Monday
14 October 2019
Njajah Desa Milang Kori


Kang Ceples

Darunnajah adalah salah satu pondok pesantren tua di Trenggalek. Didirikan sekitar tahun 1950 oleh KH Bastomi, Mbah Nur Ali dan K.H….

Sebuah CERPEN dari Muhammad Badruddin terbit pada 16 Juli 2019 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 2 menit.

Darunnajah adalah salah satu pondok pesantren tua di Trenggalek. Didirikan sekitar tahun 1950 oleh KH Bastomi, Mbah Nur Ali dan K.H. Dahlan (Mbah Dahnan) atau sering disebut Tritunggal Darunnajah. Dari sini-lah banyak dilahirkan para santri yang menjadi tokoh penting dalam masyarakat.

Pagi itu seperti biasa, Gus Ipung, pengasuh pondok, mulai membangunkan satu persatu santri untuk sholat subuh berjamaah, tapi ada juga yang susah untuk dibangunkan seperti Kang Ceples, nama panggilan di ponpes Kang Ceples.

Kang Ceples sangat susah untuk dibangunkan hingga oleh pengurus ponpes disiram air supaya bisa bangun.

Tangi tangi subuh…” kata pengurus.

Ya Alloh Kang, katek angel men ta digugah.

Kang Ceples bangun dengan keadaan basah kuyup karena disiram air.

Tidak adak kapoknya Kang Ceples, tidak langsung wudhu, tapi ia malah ke kamar mandi untuk tidur lagi.

 “Ya Allah kok ora enek kapok e ta Ples.. Ples…” kata pengurus.

Kang Ceples ketahuan dan ditarik ke halaman pondok lalu ditakzir (hukuman) oleh pengurus untuk menyapu halaman dari depan gerbang hingga belakang.

Setelah selesai sholat Subuh, santri yang masih baru biasanya ngaji ke ndalem dan santri lama ro’an (kerja bakti). Setelah selesai ro’an semua santri bersiap untuk sekolah madrasah.

Setelah selesai madrasah, para santri istirahat tapi ada juga yang menggunakan waktu istirahatnya untuk hafalan, terutama santri kelas 1 dan 3 aliyah. Karena mereka dituntut untuk hafal seribu bait kitab alfiyah dalam waktu kurang dari satu tahun, seperti Kang Ubed.

Dia adalah salah santri teladan. Ia biasanya menghafal dengan cara mencari tempat yang sepi di sore hari. Setelah sholat Magrib, Kang Ubed menemui Kang Jalil.

“Lil..” kata Kang Ubed.

Nyapo?

Sido nang makom ndak pumpung iseh sepi iki”? Kata Kang Ubed.

Ayo budal.” Balas kang Jalil.

Kang Ubed dan Kang Jalil pun pergi bersama ke makam untuk mencari tempat yang sepi guna mempermudah hafalan.

Santri di sini memiliki kebiasaan untuk menghafal yaitu dengan mencari tempat sepi seperti makam. Ada juga yang naik ke atas menara.

Ya allah apa ngapalne ngene ae kok angel to?” keluh Kang Ubed.

Lha iya ta nek kene meh sak jam kok 20 bait ae ndak oleh iki apa,” balas Kang Jalil.

Balik ae, ngopi penak paling hahahaha…”

 “Ayo bayarono tapi…”

Gampang!

Akhirnya mereka kembali ke pondok, karena sudah selesai menghafal Dan istirahat untuk kegiatan besok…

Cerpen di atas adalah tulisan dari salah satu peserta workshop literasi berbasis pesantren yang diselenggarakan pada 23-24 Juni 2019 oleh nggalek.co bekerja sama dengan LP2M UIN Maliki, Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR