Monday
13 July 2020
Njajah Desa Milang Kori


Pengalaman Diteror Ular Berbisa

Sebuah Feature dari M. Choirur Rokhim terbit pada 30 Desember 2019 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Kemunculan ular beberapa pekan ini menjadi perhatian khusus warga di beberapa wilayah Indonesia. Ular berkeliaran di pekarangan rumah, tempat bermain anak-anak, tempat kerja hingga masuk ke dalam rumah. Di sekitar tempat tinggal saya, warga juga menjumpai beberapa ular yang berkeliaran di sekitar rumah. Tentu saja kehadirannya mengusik ketenangan dan ketentraman warga.

Di sisi lain, di media sosial maupun televisi banyak diwartakan predator satu ini meresahkan warga, dengan banyak muncul di tempat umum dan meneror. Memang munculnya ular di tahun ini bisa disebut sebagai salah satu wabah yang berbahaya dan membuat trauma.

Banyak pihak, di antaranya, para komunitas yang mencintai binatang jenis reptil mengatakan bahwa munculnya ular kobra tersebut karena musim hujan mundur. Sebab itu, jumlah dan produktivitasnya kian meningkat lebih banyak ketimbang tahun lalu, karena fase reproduksi ular di musim kemarau lebih panjang.

Seperti dilansir Kompas.com (19/12/2019), Igor Sonagar dari Komunitas Taman Belajar Ular Indonesia dalam diskusi bersama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan, biasanya September itu sudah mulai hujan, otomatis si telur ini sudah membusuk duluan. Tapi, karena ini kemarau panjang, Desember tidak hujan, jadi ular menetas sempurna.”

Ular memiliki perangai yang menyeramkan. Bagi orang yang memiliki trauma terhadap ular, ia akan merasa takut bila bekerja di tempat ular bermukim. Gigi taring tajam menyeringai, mata bengis menatap, desis menyeramkan, perawakannya khas seperti kebiasaan menjulur sesuai irama seruling sebagaimana di film India, kita membayangkan ular merupakan predator yang ditakuti, dicemaskan, dihindari dan meninggalkan phobia. Tidak hanya itu, ular salah satu predator yang mematikan. Gigitannya berbahaya, bisanya mampu menghilangkan nyawa manusia.

Menurut Global Snakebite Initiative, seperti disadur oleh tirto.id  (21/12/2019) (Baca selengkapnya di artikel “Negeri Sarang Ular, Indonesia Krisis Penawar Bisa”, https://tirto.id/enWJ.) memperkirakan gigitan ular di dunia memakan korban hingga 4,5 juta orang setiap tahun. Jumlah tersebut mengakibatkan luka serius pada 2,7 juta pria, wanita, dan anak-anak, serta menghilangkan sekitar 125 ribu nyawa. Sementara itu, banyak korban selamat harus menderita cacat tubuh dan kelumpuhan.

Di Indonesia hingga sekarang belum memiliki catatan pasti jumlah korban gigitan ular. “Gigitan ular adalah kasus yang terabaikan pemerintah, sehingga tidak tercatat,” ungkap Tri Maharani, satu-satunya dokter Indonesia yang mendalami ilmu tentang snakebite (gigitan ular) dan toksikologi. Data yang dikumpulkan secara mandiri oleh Tri sejak 2012 mengungkapkan bahwa kasus gigitan ular di Indonesia mencapai 130 ribu per tahun.

Pengalaman dengan Ular

Kita masih ingat, bagaimana salah satu artis yang biasanya manggung menggunakan ular sebagai pelengkap aksinya, Irma Bule, tewas akibat dipatuk ular saat beratraksi di atas panggung. Selain tewasnya Irma Bule di atas panggung, masih banyak lagi kasus kematian manusia akibat gigitan ular.

Saya masih ingat bagaimana Makde, Alm. Pak Toiman, sekitar 5 tahun yang lalu meninggal akibat gigitan ular yang entah jenis apa (?). Kematiannya kala itu tidak disangka-sangka. Entah bagaimana ceritanya, ia meninggal karena gigitan ular di hutan. Memang gigitannya terletak di posisi yang tidak biasa: ia dipatuk di lokasi pantat. Lokasi gigitannya lebih dekat ke jantung, sehingga racunnya menyerang lebih cepat.

Dari situlah saya alami trauma terhadap patukan ular. Apabila bekerja di semak belukar, saya selalu migring-migring atau was-was. Yang terbaru adalah saat saya mengantar Pak Nur (50) salah satu Paklik saya, tergigit ular berbisa. Kejadiannya kurang lebih 3 minggu yang lalu. Kronologi tergigitnya jam 9 malam di Pancer, Pantai Cengkrong selepas nyosokne (memasukkan) perahu . Tanpa sengaja, ia menginjak ular yang berada dekat dengan motor yang diparkir.

Setelah melalui proses tradisional dengan menyedot dan mengeluarkan upas atau bisa itu, saya diminta Lek Is untuk menemani mencari obat Serum Antibisa Ular (SABU) di Klinik Nur Medika. Di sana belum sampai ditangani, salah satu dokter piket mengatakan tak memiliki Serum Antibisa Ular (SABU). Kami pun pindah ke Puskesmas Watulimo dengan kondisi pincang-pincang dan menahan rasa sakit. Sampai di Puskesmas, dengan jawaban yang sama tak memiliki Serum Antibisa Ular (SABU).

Saya memiliki perasaan tak biasa dan pikiran kalut sampai ke mana-mana. Di mana teringat kasus Makde Toiman yang dulu. Apalagi saya melihat kondisi Pak Nur yang sudah mulai lemah dan tak kuat berdiri. Jelang setengah jam, kami memutuskan untuk membawa di Klinik Dr. Moro Prasetyo, yang entah apa namanya?

Di sana juga tak memiliki Serum Antibisa Ular (SABU). Tapi kami direkomendasikan ke RS Muhammadiyah Bandung. Di tengah perjalanan saya mengamati perkembangan  Pak Nur yang berada di bangku belakang yang ditemani istrinya, Lek Is. Selang beberapa menit, saya selalu melihat ke belakang dan memastikan bahwa Pak Nur dalam kondisi baik-baik saja. Saya berusaha untuk bertanya kondisi tubuhnya, sebab, selepas disedot atau dibersihkan bisanya, Tabib mewanti untuk mengikat atau membidainya dengan kain.

Di situ pikiran saya adalah apakah racun atau bisa tersebut sudah menjalar ke seluruh tubuh apa belum dan ia masih kuat untuk bertahan atau tidak? Ditambah lagi darah masih mengucur dari kaki bekas gigitan. Ia sering merasakan sakit pada kakinya dan tidur di atas pangkuan istrinya. Apalagi 4 puskesmas tak bisa menangani karena tak tersedianya Serum Antibisa Ular (SABU).

Sebenarnya kami memiliki rencana membawanya ke RS Gandusari lewat jalur Sebo – Kampak. Karena kami berada di jalur utara Pasar Sebo, yang lebih dekat dan mudah menuju jalur Bandung, setelah mendapat rekom dari resepsionis Klinik Dr. Moro, maka Bandung adalah jarak yang paling dekat dan akses mudah. Tapi di Bandung tak jua memiliki obat Serum Antibisa Ular (SABU). RS Iskak Tulungagung adalah pilihan terakhir kami supaya segera mendapat penanganan.

Dari sinilah bayangan yang tidak-tidak merasuki pikiran. Di dalam mobil yang membawa pasien yang butuh penanganan cepat, meski bukan mobil ambulan lengkap dengan sirine ditambah jalanan gelap, dan berkejaran dengan bisa yang sedang berada di dalam tubuh manusia.

Sampai di RS Iskak Tulungagung sekitar pukul 00.00 lebih sedikit. Sampai di UGD tak juga langsung mendapat penanganan karena pasien membludak. Di sisi lain, saya mendapat kabar bahwa disuntik penawar racun sekitar jam 4 subuh. Selepas mendapat hasil lab dari bisa itu. Di Indonesia ada tiga SABU penanganan bisa ular, yakni Spitting cobra, Banded krait, Malayan pi viper.

Semoga teror ular segera berakhir, dan pemerintah secepatnya membantu dengan mensuplai obat-obat penawar bisa racun ke RS atau puskesmas yang berada di kecamatan. Karena semakin banyak ular hidup berdampingan dengan manusia dan berkeliaran di dekat permukiman, itu berarti resiko serangan terhadap warga meningkat.

TINGGALKAN KOMENTAR