suasana-desa-menjelang-surup

Mulanya bumi gelap. Ia bercahaya karena berkah siang hari: ketika matahari terbit dari timur sampai waktu tenggelamnya. Bumi sekitar kita lalu digelapkan oleh malam hari, beruntung ada sinar bintang yang redup di atas sana, atau ketika bulan kebetulan sedang purnama (padang mbulan). Dua sumber cahaya yang tak sering-sering muncul (sebab ketaatan pada garis edarnya), membuat penghuni bumi aktif mengkreasi penerangan atau pencahayaan untuk dirinya sendiri. Di desa-desa, penerangan dipendarkan dari ublik/dimar dan oncor, jauh sebelum lilin dipasarkan. Dimar dibuat sebagai penerang memanfaatkan kaleng atau botol bekas dengan disumbui oleh sejenis kain usang, dipanjer menggunakan minyak tanah yang diwadahi kaleng atau botol tersebut. Sementara oncor adalah potongan ruas-ruas bambu, lalu ujung lubangnya dialiri minyak tanah sebelum kemudian disumpal serabut, bekas kupasan kelapa kering. Dua di antara alat penerangan sederhana ini buah tangan orang-orang desa, di zaman ketika listrik belum masuk ke sana.

Di desa-desa atau kampung-kampung kita, setelah mesin diesel—bagaimana orang menamai mesin tersebut berdasarkan merek atau nama penemunya—mulai dikenal, malam hari memperoleh cahaya penerangan dari mesin yang dibahan-bakari solar itu. Dinyalakan saat tiba malam hari dari Maghrib hingga saat tengah malam. Tapi, rasanya dahulu lumayan lama durasi sepanjang sekira lima atau enam jam tersebut. Ada satu atau dua televisi menyala di satu dusun. Seolah sebuah dusun adalah tempat yang baru terbentuk bila malam tiba, oleh kumpulan orang menonton televisi. Para tetangga berkumpul menonton bersama, di salah satu rumah, atau pada salah satu ruang tamunya, secara khidmat seperti jamaah tengah menggelar doa bersama. Menonton acara sehabis Isyak hingga listrik dijadwalkan padam. Listrik dari mesin diesel, seingat saya, akan menyala semalam penuh (hingga pagi hari), hanya ketika datang malam hari raya.

Di desa-desa seperti itu, suara jangkrik dan jenis serangga lain, berlomba saling bersahutan memeriahkan malam hari. Menimbulkan suara wingit khas pedesaan di lembah, dekat gunung dan bukit. Seolah di malam hari, gelap menyajikan dunianya sendiri yang nikmat dan asyik, dengan penerangan seadanya. Untuk membedakannya dengan siang, yang juga punya dunia sendiri: baik bagi mata maupun perasaan (anak-anak) saat itu. Radio diputar menyajikan suara uyon-uyon yang disukai orang tua, tapi anak-anak dan remaja lebih memilih tidur. Kalau terpaksa mendengarkan, mereka lebih menikmati gelombang lain yang menyajikan, di antaranya, sandiwara. Mendengarkan sandiwara radio, pada jam-jam tertentu, sebagaimana ibu-ibu kini keranjingan menonton sinetron. Sementara uyon-uyon, tetap bisa didengarkan dengan khidmat oleh para remaja, meski sebagian yang lain barangkali tetap tak suka. Malam hari, mengantarkan anak-anak tidur bersama suasana yang telah terbangun dengan sendirinya: dari frekuensi radio, juga suara yang dikeluarkan hewan-hewan dari luar sana.

Sudah sangat lama saya tidak lagi mendengar bunyi jangkrik di malam hari. Bunyi burung hantu di tengah malam. Juga bunyi garengpung (atau tonggeret) di siang dan sore hari, pada rimbunan pohon, di ladang-ladang juga pinggir kebun (hutan). Suara garengpung itu suara khas yang bisa ditemui di berbagai tempat di seluruh hutan di Trenggalek barangkali. Ia bisa ditemui di pada rimbunan pohon serta rimbunan yang lain. Suaranya dikeluarkan dari getaran, tepatnya dari tubuhnya sendiri, yang dipukulkan atau ditekan ke dahan-dahan pohon. Garengpung adalah serangga dari jenis arthropoda, yang bersuara nyaring hingga bisa terdengar dari jarak sekian meter. Bentuknya nyaris menyerupai lalat tapi lebih besar. Binatang ini semacam hewan yang menyajikan suara bagaikan alunan simfoni hutan tropis. Kau tahu, di desa-desa hewan-hewan di malam dan siang hari seperti punya waktu dan jamnya sendiri-sendiri untuk berbunyi. Kadang cukup dijedai oleh hembusan udara atau bunyi dahan dan ranting yang patah dipukul angin.

Pada saat musim hujan, ketika dahulu masih banyak jumblengan, sesudah hujan mereda dan tinggal teletik: peceren yang dipenuhi air, di samping rumah atau di mburitan (belakang rumah)—yang biasanya tempat mekar aneka tumbuhan seperti lumbu, ketela, dan jenis tumbuhan lain—katak-katak mengeluarkan bunyi khasnya, saling sahut dari jumblengan ke jumblengan. Dan, ketika musim hujan itu awet nerecih, suara katak pun seperti terus menyambutnya: turut mengawetkan suasana. Suara katak semakin meriah berpadu, memantul-mantul dan menggemakan diri ke seluruh sudut dan penjuru, seperti memang sudah berniat menghadirkan simfoni untuk malam hari.

Selain garengpung dan katak, jangkriklah yang lebih punya andil memeriahkan malam hari. Berbeda dengan garengpung yang hanya memeriahkan siang hari, jangkrik punya bagian, bahkan untuk meritmiskan suasana di malam hari. Tubuh jangkrik mirip dengan belalang, barangkali mereka memang berkeluarga. Suara jangkrik khas, sehingga dari kekhasan suaranya itulah binatang ini kemudian dinamai dari bunyi yang dikeluarkannya (anomatope): krik..krik.. krik… Suara binatang ini dihasilkan dari sayapnya yang bergesekan atau digesekkan sebagaimana biola menghasilkan suara dari model serupa. Selain banyak jenis, spesies dari keluarga jangrik yang unik lagi adalah gangsir. Tapi binatang yang satu ini biasanya berumah di kedalaman tanah (ngerong). Jangkrik hidup di balik bongkahan-bongkahan atau lubang-lubang di permukaan tanah: di bongkahan batu, ilalang juga rerumputan, mengingat bahwa hewan ini juga pemakan rumput dan dedaunan yang tumbuh di permukaan.

Sementara gangsir ia tipe serangga penggali hingga mencapai kedalaman dengan ukuran meter. Sehingga kalau mau memburunya, kita harus mencangkuli tanah dengan panduan lubang tempat gangsir berumah. Lebih mudah karena lubang-lubang gangsir ditandai oleh permukaan yang berpola dari hasil gangsirannya. Gangsiran tanah itu didorong sendiri keluar dari dalam. Saat mengamati lubang-lubang yang dibuat, betapa sungguh keras dan berat kerja membuat sarang yang dilakukannya. Bagaimana tidak? Ia harus melubangi tanah sedalam itu, hanya dengan kaki dan mulutnya, lalu secara bolak-balik mendorong galian tanah dari bawah ke permukaan. Barangkali kerja gangsir ini pula yang kelak mengilhami manusia membuat terowongan bawah tanah…

Jangkrik dan gangsir adalah binatang yang masih satu kelurga dengan belalang, sebagai sesama serangga ber-antena. Jangkrik sendiri punya dua warna, hitam yang biasa disebut jeliteng, dan agak kemerah-merahan yang dinamai jerabang. Serangga ini mengelurkan suara hanya dari jenisnya yang jantan. Karena kalau kita amati, pada permukaan sayap punya tekstur bergelombang, sementara pada sayap jangkrik betina bertekstur halus. Garengpung punya fungsi menandai pergantian musim. Bukankah ia berbunyi ketika akhir musim penghujan dan hendak memasuki kemarau. Binatang lain dari jenis belalang, yakni walang kerek, juga membunyikan diri dengan menggeleparkan sayap. Bayangkan andai tetek iyek (capung) juga semut-semut ikut berbunyi?

Selain jangkrik, gangsir, katak, masih ada lagi binatang yang entah bernama apa, dari berbagai jenis serangga, berbunyi saat malam hari. Suara mereka di antara pelan dan keras, memantul-mantul, tersendat. Binatang-binatang ini bunyinya terdengar dari lipatan-lipatan semak, di atas dan bawah pohonan. Dengar-dengar terdapat ular yang juga membunyikan diri. Dari informasi yang saya dapat, ular yang ”mengerik” ini dari jenis bandotan. Dari informasi yang saya gali lagi, ular ini memang masih keluarga (segaris) dengan ular derik: sesama viperidae. Dan sebagian besar mereka adalah jenis ular berbisa. Selebihnya, juga benar tidaknya, saya kurang begitu tahu…

Selain di malam hari desa banyak dilimpahi bunyi-bunyian dari berbagai rupa binatang, termasuk dari jenis-jenis serangga. Dari pagi hingga siang hari, desa akan lebih banyak dimeriahkan oleh bunyi kicau burung. Dari sejumlah nama burung, telinga kita segera akrab dengan suara kutilang, emprit, pleci, cucak, cemblek (prenjak), juga burung cito/sirtu, yang sering berseliweran di dahan-dahan dan ranting-ranting pohonan yang kebetulan berada di sekitar rumah. Selain burung kutilang, kebun-kebun jauh di timur rumah sana, juga kerap dimeriahkan oleh suara burung cendet. Adapun di samping dan belakang rumah, sudah biasa oleh kemeriahan suara kokok ayam yang dipadu dengan bunyi embikan kambing juga lenguhan sapi atau kerbau. Kini, kerinduan untuk mendengarkan suara-suara hewan itu kembali, cukup dilunaskan dengan men-download-nya dari Youtube atau via saluran-saluran Mp3.

Sedari pagi hingga malam hari, desa memang dimeriahkan oleh berbagai suara binatang dan alam yang saling bersahutan. Dari jumblengan ke jumblengan, dari lubang ke lubang, dari dahan ke dahan, dan dari semak satu ke semak lain. Menandakan sebuah desa alami lagi damai. Saya tidak tahu apakah di pelosok-pelosok desa di Trengggalek atau di desa-desa Kalian, ketika pagi hingga malam tiba, masih bisa kita temui riuh bunyian-bunyian itu: suara alam yang bertaut dengan bunyi-bunyi hewan; bersahutan saling meningkahi dengan berbagai spesies yang berlain-lain jenis.

Suara-suara itu mengingatkan kita akan kehidupan desa, dan di antaranya membangkitkan kenangan masa kecil. Mengingatkan akan rasa takut tidur sendirian (karena bunyi burung hantu/kokok beluk). Mengingatkan akan suara menyenangkan dari persentuhan sayap jangkrik, juga suara yang dihasilkan burung-burung di sekitar rumah. Suara-suara yang semuanya, dihasilkan oleh hewan-hewan yang hanya dapat kita temui di pelosok-pelosok desa tropis. Dan, ketika suara-suara tersebut pelan-pelan tiada, menunjukkan ada gejala yang tidak beres dengan lingkungan kita: barangkali hewan-hewan itu sebagian punah, di antaranya, di samping perburuan liar juga oleh perubahan lingkungan sekitar.

BERBAGI
Artikel sebelumyaKomunitas Restorasi Sungai Trenggalek
Artikel berikutnyaPutu
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).