Ini sudah bulan Juli. Semarak peringatan hari kemerdekaan yang persisnya jatuh pada tanggal 17 Agustus sudah dimulai. Seluruh elemen masyarakat terlibat dalam kesibukan ini. Dari sekadar membersihkan selokan, membangun gapura di gerbang jalan masuk kampung, hingga pembentukan panitia untuk sekian banyak kegiatan: aneka lomba, karnaval, festival, upacara.

Entah apakah sungguh-sungguh untuk memaknai atau sekadar melaksanakan kebiasaan jika bulan Agustus adalah bulan penuh perayaan. Tapi, ya, alhamdulillah, meskipun tak sedikit yang kurang sreg dengan pemerintahannya –bukan negaranya, lho ya- tapi bangsa Indonesia adalah bangsa yang luar biasa dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan. Merasa beruntung telah dilahirkan di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Salah satu bentuk ekspresi rasa syukur itu adalah perayaan hari kemerdekaan.

Bangsa kita juga cerdik menipu Tuhan dan seluruh makhluk di muka bumi. Sesama anak bangsa kita pura-pura berantem hebat, bertengkar habis-habisan, memperlihatkan kepada manusia sejagat bahwa sedang terjadi civil war di negara ini-meskipun takada Iron Man team dan Captain America team– hanya gara-gara cebong dan kampret. Tapi begitu ada negara lain yang sokberani, nekat atau saking bodohnya mengakui salah satu kesenian atau kebudayaan dari salah satu saja daerah di negeri ini, semua pada kompak teriak;

“Ini milik kami! Meskipun kesenian atau kebudayaan ini tidak berasal dari daerah kami, tapi tanpa ini kami bukan Indonesia. Tak akan ada yang namanya Indonesia jika tak ada salah satu dari kami. Maka, jangan sekali-sekali berani macam-macam dengan kami. Wani-wani, takbacok sampeyan!

Ya langsung kecelik semua umat manusia di planet ini. 

Mereka semua menjadi pahlawan negeri ini karena bangsa Indonesia sadar mereka tak dapat mengharapkan Ultraman, Power Rangers, superhero-superhero dari DC dan Marvel. Mereka semua dagangan. Apalagi Gundala, Si Buta dari Goa Hantu, Arya Kamandanu, Gatotkaca dan lainnya. Generasi milenial sekarang ini justru bertanya, siapa mereka? 

Justru karena itulah bangsa Indonesia selalu semangat memeriahkan hari kemerdekaannya. Tak perlulah saya sebut kegiatan-kegiatan atau lomba-lomba yang biasa diadakan di bulan kemerdekaan. Kita semua sudah pada hapal, kan? Panjat pinang, makan kerupuk, tarik tambang, balap karung, berbagai olah raga perorangan maupun kelompok. Eh, kok saya sebut, ya? 

Semua yang dilombakan memiliki arti dan maksud tersendiri. Itulah kenapa lomba-lomba tersebut diadakan yang gunanya adalah untuk mengedukasi dan menjadi pengingat bahwa bangsa kita adalah bangsa pejuang, pekerja keras, selalu bergotong-royong, sabar namun cekatan, dan masih banyak lagi pelajaran lain yang bisa kita pelajari dari perlombaan Agustusan yang mencerminkan tentang karakter kita sebagai bangsa Indonesia. Mungkin pencipta lomba-lomba itu dulu berpikiran bahwa bangsa Indonesia generasi kini akan lupa dengan karakternya sendiri, sehingga perlu diingatkan meski setahun sekali. Generasi kini? Berarti seumuran saya dan kalian, kan? Hah, lupa? Kita dikatalupa…

Jadi, meskipun sekadar permainan, tapi jangan main-main ketika mengikuti permainan atau lomba-lomba di bulan Agustus. Itu adalah wujud penghormatan kita terhadap sejarah bangsa ini. Di sekolah, kita diberitahu bapak/ibu guru bahwa para pejuang proklamasi kita bertaruh jiwa raga, keringat dan darah demi bangsa ini. Di berbagai buku sejarahn egara ini kita juga sering membaca betapa heroiknya bangsa kita yang merebut kemerdekaan. Bukan meminta atau diberi. 

Di awal-awal kemerdekaan tertulis sejarah bahwa betapa heroiknya pemerintah menegakkan harga diri, kehormatan dan wibawa bangsa di mata dunia. Di masa selanjutnya sejarah menuliskan betapa luar biasanya pembangunan di negara ini. Terus berlanjut hingga sekarang. Sejarah terus berada pada kita sejarak satu detik, sepersepuluh, seperseratus, seperseribu, sepersejuta, sepermilyar, sepertrilyun, bahkan seperselebihnya trilyun detik di belakangkita. Kita tak henti membuat sejarah, minimal diri kita sendiri.

Ada yang bilang bahwa sejarah adalah produk penguasa. Apa yang tertulis adalah apa yang penting bagi penguasa. Sah-sahsaja, karena mereka berkuasa. Jika mereka menuliskan sesuatu yang kita mengetahui bahwa itu bukanlah sejarah yang benar, lantas bagaimana? Terserah kita. Mendiamkannya atau berusaha untuk memberikan cara pandang dan sudut pandang baru bagi masyarakat kini dan generasi setelah kita tentang sejarah yang kita ketahui. Pilih saja. Caranya? Menuliskan apa yang kita ketahui.

Kenapa harus melalu itulisan? Salah satu cara untuk mengabadi adalah lewat tulisan, kan? Maka jangan heran jika ada daerah-daerah yang sejarah keberadaannya sejak awal berdiri hingga sekarang tetap terjaga, dipastikan karena ada masyarakatnya yang mau menulis tentang tanah tumpah darahnya. 

Mungkin ada baiknya kegiatan-kegiatan dan lomba-lomba Agustusan di desa kini tak lagi hanya yang bersifat raga. Jangan cuma memperpanjang barisan orang kesurupan atau bahkan teler. Sungguh penting untuk memperkuat jiwa dan rasa. Mungkin bisa dimulai dengan lomba menulis tentang perayaan Agustusan di desa sendiri, buat acara nonton bareng film-film perjuangan, serta lomba menulis kisah atau puisi perjuangan, atau lomba menulis sejarah tentang desanya(?)

Salam Lestari!

TINGGALKAN KOMENTAR