepatuhan tersebut adalah kepatuhan yang buta juga.

Kedua, semoga apa yang saya sangkakan adalah salah, bahwa beliau-beliau yang menentukan itu semua tidak begitu memikirkan dan peduli dengan para pedagang calon penghuni kios-kios mangkrak itu. Sebab mereka sehari-harinya tak pernah memikirkan bagaimana jualannya; laku berapa; untung berapa; bagaimana biaya hidupnya. Beliau-beliau tanpa memikirkan semuanya sudah terjamin tiap bulannya.

***

Petugas penarik retribusi pasar kebetulan adalah kawan saya juga. Pernah saya bertanya kepadanya kenapa kios-kios mangkrak itu belum ditempati oleh yang berhak. Jawabnya adalah selain urusan birokrasi, juga menunggu serah terima dari pejabat di atas kepada pengelola pasar. Saya tak menjawabnya, cuma geleng-geleng kepala sambil nyruput kopi.

Tak banyak dari pedagang yang berjualan di Pasar Sebo memiliki sumber penghasilan lain. Jika sudah selama ini mereka belum bisa berjualan di kios-kios yang seharusnya mereka tempati, saya rasa mereka telah didzolimi oleh pemerintah. Patuh pada peraturan ataupun prosedur yang telah ada seharusnya semata bukan alasan untuk tidak segera mengesahkan kios-kios tersebut ditempati oleh para pedagang yang berjuang untuk diri dan keluarga mereka. Kepatuhan pemerintah seharusnya menjadikan rakyat adalah “juragan” mereka.

***

Ketika Rin tertangkap musuh, Kakashi patuh tunduk pada prosedur untuk terus menjalankan misi dengan mengacuhkan Rin, sebab baginya sudah tugas Rin untuk ditangkap musuh dan menjadi korban. Obito yang tidak terima dengan sikap Kakashi harus berdebat dan berkelahi dengannya. Pada akhirnya Obito memilih untuk meninggalkan Kakashi dan menolong Rin.

Bagi kalian yang pernah mengikuti serial Naruto pasti tahu cuplikan dari adegan tadi. Adegan di mana Kakashi remaja begitu terobsesi dengan misi yang penuh dengan aturan dan prosedur namun melupakan sisi kemanusiaan. Bertolak belakang dengan Kakashi, Obito adalah seorang yang tak mau patuh dan tunduk begitu saja pada prosedur jika terjadi hal-hal yang menyangkut kemanusiaan, saat menjalankan misi. Dia akan sedikit keluar dari jalur prosedur (out of the box) yang ada demi menjalankan tindakan kemanusiaan.

Meskipun berbeda pendapat, pada akhirnya mereka kembali bersatu menjalankan misi di bawah bimbingan guru mereka, yang tak lain adalah ayah dari Naruto.

Salam Lestari!

TINGGALKAN KOMENTAR