Tokoh pewayangan: Semar, Bagong, Petruk dan Gareng | Foto Indonesia Tourism | Edited mastrigus
Tokoh pewayangan: Semar, Bagong, Petruk dan Gareng | Foto Indonesia Tourism | Edited mastrigus

Mengenang adalah usaha menyeret ingatan masa lampau ke masa kini. Tulisan ini saya maksudkan untuk mengenang masa kecil, berupa fragmen tidak lengkap saya bersama almarhum kakung. Karena suatu hal, satu-satunya kenangan bersamanya hanya berupa memori yang mengendap dalam ingatan. Sebab, tidak ada foto di sana. Setiap kali saya mencoba mengingat wajah kakung, yang muncul adalah gambar-gambar samar. Goresan saya ini barangkali juga digerakkan oleh rindu beserta beberapa pertanyaan yang dulu belum sempat terjawab.

Bagaimanapun, saya sangat menaruh hormat pada orang-orang dulu yang tidak khawatir mempunyai lebih dari dua anak, lagi tidak ambil pusing dengan progam KB seperti saat ini. Perlu diketahui, kakung saya punya anak sembilan, dan kebetulan semua perempuan. Seandainya kakung masih hidup, pastinya saya akan belajar banyak hal pada beliau: tentang bagaimana mengolah “rasa”; tentang bagaimana caranya tidak mudah marah, tidak mudah mendendam, juga tidak mudah tersinggung. Bukankah sekarang, banyak persoalan kerap memancing amarah? Soal korupsi, soal kebohongan media massa, soal keadilan (apakah keadilan itu memang ada?), dan persoalan lain yang selalu merangsang urat saraf untuk tegang.

Meski demikian, bukan itu soal utama yang sebenarnya membuat saya rindu. Yang membuat saya rindu kakung adalah kegemarannya terhadap seni. Di samping olah raga dan olah pikir, seni juga adalah kegiatan olah rasa. Seni mengambil bagian penting dari aspek olah cipta manusia luhur. Menurut saya, di tengah modernitas dengan problem yang semakin kompleks ini, seni tradisional mesti tetap dihidupkan.

Sekitar tahun 1980-an, sepengetahuan saya, kakung adalah salah seorang yang turut menguri-uri seni tradisional wayang kulit di desanya. Wayang kulit itu didatangkan dari Solo. Di rumah kakung, wayang-wayang itu ditempatkan pada kotak persegi panjang yang besar, pada bagian luar dihiasi dengan ukiran. Bila saya berkunjung ke rumah kakung, ibu melarang untuk dekat-dekat dengan kotak wayang  karena saya belum disunat. Kenapa musti disunat baru boleh mendekati kotak wayang? Kualat, begitu ibu menjawab.

Sewaktu kecil saya beranggapan apa yang dikatakan orang dewasa selalu benar. Perkataan ibu sangat berpengaruh terhadap pemaknaan saya pada wayang kulit. Dulu saya takut mendengar suara-suara karawitan ketika pagelaran wayang kulit. Jangan-jangan, kalau saya mendengar atau menontonnya, saya bisa kualat. Bisa jadi, problem yang membuat wayang kulit tidak diminati kaum muda, salah satu faktornya serupa kasus saya tersebut.

Meski sebenarnya saya hanya penikmat seni dari golongan awam, ketika lebih leluasa menikmati wayang kulit tanpa diintervensi pihak lain, apresiasi saya terhadap pagelaran wayang kulit ini dapat berkembang. Saya hanya penikmat seni yang picik, tidak tahu bagaimana membedakan antara seni tinggi, seni rendah, juga seni yang standar. Maklum, saya bukan kritikus seni, apalagi komentator seni tradisional seperti wayang kulit. Maka dalam hal menikmati pagelaran wayang kulit, saya sama sekali tidak punya acuan untuk mengukur kualitas pagelarannya. Jadi, cara saya menikmati sekadar mengamati adegan demi adegan, mendengar suluk, mendengar tabuhan karawitan juga mendengarkan sinden melantunkan sebuah tembang dengan nada yang melengking.

Belakangan, seni tradisional wayang kulit masih diminati, utamanya di desa-desa (desa yang barangkali merujuk pada pinggiran kota Trenggalek). Seperti saat bersih desa, mantenan, atau syukuran karena baru saja ada yang menjadi lurah. Namun pagelaran wayang kulit di desa saat ini menjadi pagelaran wayang kulit yang banal. Sebab, ada semacam kombinasi antara pagelaran wayang kulit dengan dangdut koplo. Ini adalah dua pertunjukan yang pada dasarnya berbeda, tapi dipaksa untuk saling mengisi. Saya tidak tahu sejak kapan pagelaran wayang kulit tersebut dikombinasikan dengan dangdut koplo.

Mengenai istilah banal, Erik Prasetiyo, seorang fotografer, pernah mengenalkan istilah ini dalam sebuah diskusi di Galeri Nasional tanggal 23 Desember 2010, berjudul “Through The Horizon of Seeing”. “.. tentang komposisi. Saya tidak memotret dua orang di depan, tapi memotret keseluruhan. Dan pekerjaan ini sebagian besar dilakukan oleh kamera. Saya tidak mengatur apapun. Saya cuma menambah flash dan tentu saja menyeleksinya di contact print. Hal semacam ini yang saya tawarkan untuk mendekati peristiwa-peristiwa banal di Jakarta, yang saya sebut sebagai Estetika Banal,” tulis Erik. Tentu saja pengertian ini muncul dari kajian seni fotografi. Sementara seni banal yang saya maksud di sini merujuk pada pengertian seni yang apa adanya, sebuah seni kasar atau biasa saja.

Jika kombinasi tersebut adalah tuntutan zaman, maka saya akan memilih berdiri di barisan orang kolot yang menuntut wayang kulit terpisah dengan dangdut koplo. Saya rindu pagelaran wayang kulit di zaman mbah kakung, yang membiarkan pagelaran wayang kulit berjalan apa adanya tanpa di-embel-embel-i dangdut koplo. Sekalipun dangdut koplo tadi dimaksudkan untuk menarik minat massa dari kalangan anak muda.

Akhirnya, tulisan ini bukanlah kajian serius yang mencoba membandingkan estetika pagelaran wayang kulit dengan campuran dangdut koplo. Sebagai penikmat wayang kulit, saya kurang setuju saja dengan kombinasi dua hal yang tadi saya sebut. Saya berharap setelah ini, ada kajian yang lebih serius tentang kombinasi pagelaran wayang kulit dan dangdut koplo ini.