Dilarang berak di sungai

Trenggalek merupakan daerah dengan mayoritas wilayah di pegunungan dan perbukitan. Hampir di setiap kecamatan yang ada, terdapat daratan dengan karakter wilayah begitu. Tidak sedikit wilayah yang didominasi gunung dan lembah, seperti Bendungan, Munjungan, Panggul, Dongko, dan Watulimo.

Faktor ini menjadikan sebagian warga dimanjakan oleh alam, termasuk dalam membuang fases/tinja. Berdasarkan pendataan kepemilikan WC peserta Program Keluarga Harapan (PKH) di daerah Bendungan misalnya, masih banyak penduduk yang tidak mempunyai WC. Kebanyakan mereka membuang hajat di sungai, ladang, dan kawasan terbuka lain.

Kalaupun ada warga yang mempunyai WC, kebanyakan juga masih jamban model cemplung atau cubluk. Jamban model tersebut masih memungkinkan terjadinya kontak antara septic tank (di Trenggalek biasa disebut sepiteng) dengan manusia pengguna jamban. Sehingga masih bisa menyebarkan kuman. Saya yakin, hal ini juga terjadi di tempat-tempat lain di daerah pegunungan.

Kondisi lingkungan yang sepi, banyak gerumbulan dan rerimbunan, membuat mereka enggan membangun jamban yang sehat, tapi malah menjadikan tempat-tempat terbuka sebagai pembuang kotoran. Jamban yang sehat di sini, salah satunya adalah jamban yang berbentuk leher angsa, sehingga tidak akan terjadi kontak langsung antara kotoran dengan manusia. Menurut standar Depkes RI (1985), jamban sehat harus memenuhi kriteria berikut: tidak mencemari sumber air minum, tidak berbau, air seni dan air penggelontor kotoran tidak mencemari tanah, mudah dibersihkan, dilengkapi dinding dan atap pelindung, lantai kedap air, ventilasi cukup baik, tersedianya air dan alat pembersih. Jamban cubluk yang hanya dikelilingi pagar alam tentu jauh dari kriteria jamban sehat di atas.

Kendala lain yang menyebabkan terbatasnya ketersediaan jamban adalah aliran air yang tidak stabil. Hampir semua warga pegunungan mengandalkan sumber air dari pipa atau selang yang disalurkan dari hulu atau sumber air di wilayah yang lebih tinggi. Di saat kemarau, kadang aliran tersebut kecil dan bisa mengering. Namun demikian, memiliki jamban keluarga yang sehat tetap menjadi idaman: hal penting dalam kehidupan.

Di sisi lain, warga masih belum paham akan bahaya membuang fases (kotoran manusia) di sungai. Fases yang ikut aliran sungai akan mencemari air hingga terbawa di daerah-daerah bawahnya (hilir). Fases manusia akan menyebabkan sakit diare juga dehidrasi. Tubuh yang mengalami dehidrasi sistem kekebalannya juga akan menurun hingga mudah terserang penyakit.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika musim kemarau, saat aliran sungai begitu kecil. Fases akan menempel di tepi-tepi sungai kemudian dihinggapi serangga. Dengan demikian penyebaran penyakit akan lebih meluas dan leluasa.

Sudah saatnya masyarakat memiliki kesadaran dalam perilaku membuang air besar, mengingat membuang air besar pada tempat yang tidak semestinya akan menimbulkan masalah dan bahaya kesehatan manusia sendiri. Kesadaran pentingnya jamban sehat dapat didorong dengan adanya sosialisasi dari pemerintah juga masyarakat pada umumnya di wilayah-wilayah yang rentan akan kebiasaan membuang kotoran tinja di tempat terbuka. Pemerintah misalya bisa juga membangun toilet umum di pos-pos yang dapat dijangkau oleh masyarakat dan rumah tangga yang belum sanggup menyediakan jamban sendiri.

  • Trigus D. Susilo

    Malah di kampungku lebih mainstream lagi. Ada pasangan keluarga yang mempunyai 3 orang anak, anak-anaknya sudah mempunyai anak lagi. Jadi pasangan ini sudah mempunyai cucu. Sialnya, semua anggota keluarga ngiseng di sungai. Meskipun ada jamban dirumahnya, tapi apabila disiram air, kotorannya langsung jatuh ke sungai. Ngenes pokoknya