Saturday
11 July 2020
Njajah Desa Milang Kori


Desa dan Ritual Slametan

Sebuah Esai dari Lutfiana Zulfa terbit pada 11 Maret 2020 — Tag: — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Di Jawa masih banyak orang yang melestarikan budaya. Budaya Jawa sebagian masih kental dengan pengaruh Hindhu, Budha, sebab pada mulanya Jawa merupakan tempat berkuasa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha. Kemudian datang Walisongo yang membawa ajaran Islam, Islam mulai menyebar di seluruh pulau Jawa. Islam yang dibawa para wali menggunakan jalan dakwah yang luwes sehingga dapat dipahami masyarakat awam dengan mudah, dan nilai-nilai ajarannya dapat diterapkan dengan mudah berbaur dengan budaya setempat.

Sudah sejak dulu masyarakat desa mengadakan ritual upacara selametan kematian sebagai sarana mendoakan kepada yang sudah meninggal. Selametan berasal dari bahasa Arab salamatun yang berarti selamat. Selametan bagi masyarakat Jawa digunakan untuk mengistilahkan ritual berkirim doa dengan tujuan agar senantiasa diberi keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Di Desa Penataran, Nglegok, Blitar, masih terdapat selametan yang diperuntukkan bagi orang yang sudah meninggal, mulai dari hari ketika meninggal, 3 hari setelah meninggal, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, mendhak pisan (memperingati hari kematian yang pertama kalinya setelah 1000 hari), mendak pindho (memperingati hari kematian kedua kalinya), mendhak telu (memperingati hari kematian ketiga kalinya), hingga yang terakhir: pepeling, artinya pengingat-ingat.

Pepeling ini sama dengan haul, yakni peringatan hari wafat seseorang yang diadakan setahun sekali. Pepeling diselenggarakan berdasarkan kesepakatan keluarga, artinya pada peringatan hari wafatnya boleh dilakukan boleh juga tidak dilakukan.

Tradisi-tradisi di atas masih ada dan berlangsung hingga saat ini. Di salah satu rumah warga di Desa Penataran, tepatnya di kediaman Pak Romeli (65), tanggal 10 Februari 2020 mengadakan slametan nyewu. Nyewu berasal dari Bahasa Jawa sewu yang artinya seribu, orang Jawa kemudian menggunakan istilah nyewu sebagai istilah nyelameti (memperingati) seribu hari meninggalnya seseorang. Dalam acara tersebut, turut serta diundang para tetangga dan kerabat. Di bagian dapur, ibu-ibu menyiapkan menu makanan yang akan dimakan bersama setelah acara usai dan menyiapkan berkat (makanan untuk dibawa pulang).

Saya adalah peserta KKN kampus, di Devisi Sosial, Budaya, dan Agama. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut serta menggali informasi tentang nyewu kepada yang biasanya ngajatne atau yang memimpin slametan. Bersama Pak Romeli dan istri, juga Pak Kasiono, saya dan kawan-kawan KKN, mendapat banyak pengetahuan baru tentang budaya di Jawa yang sudah sepatutnya dikenal dan dilestarikan oleh generasi muda.

Pada umumnya nyewu hanya diperingati dengan mengundang warga sekitar dan pembacaan tahlil. Berbeda dengan selametan nyewu yang ada di Desa Penataran, Nglegok, Blitar, yang masih mempertahankan budaya yang ada, yakni menggunakan sajen khusus yang diterjemahkan oleh orang yang ngajatne selametan, Pak Kasiono (66). Sajen-sajen yang dihadirkan memiliki makna dan tujuan tertentu. Sajen-sajen ini sebenarnya adalah ayat (doa) yang oleh Walisongo diwujudkan dalam bentuk materi (sajen). Andaikata sajen tersebut diwujudkan dalam bentuk tulisan, mungkin sampai sekarang ajaran-ajaran wali tidak akan menjadi budaya seperti sekarang.

Rangkaian selametan nyewu yang tidak biasa ini memiliki urutan atau rangkaian acara tertentu. Pada mulanya orang yang mengajatkan akan membacakan mantra atau doa pada sajen yang terdiri dari sega gurih, lauk yang terdiri dari hati ayam dan lain-lain, apem, nasi golong, gebing, wedang, dimar, dan bunga. Rangkaian sajen ini biasanya dibaca di ruang privat tidak melibatkan orang lain.

Sesudah itu, baru menghajatkan senampan yang berisikan pisang, kelapa, beras, bunga, dan telur dan senampan yang lain berisikan buceng pungkur yang menjadi inti dari selametan. Setelah semua sajen dihajatkan bersama-sama, acara kemudian dilanjut pembacaan tahlil seperti biasa. Setelah semua selesai, baru kemudian tuan rumah memberikan ramah-tamah untuk dimakan bersama-sama.

Sega gurih adalah nasi yang dimasak dengan campuran santan dan garam sehingga memiliki cita rasa gurih. Dalam selametan, sega gurih juga disebut sekul suci ulam sari yang berarti nasi suci dan lauk inti. Pada mulanya hanya wanita suci atau yang sudah mengalami menopause yang diizinkan memasak nasi suci ulam sari untuk ritual. Namun saat ini, sudah mengalami pergeseran sehingga siapa pun memungkinkan untuk memasaknya. Dalam pembacaan mantra (doa) pada sega gurih bertujuan memberi hormat pada kanjeng Nabi Muhammad beserta keluarga sebagai harapan mendapat syafaat nanti di hari kiamat.

Apem merupakan salah satu kue kukus yang biasanya dihadirkan dalam acara selametan. Apem diambil dari bahasa Arab ‘afwun yang artinya maaf. Kue ini menjadi simbol permohonan maaf kepada Sang Pencipta. Wedang sebagai tambahan kesukaan almarhum ketika masih hidup di dunia. Dimar atau damar adalah lampu minyak yang berarti supaya terang, artinya orang yang meninggal itu sedang dalam “perjalanan”, jika jalannya terang ia tidak akan tersesat.

Begitulah makna dan gambaran mengenai dimar tersebut. Yang terakhir adalah bunga yang bermakna kendaraan dalam bahasa Jawanya “ngirim gandha sari rasa wujude sekar turangga jati” intinya melangitkan doa dengan simbol bau harum bunga dan kuda jati.

Sajen yang kedua terdiri dari pisang, kelapa, beras, bermacam-macam bunga, dan telur. Pisang dalam Bahasa Jawa disebut gedhang maksudnya nggeget barang padang (menggigit sesuatu yang terang). Sesuatu yang terang di sini merupakan simbol ilmu yang bermanfaat sehingga harus betul-betul dicari dan dipegang teguh. Kelapa, seperti yang kita ketahui bahwa manfaat pohon kelapa sangat banyak mencangkup semua bagian pohon mulai dari batang, pelepah, lidi, daun, buah, sabut, bathok, dsb semua dapat dimanfaatkan.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia sudah seharusnya saling memberi manfaat sebagaimana pohon kelapa. Beras memiliki arti sebagai sumber kehidupan. Bunga simbol kendaraan untuk melangitkan doa karena bunga memiliki gondo (bau) harum yang menguar. Dan terakhir adalah telur sebagai lambang sangkan paraning dumadi  atau asal mula manusia berasal.

Sajen yang terakhir merupakan sajen inti yang berisi buceng pungkur yakni nasi yang dibuat seperti gundukan. Bedanya, gundukan ini dibelah menjadi dua dan diletakkan bersinggungan, di atasnya ditancapkan berbagai macam bunga meliputi: mawar, kenanga, dan kanthil. Artinya manusia hidup di dunia itu mengalami proses panjang sejak berpuluh-puluh tahun bahkan beratus-ratus tahun sebelum tercipta di dunia.

Setelah mengajatkan tumpeng barulah pembacaan tahlil bersama-sama seperti pada umumnya. Selametan selain bertujuan untuk mendoakan seseorang, sesungguhnya juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, khususnya bagi kehidupan bermasyarakat, merawat budaya gotong-royong. Karena dalam acara selametan biasanya tetangga akan bahu-membahu menyediakan makanan selametan dan bagi laki-laki bisa ikut serta mendoakan keluarga yang sedang berduka serta melestarikan budaya tepa selira

TINGGALKAN KOMENTAR