Film PKI

Beringin ini sudah berumur lebih dari 50 tahun. Tertanam di sisi paling selatan halaman Sekolah Dasar di Desa Salamrejo, Karangan. Dua puluh tahun yang lalu, sela-sela akar dan cabang pohon beringin ini adalah tempat saya dan kawan sebaya masa SD menghabiskan waktu saat ngaso sembari bersenda gurau dan berbagi kisah: bercerita ngalor-ngidul mulai dari kisah keseharian sampai berbagi rangkuman film yang usai ditonton tadi malam. Memang pada saat saya SD, jumlah televisi di dusun saya masih amat sangat jarang, tidak genap dihitung dengan jari tangan kiri. Sehingga, saat ada salah seorang kawan menonton acara di televisi, rangkuman kisahnya ditunggu-tunggu kawan lain yang tidak berkesempatan menatap layar kaca.

Kini, saat akhirnya saya berkesempatan menjadi pengajar di SD ini, kenangan itu mendadak muncul. Mungkin karena ini bulan September. Ya, bulan September menyimpan kenangan tersendiri bagi generasi sebaya saya. Ada sebuah sejarah yang tidak kami alami, namun seakan wajib kita yakini. Sejarah kelam tentang sebuah negara yang baru saja merdeka.

PKI, adalah kata kunci dari kenangan yang mendadak muncul itu. Generasi saya terlahir saat PKI sudah dimatikan. Sekadar hidup sebagai hantu-hantu gentayangan yang diceritakan dalam kisah-kisah “horor” oleh para orang tua dan “negara”. Dari sinilah awal mula saya mengenal sesuatu yang disebut komunis. Dari film horror yang diputar setiap bulan September di tiap-tiap tahun yang saya kenang. Seingat saya, sudah lebih dari tiga kali saya diajak oleh Bapak untuk menyaksikan film ini. Di halaman kantor kecamatan atau di rumah seorang priayi yang mempunyai televisi. Dan seperti biasa, pasca saya menyaksikan film itu, dengan senang hati rangkumannya saya uraikan di hadapan kawan-kawan di bawah pohon beringin yang rindang di halaman sekolah.

Tentu saja, rangkuman yang saya berikan tidaklah uraian kritis ala aktivis jaman now, sekadar rangkuman rasa takut dan rasa benci terhadap tokoh-tokoh antagonis yang dalam hal ini adalah PKI. Hidup dalam keluarga dan lingkungan yang religius, membuat saya mengenali PKI sekadar dari satu sisi saja yaitu sisi negatif: kejam, atheis dan keburukan lainnya. Ditambah lagi setiap tahun rasa “alergi’ pada PKI ini dipupuk subur oleh film Pengkhianatan G-30 S/PKI.

Menonton film itu di usia belia memang tidak dapat menangkap pesan ideologis dan politis yang digambarkan dalam film. Hanya kesan yang dapat kita tangkap, yaitu kesan bahwa PKI itu penjahat (antagonis) yang layak mendapatkan porsi rasa benci dari para pemirsa. Mereka menyiksa para jenderal dan membantainya; mereka memusuhi para ulama dan membunuhinya; mereka gemar menari-nari dalam ritual penyiksaan. Sebuah gambaran yang lengkap tentang naluri penjahat. Kesan itulah yang kita saksikan dan akhirnya kita yakini.

Terlebih lagi film itu didukung oleh saksi-saksi hidup tahun 65, kakek nenek hingga buyut yang hidup dan berkesempatan menceritakan prahara perang saudara itu. Nenek saya misalnya, beliau mengatakan bahwa memang kader-kader PKI itu mayoritas adalah orang-orang yang terpinggirkan secara moral. Para Preman, blandong kayu, mantan perampok, dan lain sebagainya tergabung dalam simpatisan aktif PKI. Sehingga secara ideologis, konfrontasi antara kader komunis dan kader agamis utamanya NU hampir terjadi setiap hari. Sampai pada akhirnya peristiwa 30-S meledak dan menjadi bahan bakar yang sangat efektif membakar dendam kedua pihak sampai terbakar tuntas.

Di bawah pohon beringin tiap bulan September, mulut belia kami gemar berbagi kisah tentang monster bernama PKI. Di masa itu pula kami melihat bahwa pohon beringin adalah pohon yang sakral. Di mana-mana kami melihat ada gambar pohon beringin. Di spanduk, di seragam pegawai, dan banyak tempat lainnya. Selain itu, di hampir setiap instansi pemerintahan tertanam beringin. Di sekolah, di rumah dinas, di kantor kecamatan, tumbuh pohon beringin. Beringin yang kokoh menjulang dengan cabang dan daun yang menyebar rindang menjadi simbol kemakmuran sekaligus simbol pengayom masyarakat. Itulah yang kami ketahui, dan itulah yang kami setujui-pada masa itu.

Dan kami juga menyetujui bahwa palu dan arit yang disatukan adalah simbol kemiskinan, marjinal dan kesengsaraan. Sehingga kami lebih gemar bercengkrama di teduhnya naungan pohon beringin daripada berpayah-payah mengasah arit dan mengayun palu di ladang seperti orangtua kami. Kami mulai bercita-cita berebut kursi pejabat pemerintahan tempat pohon beringin memberi kerindangan. Kita memang masih anak-anak.

Namun seiring akal dan nalar yang kian berkembang, mau tidak mau manusia harus mampu mengolah pikir dan menganalisa. Tidak sekadar menelan kesan secara mentah, perlu meramunya dengan analisa pesan yang ada dalam setiap kejadian. Misalnya kita perlu waspada jika pohon beringin yang rindang itu dijadikan sarang ulat berbulu atau ular berbisa yang bisa menyakiti orang-orang di bawahnya, dan untuk melawan ular itu kita butuh senjata misalnya arit atau palu.

Entahlah, bulan September sudah datang. Pohon beringin di halaman sekolah sudah semakin tua, siswa-siswi semakin jarang yang berteduh di sana karena takut terkena bulu ulat atau tergigit ular. Mereka tak pula ada yang menonton film G-30 S. Sudah begitu banyak film yang lebih menarik berkualitas HD yang mengerti selera anak-anak. Belum waktunya mereka terusik oleh ideologi yang dianut pohon beringin dan palu arit. Mereka sudah punya tempat berteduh yang lebih aman, tontonan yang lebih menyenangkan. Kita hanya perlu membimbingnya agar tidak menjalani hidup sekadar bersenang-senang dan mencari aman.