Pagar bukan hanya sebagai simbol keindahan dan keamanan, melainkan juga mempelajari karakter, kultur, interaksi, tradisi dan laku hidup manusia.
Pagar bukan hanya sebagai simbol keindahan dan keamanan, melainkan juga mempelajari karakter, kultur, interaksi, tradisi dan laku hidup manusia.

Bagi sebagian orang, pagar menjadi sesuatu yang penting untuk hunian. Selain sebagai pembatas, pagar juga berfungsi untuk keamanan. Seiring perkembangan zaman, pagar (rumah) menjadi elemen penting pendukung keindahan sebuah rumah. Karena itu, ada berbagai model pagar yang saat ini terus menjamur. Perkembangan lain, material pagar yang dulu menggunakan kayu ataupun bambu, digantikan dengan besi dalam berbagai bentuk dan ukuran (Jawa Pos, 14 September 2016). Pagar merupakan simbol keindahan dan keamanan. Tetapi lebih dari itu, pagar bukan sekadar simbol keamanan dan keindahan, tetapi juga memiliki peran kultural bagi manusia dalam kehidupan.

Semula pagar merupakan sebuah batas.  Dari perkembangan zaman, pagar menjadi kontruksi penting dalam melindungi, memberi keamanan serta penunjang keindahan rumah. Saat saya kecil, pagar memiliki ukuran sepinggang dan terbuat dari bata merah bersemen, dan juga ada yang memanfaatkan tanaman. Fungsi utama “pagar (dari) tanaman” adalah sebagai pembatas antara tanah milik satu orang dengan yang lainnya. Tentunya pagar dibentuk dan ditata rapi. Pagar yang menggunakan tanaman di-gapit  dan diikat dengan kayu atau bambu. Sehingga tumbuhan tidak tinggi dan tak menghalangi pandangan. Yang lebih penting adalah interaksi antarsesama bisa terjaga. Penghuni rumah satu dengan yang lain bisa saling tegur sapa. Pendeknya, mereka tidak enggan silaturahim atau sanja.

Membangun ruang bernama “pagar” tak bisa lepas dari sebuah perkampungan bernama Trenggalek. Pada masa pemerintahan Soetran, sebagaimana ditulis Misbahus Surur dalam esai Tiga Tokoh Hebat yang Mengubah Kota Trenggalek, “pagarisasi” atau “tembokisasi” merupakan salah satu program Bapak Pembangunan Trenggalek itu. Selain “tembokisasi” atau “pagarisasi” juga ada banyak program yang dapat kita rasakan dampaknya hingga saat ini. Di antaranya, program turinisasi, pengenalan tanaman cengkih ke seluruh wilayah Trenggalek, membuka jalur antarkecamatan, hingga proyek pembuatan dan penyudetan sungai, demikian dari tulisan Misbahus Surur. Soetran memimpin Trenggalek pada masa (1968-1974). Selama memimpin, ia mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari seluruh rakyat Trenggalek. Sehingga program yang digelorakan pun dapat terealisasi dengan maksimal.

Trenggalek pada masa kepemimpinan Bupati Soetran, masih bisa dibilang ndesa dan tertinggal. Secara ekonomi, kemiskinan dan kemelaratan terjadi di mana-mana. Misbahus Surur merekam peristiwa itu dalam narasi yang saya cuplik berikut, “Kantor-kantor pemerintahan, kantor kodim, masih menggunakan rumah reyot dan gubug. Termasuk di sini rumah kediaman bupati dan komandan kodim. Kalau kantor dan perumahan pejabat utama kabupaten saja gambarannya semacam itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi kantor-kantor pemerintahan lainnya. Termasuk eksolom terbawah, seperti kelurahan, pendukuhan dan perumahan rakyat.” Keadaan seperti itu jauh dari perkampungan atau wilayah yang layak. Tetapi ruang interaksi sosial antarsesama kentara tampak dari semangat membangun Trenggalek yang tinggi.

Membaca tulisan Surur, saya menyimpulkan bahwa program “tembokisasi” atau “pagarisasi” yang disuarakan Bupati Soetran, menyelipkan semangat pembangunan dari warga Trenggalek sendiri. Ruang interaksi sosial pun juga ikut tercipta. Masyarakat memilik rasa saling percaya, saling mendukung dan saling membantu. Semua berkeinginan membangun kampung-kampung di Trenggalek. Lantas, mereka berlomba-lomba membangun tembok atau pagar depan masing-masing rumah. Pembuatan pagar pun meluas hingga pembuatan gapura.

Jika dilihat semangat membangun, interaksi sosial dan sikap gotong-royong yang tinggi, bisa dipastikan pada saat itu, di Kabupaten Trenggalek belum ada bangunan tembok atau pagar berdiri. Kita mafhum, peradaban kota dibangun dari tembok-tembok (atau pagar). Ada yang berdiri angkuh semisal di China, atau yang sudah runtuh remuk seperti di Jerman. Sementara di Indonesia, di masa kuno, kemunculan tembok menandai berdirinya kerajaan. Tembok (atau pagar) menjadi penentu status dan kekuasaan: kaum ningrat bertempat di sisi dalam tembok dan rakyat jelata di sisi luar. Setelah modernisasi menggejala, pagar atau tembok bertransformasi sedemikian rupa. Gedung fasilitas umum, tempat ibadah, sampai rumah-rumah pun bertembok dan berpagar tinggi.

Kata  pagar juga memasuki ranah politik. Ada pagar-pagar yang harus dirobohkan atau dijebol. Ada yang harus dibangun. Gelora jiwa Bung Karno, pemimpin besar revolusi Indonesia, pernah mengomandokan semangat menjebol, merombak dan membangun. Almarhum Gus Dur juga gigih merobohkan pagar-pagar penyekat yang menghalangi kelancaran komunikasi sosial di antara berbagai kelompok masyarakat. Di situ, pagar punya makna tidak hanya bangunan fisik tetapi juga watak. Di dunia maya, baik Facebook maupun Twitter ada simbol bagar berupa # (hastag), yang merupakan aksi dari perwujudan dukungan dan simpati.

Amati pagar atau tembok rumah orang sekarang! Pagar bergaya modern berbeda dengan pagar konservatif milik orang dahulu. Pagar modern terkadang dibangun lebih tinggi dari rumah itu sendiri. Sekarang pagar juga ditambahi satpam dan anjing herder. Sebenarnya, yang lebih penting adalah meningkatkan kewaspadaan dan mengunci pintu demi terjaminnya kantibmas.

Dari titik ini, saya berasumsi membahas pagar tidak berhenti pada simbol keindahan dan keamanan, melainkan juga mempelajari karakter, kultur, interaksi, tradisi dan laku hidup manusia. Secara sosiologis, perkara pagar menjadi sebuah medium komunikasi,  interaksi sosial dan karakter. Kerakter orang yang berpagar rumah tinggi sering memiliki sifat jumud dan jarang berinteraksi. Pagar yang terbuat dari besi kerap menampilkan sisi elegan nan eksklusif. Rahmat Petuguran dalam Melawan Kuasa Perut (2014: 27-28) menulis, “Desain yang praktis dan menonjolkan kepentingan tiap-tiap pemilik membuat interaksi antarpenghuni (pe)rumah(an) sulit dibangun. Mereka cenderung bersikap eksklusif dan menjaga jarak dengan penghuni lain. Meskipun memiliki teras sebagai tempat leyeh-leyeh, pemilik rumah biasanya memasang pagar teralis atau gerbang yang membatasi orang luar.”

Sementara, desain pagar yang berukuran sepinggang dan terbuat dari bata merah atau kayu maupun bambu berupaya menjaga dan melestarikan ciri khas pedesaan yang lahiriah. Mereka membangun tanpa melihat strata sosial. Berinteraksi seakan tanpa ada sekat. Semua menjaga ke-akur-an, saling tegur-sapa, urun rembug, dan saling rewang satu sama lain. Bukan dibentuk dari alasan merasa mandiri secara ekonomi, melainkan terbentuk dari rasa saling anderbeni.

Kultur seperti ini dapat mencairkan suasana beku, dan menjaga kerukunan antarwarga. Sebab itu, para leluhur mengawali pembangunan atau merakit pagar sederhana namun tidak tinggi. Lebih dari itu, lelulur juga memanfaatkan tanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman yang daunnya bisa dimanfaatkan. Leluhur saya membuat pagar dari pohon atau tanaman dadab (pohon yang banyak jarumnya?) atau tanaman lain sebagai batas. Kadang juga untuk melindung tanaman sayur-sayuran.

Bila kita telusuri di desa-desa atau perkampungan di Jawa, terutama pagar yang terbuat dari tanaman atau batu bata merah, jumlahnya tidak banyak. Itu pun pasti sudah ditumbuhi lumut dan penuh aksi vandal atau coret-coretan di sana sini. Pagar artistik dan berdesain teralis: berbahan material besi telah menghilangkan pagar tembok berbahan bata merah. Pagar teralis bergaya perumahan merepresentasikan masyarakat modern: instan, konsumtif dan individualistik. Masyarakat modern lebih sibuk hitung-hitungan untung rugi, tetapi mereka luput menyediakan ruang interaksi yang memadai. Dengan gaya yang seperti itu, kesan makhluk sosial pun luntur. Mereka enggan bertamu atau menerima tamu kecuali untuk keperluan tertentu.

Sikap eksklusif yang terbangun dari masyarakat modern dengan bangunan modern pula, itu sama artinya merapuhkan kerekatan sosial yang menjadi ciri khas entitas kebudayaan Jawa sejak ratusan tahun lalu. Pagar bergaya rumah gedongan merepresentasikan hilangnya kultur orang dahulu. Seperti makna dari pepatah yang digubah Mansyur S. jadi lagu Pagar Makan Tanaman (1996), orang yang merusakkan barang (tradisi dan kultur sosial pedesaan) yang diamanatkan/dititipkan kepada orang. Bagaimana bentuk pagar di lingkungan Anda?

BERBAGI
Artikel sebelumyaBagaimana Pengelolaan Hutan di Trenggalek?
Artikel berikutnyaMelankolia Para Perantau
M. Choirur Rokhim
Kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sedang belajar mengajegkan membaca dan menulis. Tipikal lelaki baper yang sensitif dan mudah reaktif.