Saturday
6 June 2020
Njajah Desa Milang Kori


Equilibrium Building Solutions dalam Melawan Covid-19 (bagian 2 dari 2)

Sebuah Esai dari Suripto terbit pada 21 Mei 2020 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 6 menit.

Getaran frekuensi tinggi pada diri manusia akan diperoleh ketika dirinya berada dalam posisi tenang, gembira, suka cita, cinta kasih, bersyukur, tercerahkan. Dalam kondisi tersebut, manusia akan berada pada posisi higher consciousnes (kesadaran tertinggi). Sehingga higher consciousness akan memancarkan manfaat dan efek penyembuhan. Ia akan menjadi separuh obat. Pada gilirannya apabila dibarengi dengan kesabaran, maka posisi kesadaran tertinggi ini akan menjadi awal dari kesembuhan.

Dwi tunggal kesejatian diri manusia berupa jasmani dan rohani, seirama dengan teori relativitas Albert Einstein yang melahirkan hukum fisik-non fisik atau dalam teori  Sir Isaac Newton diformulasikan dengan hukum aksi-reaksi. Kedua hukum tersebut dielaborasi oleh guru besar kedokteran Unair, Prof.Dr.Abdurachman, menjadi hukum pasangan. Menurut hukum pasangan imunitas hanya berwujud tahan-rentan. Seseorang yang tahan berarti memiliki imunitas optimal dan yang rentan memiliki kadar imunitas minimal.

Posisi seseorang yang memiliki kadar imunitas minimal berdasarkan hasil riset mutakhir, sesungguhnya bisa  dilesatkan melalui upaya membersihkan egoisme hingga ke dasar. Karena egoisme adalah motivasi yang fokus mengutamakan keuntungan bagi diri sendiri daripada orang lain. Pasangan egoisme adalah altruisme, yaitu motivasi yang lebih mengutamakan keuntungan di luar dirinya untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Maka altruisme akan melahirkan kebahagiaan yang melesatkan imunitas menjulang. Ketika imunitas berada pada titik optimal, badan manusia  menjadi sehat, bahagia, sejahtera, dan terhindar dari segala bentuk serangan penyakit.

Keseimbangan Spiritual

Fitrah manusia sebagai makhluk dua dimensi, menempatkan posisis dirinya untuk melakukan keseimbangan dalam hidupnya melalui dua dimensi tersebut. Dalam mengadapi berbagai persoalan hidup, seperti saat pandemi Covid-19, manusia harus melakukan aktivasi conector bumi dan conector langit sekaligus. Aktivasi conector bumi dihidupkan dengan berbasis science, mengikuti petunjuk dari para ahli virus karena mereka memang dikaruniai kompetensi di bidangnya. Misalnya jaga jarak, tidak berkerumun, bersih diri dan lingkungan. Adapun aktivasi conector langit diaktivasi melalui peningkatan ketaqwaan kepada Allah, beribadah kepada-Nya, berdoa agar selamat dari wabah Corona, tidak panik dan tetap waspada.

Dalam konteks ini, mengandalkan kehebatan fungsi IQ dan EQ ternyata juga belum cukup dalam menghadapi problem kemanusiaan universal yang selalu berjalan beriringan dengan dinamika kehidupan makhluk lain di muka bumi.  Kehebatan IQ dan EQ dalam diri manusia akan menjadi sempurna sebagaimana terungkap pada hasil temuan Psikolog Danah Zohar bersama Fisikawan Ian Marshall dalam bukunya “SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence”. Pada buku tersebut ditegaskan bahwa ada satu lagi potensi diri manusia yang harus dikembangkan yaitu SQ/Spiritual Quotion (Kecerdasan Spiritual)  disamping IQ dan EQ.

Karena menurutnya cara berpikir seri otak  (IQ) adalah cara berpikir yang paling sederhana dan tidak lengkap.  IQ hanya menganggap bahwa berpikir sebagai aktivitas linear, logis, dan tidak melibatkan EQ perasaan.  Sedangkan cara berpikir EQ lebih menekankan diri manusia berpikir  untuk menciptakan asosiasi antar-berbagai hal yang dapat menimbulkan kepekaan antara emosi dengan gejala-gejala tubuh dan antara emosi dengan lingkungan sekitar, maupun efek-efek luar biasa lainnya.

Adapun SQ merupakan cara berpikir yang bersifat unitif, yaitu menyatukan dan memadukan antara IQ, EQ, dan SQ sekaligus. Menurutnya, IQ dan EQ akan bekerja secara efektif apabila seseorang mampu mengasah dan menjalankan ketajaman SQ-nya.  Pada potensi SQ inilah manusia akan menemukan “G-Spot” (Titik Tuhan) pada dirinya “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa Robbahu (Barang siapa mengetahui dirinya,  maka ia akan mengetahui Tuhannya).

Dalam perspektif ini, olah raga itu penting dan sangat diperlukan. Tetapi tidak cukup, karena ia hanya akan mampu berfungsi untuk mengasah kecerdasan fisik.  Olah rasa dan olah pikir juga penting tetapi belum sempurna, karena keduanya hanya memiliki peran mengasah kecerdasan emosi/kecerdasan hati dan kecerdasan pikiran.  Maka olah raga, olah rasa, olah hati, dan olah pikir harus disatukan serta dilakukan secara seimbang untuk menghasilkan apa yang disebut dengan SQ sebagai titik kesempurnaan kecerdasan diri manusia.

Menempatkan proporsi tiga potensi kecerdasan manusia antara IQ,  EQ dan SQ  pada diri seseorang akan menghasilkan perilaku manusia di muka bumi menjadi lima karakter, yaitu: Manusia Harapan, Manusia Diktator/Koruptor, Manusia Buta Hati, Manusia Teroris, dan Manusia Pertapa.

 

NO POTENSI MANUSIA HASIL
IQ EQ SQ
1 Baik Baik Baik Manusia Harapan
2 Baik Baik Jelek Manusia Diktator/Koruptor
3 Baik Jelek Jelek Manusia Buta Hati
4 Baik Jelek Bak Manusia Teroris
5 Jelek Jelek Baik Manusia Petapa

 

Manusia harapan adalah manusia yang lahir dari hasil keseimbangan dalam mengelola IQ, EQ, dan SQ. Kemampuan manusia untuk mengasah ketajaman SQ akan menghasilkan energi vibrasi ilahiah yang memancarkan keberkahan yang akan mengoptimalkan ketajaman IQ dan EQ. Artinya, ketika manusia telah menemukan God Sport pada dirinya, maka spiritualitasnya akan menagalami peningkatan tajam. Pada  pencapaian puncak spiritual, seseorang akan mencapai ketenangan dan kebahagiaan. Sehingga otak akan memproduksi hormon endorfeen dan serotonin lebih banyak yang sangat bermanfaat untuk memperkuat antibody macrofag dan microfag. Antibody inilah yang akan melawan memakan virus corona yang masuk kedalam tubuh.

Momentum Ramadan 1441 H di tengah pandemi Covid-19 mengajarkan manusia agar fokus mempertajam spiritualitasnya untuk menyerap gelombang elektromagnetik ilahiyah. Di samping mengikuti protokol kesehatan, pandemiCovid-19 hanya akan berakhir apabila senantiasa tenang. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d; 28). Derivasi praksisnya adalah luangkan waktu secara optimal melakukan tafakkur, tadabbur dan tadzakkur sebagai bentuk keseimbangan antara IQ,  EQ dan SQ serta antara olah pikir, olah rasa/olah hati dan olah raga.

Keseimbangan Cosmologi-Ekosistem

Dalam trilogi metafisika terdapat tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, yaitu Tuhan, alam, dan manusia. Tuhan  sebagai causa prima menjadikan alam, manusia, flora, fauna, dan seluruh makhluk ciptaan-Nya saling mengalami interdependence kepada-Nya. Tugas manusia adalah membangun kesadaraan ilahiyah dan kesadaran cosmis untuk menuhankan Ketuhanan Tuhan, mengalamkan kealaman alam, memanusiakan kemanusiaan manusia, dan bahkan wajib menghewankan kehewanan hewan.

Fenomena kehidupan manusia modern seringkali mendistorsi kesadaran ilahiyah dan kesadaran cosmis tersebut. Sehingga eksistensi keseimbangan kehidupan akan mengalami chaos ketika manusia berusaha menuhankan kemanusiaan manusia, menuhankan kealaman alam dan menuhankan kehewanaan hewan. Kekacauan di muka bumi akan terus berlanjut jika manusia memanusiakan kehewanan hewan, menghewankan kemanusiaan manusia, mengalamkan ketuhanan Tuhan, dan bahkan menghewankan Ketuhanan Tuhan.  Covid-19 sebagai bagian dari alam yang diciptakan Tuhan akan bersikap lemah lembut memancarkan wajah keindahan Tuhan (the beautiful face of God), apabila kita pandai bersyukur memperlakukannya secara bijak tanpa berbuat kerusakan di muka bumi. Sebaliknya alam beserta turunannya akan menjadi murka, tidak mau bersahabat, dan justru akan mengancam kehidupan  manusia sebagai akibat ulah jahat tangan manusia itu sendiri.

Timbulnya siklus bencana alam dan pandemi wabah penyakit dalam sejarah peradaban umat manusia sebenarnya merupakan suatu bentuk sunatulloh melalui mekanisme alamiah. Sebagai al-Rabb al-Alamin, Alloh adalah satu-satunya pemegang otoritas untuk menjaga keseimbangan cosmis dan ekosistem melalui hukum alam yang diciptakan. Oleh karena itu, atas kodrat dan irodat-Nya, gerak perputaran alam ini dijaga kepastianya tetap berjalan secara dinamis dan evolutif melalui gerak rotasi dan gerak revolusi.

Gerak rotasi yaitu gerak perputaran planet alam raya pada dirinya sendiri melalui sumbu putarnya. Adapun revolusi adalah gerak perputaran planet alam raya berjalan untuk mengelilingi planet lain yang menjadi titik pusatnya. Kedua jenis gerak perputaran alam tersebut tetap konsisten berjalan secara bersamaan. Jika kerusakan demi kerusakan terus berlanjut, tidak diciptakan mekanisme perbaikan diri, maka akan menimbulkan adanya ketidakseimbangan gerak rotasi dan gerak revolusi Akibatnya planet akan saling berbenturan, sistem tata surya menjadi kacau, dan bumi yang kita tempati akan menjadi hancur sebelum waktunya.

Ketika alam dieksploitasi tanpa batas dan mengalami kerusakan, maka self depence mechanismenya secara otomatis akan memperbaiki kerusakan tersebut agar keseimbangan alam tetap terjaga. Dalam proses perbaikan diri inilah, terkadang menimbulkan efek samping dalam kehidupan manusia dalam bentuk bencana alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, hama tanaman, pandemi wabah penyakit dan lain-lain.

Demikian halnya dengan ketidakseimbangan ekosistem juga memiliki korelasi yang signifikan dengan penyebaran Covid-19. Deforestasi yang tidak tekendali akibat dari pembakaran dan pembalakan liar hutan berkontribusi berjangkitnya hama dan wabah penyakit. Karena terjadinya deforestasi akan menyebabkan berkurangnya pasokan produksi oksigen (O2) dan meningkatnya karbondioksida (CO2) ke atmosfir udara. Hutan sebagai paru-paru dunia, dapat berfungsi maksimal menyerap CO2 yang dihasilkan dari rumah kaca ketika kelestariannya tetap terjaga. Berkurangnya produksi O2 dan terlalu melimpahnya CO2 akan menimbulkan efek buruk terhadap perubahan iklim yang pada gilirannya akan terjadi pemanasan global.

David Quammen penulis buku Spillover: Animal Infections and The Nex Pandemic dalam tulisannya di New York Time berkesimpulan bahwa siklus dan penyebab munculnya banyak penyakit, virus, bakteri, dan kuman karena kehilangan tempat tinggal akibat hutan dan alam diinvasi manusia untuk keperluan hidup maupun keserakahan. Kita memotong pohon, memburu binatang, merenggut mereka dari habitatnya. Padahal berbagaai jenis virus tersebut untuk bisa hidup membutuhkan inang, dan inang itu adalah satwa liar yan hidupnya di hutan. Ketika inang tersebut mengalami kepunahan akibat habitanya telah dirusak oleh manusia, maka virus tersebut akan mencari inang baru untuk mempertahankan hidupnya ke tubuh manusia.

Dalam perspektif ini, pandangan penulis terkonfirmasi dengan hasil penelitian Prof. Wade Mc Gills, seorang ahli teknik lingkungan dari Columbia University. Beberapa waktu lalu ia mengungkapkan kepada Majalah Time bahwa “planet bumi memulihkan diri ketika semua manusia dipaksa diam di rumah saat pandemi corona.” Menurutnya: “ini suatu keajaiban alam, ia sedang memulihkan dirinya sendiri”.  Sehingga menurut laporan yang di-rilis News.Com Australia, terdapat tiga perubahan positif yang sangat signifikan ketika manusia disiplin diam mengisolasi diri di rumah pada saat pandemi-Covid-19, yaitu: polusi udara berkurang,  emisi karbon turun, bumi menjadi lebih indah dengan flora dan fauna.

Adanya penurunan polusi udara sangat kita rasakan ketika kita disiplin diam di rumah pada masa work from home (WFH). Hal yang sangat mencolok terjadi di kota-kota besar yang penduduknya disiplin tinggal di rumah. Nitrogen dioksida akibat asap dari pembakaran BBM mengalami penurunan secara signifikan. Berkurangnya emisi karbon dioksida juga mulai dapat dirasakan. Masyarakat jadi hidup lebih hemat energi. Indahnya ocehan burung-burung di pepohonan di sekitar rumah menjadi pertanda bahwa alam turut bahagia dengan pemulihan keseimbangannya. Jadi alam pun akan turut bahagia apabila manusia merasakan bahagia, sebaliknya alam turut merana jika kehidupan manusia diliputi dengan kesedihan akibat virus Corona.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis ingin menegaskan bahwa pandemi Covid-19 adalah ancaman serius bagi kemanusiaan. Salus Populi Suprema Lex Esto (Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi) kata Cicero, seorang filosuf Italia. Karena begitu, pentingnya menyelamatkan nyawa rakyat, pendekatan dalam penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemimpin negara dengan melibatkan seluruh komponen bangsa harus menjadikan Covid-19 sebagai persoalan prioritas yang tidak bisa tunda. Yang rakyat butuhkan adalah adanya keseriusan dan  kesatu-paduan dari elit pemerintah dalam menghadapi virus mematikan ini. Tinggalkan segala bentuk egoisme, saling intrik, numpang pencitraan, dan memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan politik jangka pendek.

Hantu ketidakpastian dan kecemasan kolektif akibat pandemi Covid-19 sangat mendesak untuk segera ditranformasikan menjadi kepastian dan ketenangan warga negara.  Negara mesti cepat bergegas menghentikan penyebaran virus Corona secara komprehensif, integratif-interkonektif melalui tindakan preventif, kuratif membangun keseimbangan jasmani, psikologis, spiritual, cosmis dan ekosistem. Demikian juga dengan masyarakat agar disiplin mengikuti protokol kesehatan, saling membantu, berpatisipasi aktif dalam membangun social safety net dalam menanggulangi dampak Covid-19. Semoga wabah segera berlalu dan kehidupan normal kembali. Wallohu alam bi al-showab.

TINGGALKAN KOMENTAR