Monday
18 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Trenggalek Saat Musim Bediding

Tarik selimut bukan sekadar menjadi ikon lagu penyanyi fenomenal Zaskia Gotik, namun menjadi aktivitas yang digemari masyarakat Trenggalek sejak bulan…

Sebuah Esai dari Desi Utami terbit pada 3 Juli 2019 — Tag: , , , , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Tarik selimut bukan sekadar menjadi ikon lagu penyanyi fenomenal Zaskia Gotik, namun menjadi aktivitas yang digemari masyarakat Trenggalek sejak bulan Juni lalu. Pasalnya bulan Juni-Juli terasa lebih beku dari bulan sebelumnya. Sehingga masyarakat lebih gemar tarik selimut, buru-buru merapatkan jaket, atau api-api dan aktivitas anget-angetan lain yang bisa menghalau tubuh dari udara dingin.

Awal bulan Juni atau lebih tepatnya pertengahan tahun antara bulan Juni hingga Agustus menandai awal dari pergantian musim hujan ke musim kemarau. Orang Jawa lebih akrab dengan istilah bediding.

Bediding ditandai dengan suhu udara menjadi dingin mencolok menjelang malam hingga pagi. Ketika siang pun matahari menjadi lebih terasa menyengat. Hal ini disebabkan matahari berada di posisi terjauh, yaitu posisi di sebelah utara garis khatulistiwa. Akan tetapi di siang hari, kadang masih menyisakan semilir hawa dingin ketika kita diterpa hembusan angin.

Bediding terjadi di sebagian wilayah Indonesia khususnya wilayah Jawa, Bali, NTT dan NTB. Di Trenggalek sendiri dalam suhu 22°C terasa lebih dingin, apalagi mereka yang berada di kaki gunung. Sementara di Dieng udara dingin sampai membuat embun beku dengan kisaran suhu kurang lebih -4°C. Tentu sangat mempengaruhi produktivitas pangan di wilayah tersebut, meskipun tidak signifikan. Tetapi aspek lain juga meningkat, misalnya wisata.

Di samping suhu udara yang semakin dingin, pasokan air semakin menurun. Sebagaimana yang dijelaskan di laman wikipedia bahwa hampir tidak ada awan di malam hari. Radiasi matahari yang diserap bumi saat siang akan kembali ke atas tanpa dihalangi awan sehingga suhu menjadi dingin. Air pun tidak terserap baik ke dalam tanah sehingga kualitas air menurun bersamaan dengan rendahnya suhu air.

Oleh sebab itu, sungai-sungai banyak mengalami kekeringan. Sepanjang perjalanan saya dari Prambon ke Trenggalek bagian kota saja, ada sebagian sungai yang salah satunya dialihfungsikan sebagai lahan cocok tanam bagi warga. Tanaman itu bisa berupa sayuran kacang panjang, ubi jalar dan sebagainya. Sungguh mencipta peluang yang baik.

Di samping itu, bertambah pula frekuensi penambang pasir. Seperti kondisi sungai di bawah jembatan Nglongsor misalnya. Berlalu-lalang truk pengangkut pasir. Mengenai izin legalitasnya saya sendiri kurang paham. Setidaknya, para penambang pasir harus lebih memperhatikan fungsi utama keberadaan sungai daripada nilai komoditasnya.

Mengenai kesehatan, hati-hati bagi yang memiliki tubuh yang rentan terhadap hawa dingin. Saya tidak manyarankan kalian untuk mandi di pagi buta. Meskipun sebenarnya keberadaan air dingin ini baik bagi tubuh. Dikutip dari laman hellosehat.com, ternyata mandi air dingin dapat bermanfaat bagi kesehatan, di antaranya dapat meningkatkan kewaspadaan, menghaluskan rambut dan kulit, meningkatkan kekebalan tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Selain itu juga dapat menurunkan berat badan, mempercepat pemulihan nyeri otot/pegal linu dan meringankan stres dan depresi.

Nah, bagi yang memiliki kondisi tubuh rentan, sensasi kejutan yang dihasilkan dari air dingin ini dapat menyebabkan efek sebaliknya, misal seperti lansia atau yang memiliki kondisi jantung lemah. Sensasi kejutan akibat guyuran mandi air dingin mungkin dapat menyebabkan pingsan atau mengalami serangan jantung yang bisa berakibat fatal. Maka berhati-hatilah, perhatikan kondisi tubuh kalian.

Lain dengan lansia, bagi remaja menjadi kabar baik bagi yang peduli terhadap penampilan. Suhu dingin ini mampu dijadikan facial wajah alami. Di antaranya dapat merapatkan pori-pori wajah sehingga kulit terasa lebih kencang dan terkesan lembut serta tidak mudah berjerawat. Sebuah solusi sehat bagi kantong kering. Hahaha.

Biasanya kalau sudah identik dengan yang dingin-dingin, maka kita sering absen minum air. Nah, hati-hati ketika tubuh kita kekurangan cairan maka akan dehidrasi, cepat lelah, kulit menjadi kering dan lebih bahayanya akan berpengaruh pada sistem ginjal. Maka penuhi kebutuhan tubuh dengan minum air yang cukup. Itu juga akan membantu kita menjaga kestabilan tubuh agar tidak rentan penyakit.

Bagi penyuka hawa dingin, musim bediding ini menjadi alternatif untuk lebih berhemat dalam pemakaian bantuan udara dingin dan tentunya berasa sedang wisata gratis  ke puncak. Momen-momen seperti ini memang menjadi incaran para travel-agent untuk wisata pendakian. Di Trenggalek banyak alternatif dan pilihan untuk mengabadikan momen hawa dingin di puncak seperti di Tumpak Esis yang berlokasi di Gamping, Kecamatan Suruh, kemudian puncak Argolawe di Kecamatan Pule dan Gunung Jaas yang dapat menambah referensi travelling-mu dan masih banyak lagi.

Tapi lain di kamu, lain cerita di saya. Bediding ini menjadi situasi yang paling  awkward, saya lebih suka menyingkat waktu mandi saya dan lebih suka membuat sabun di kamar mandi jadi lebih awet dari biasanya. Jadi bisa dikatakan, emak tidak usah bolak-balik ke toko demi membeli sabun mandi. Hahaha.

Itu cuma alasan klasik. Tidak usah dipedulikan. Atau bisa juga berlama-lama di depan perapian kalau orang Sunda mah menyebutnya siduru yaitu aktivitas menghangatkan tubuh di depan tungku api. Nah, bagi yang sudah dianugerahi pendamping. Berbahagialah. Ciptakan suasana hangat. Sehangat seduhan kopi di pagi hari. Bagi yang masih sendirian, begitu terasa ngoyak awak. Kemlingking. Hahaha.

Esai ini adalah tulisan dari salah satu peserta workshop literasi berbasis komunitas baca yang diselenggarakan pada 23-24 Juni 2019 oleh nggalek.co bekerja sama dengan LP2M UIN Maliki, Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR