gunung-orak-arik-Trenggalek
Sunrise di Gunung Orak-arik - Foto: Irwan Habibi

Bersama seorang teman, saya naik Gunung Orak-arik yang tingginya cuma 300 Mdpl itu. Kendati saya naik dengan cara merangkak ketika beberapa meter lagi menuju puncak, rasanya cukup menggembirakan. Orak-arik berada di sebelah selatan dari pusat kota, sementara di sisi barat atau dari tengah kotanya (alun-alun), berlokasi Gunung Jaaz (gunung yang tingginya nambah 5 meter lagi dari tinggi Gunung Orak-arik). Di sebelah utara kota ada Gunung Sinawang, dengan ketinggian tidak jauh berbeda dari kedua gunung sebelumnya. Atau barangkali agak lebih tinggi sedikit dari, baik Gunung Orak-arik maupun Gunung Jaaz. Sementara Gunung Rajekwesi—yang berada di sebelah timur kota kabupaten—adalah gunung paling jauh dari pusat kota dibanding ketiga gunung sebelumnya. Di sekitar Gunung Rajekwesi, tepatnya pada salah satu bukit, bahkan hidup beberapa kepala keluarga—bagian dari masyarakat Dusun Gemblung. Oleh keempat gunung (atau bukit) inilah pusat kota Trenggalek dilingkari. Beruntung—dengan beberapa teman yang berbeda—saya punya kesempatan naik keempat gunung tersebut.

Gunung Orak-arik tak sebesar tiga gunung yang lain. Ia gunung paling rendah dan juga paling kecil. Bahkan, kemungkinan lebih kecil dibanding Gunung Keba, yang terletak di belakang terminal bus. Tapi Gunung Orak-arik punya jajaran yang terangkai ke selatan lalu melingkar ke timur hingga barat pertigaan Ngetal (Kecamatan Pogalan). Tepatnya, di pertigaan jalan menuju Kecamatan Gandusari, Kampak dan Munjungan. Adapun Gunung Jaaz tepat berada di barat alun-alun, tak kurang dari dua kilo ia bisa kita capai, mulai dari kakinya hingga naik ke puncaknya. Ini gunung yang track-nya lebih mudah ketimbang gunung-gunung lain yang melingkari pusat kota. Tepat di timur Gunung Jaaz, jalur Sungai Bagong dan lembah tempat pemukiman masyarakat Trenggalek yang hidup di pusat kota, yang dikelilingi gunung. Masyarakat kota/Kecamatan Trenggalek terbagi dalam beberapa kelurahan, di antaranya, Surodakan, Sumbergedong, Ngantru, Tamanan, Kelutan, Rejowinangun, Sambirejo dan beberapa kelurahan lain.

Kota Trenggalek (Kecamatan Trenggalek) dibelah oleh Sungai Ngasinan dan Sungai Bagong di sisi barat dan sisi selatannya. Di sebelah utara kota, ada Gunung Sinawang. Ini gunung yang paling teduh di antara kedua gunung sebelumnya. Barangkali karena vegetasi yang tumbuh lebih lebat dan merata. Gunung Sinawang tampak membujur dari timur ke barat, meski sebetulnya membujur dari selatan ke utara. Sebab, di sebelah utaranya adalah rangkaian bukit atau gunung yang terus terpojok ke utara sana lagi, hingga di kaki Gunung Wilis, nama gunung yang lebih besar lagi. Di antara rangkaian Gunung Sinawang ini, bagian timurnya adalah rangkaian Gunung Rajekwesi. Andai Rajekwesi ditarik ke utara, maka juga akan bersambung dengan kaki Gunung Wilis. Gunung Rajekwesi dan Gunung Sinawang adalah bagian dari jajaran Gunung. Sekurangnya, kalau dihitung dari Rajekwesi berderet beberapa gunung lain: Gunung Tumpak Petung, Gunung Condrogeni, Gunung Tumpak Watu Pecah. Sementara deretan Sinawang adalah Gunung Tumpak Jaran, Gunung Sinawang sendiri, dan beberapa nama gunung lain.

Di kaki Rajekwesi terdapat bukit bernama Gemblung. Di sana hidup kira-kira sekitar 20-an kepala keluarga. Di sore yang lembut disertai gerimis tipis-tipis, kaki-kaki kami, saya dan beberapa teman, pernah memasuki jalanan setapak berkelok naik dipenuhi batu dan kerikil juga lempengan-lempengan andesit menuju ke atas. Ke perkampungan di timur Gunung Rajekwesi. Mulanya kami berangkat menyusuri jalanan di utara perempatan Dunglurah (Pogalan) ke timur hingga Desa Semarum (Durenan). Mendekat ke lokasi di mana dahulu pondasi dari bata merah pernah ditemukan (Candi Semarum). Di barat lokasi penemuan candi yang telah di-uruk kembali itulah celah/pintu masuk menuju Bukit Gemblung berada. Menelusuri jalanan setapak sepanjang kurang-lebih 1 km menuju ke atas. Sebelum kemudian, memasuki dusun yang rumah-rumahnya tidak terlalu tertib sebagaimana rumah-rumah di dataran di bawah sana.

Di Semarum, di kaki Gunung Gemblung sebelum naik, di sore yang gerimis itu, sekelompok pemuda dan orang tua tengah menenggelamkan diri dalam obrolan di atas angkringan. Di belokan, menuju celah masuk menuju Gemblung, jalanan sudah dimakadami hingga ke ujung: saat tiba di jajaran greng (rimbunan bambu) bercokol, jalanan mulai berbelok dan naik ke atas hingga pada batu-batu yang diguyur aliran sungai, membentuk coban atau air terjun kecil. Kami berhenti menikmati aliran sungai membentur batu, menamat-namatkan alirannya, sebelum naik lagi: menenggelamkan diri mengamati sekeliling, di antaranya membayangkan keseharian masyarakat Dusun Gemblung yang hidup di atas bukit. Di situ, saya seperti menemukan lintasan-lintasan waktu yang menyembunyikan peristiwa dari masa lampau. Meski tidak terlalu lampau.

Ada pertanyaan terselip: bagaimana sebuah pedusunan bisa memencil atau mengucilkan diri di atas pegunung/perbukitan seperti ini. Lokasi yang jauh dari keramaian dengan akses jalan ke atas yang pula agak sulit: jalan setapak yang meski bisa dilalui sepeda motor—dari jenis, dengan roda yang tentu menyesuaikan medan—masih terus bertahan hingga kini? Kenapa tak ada niat penghuni dusun ini, turun membuat rumah di dataran sana: membaur dengan masyarakat lain? Atau barangkali sebagian mereka sudah punya rumah di bawah sana?

Perjalanan saya, setapak demi setapak, menautkan pada sesuatu: masa kini ke arah masa lampau; masa lampau ke dalam masa kini: menyetrumkan sesuatu yang resiprokal. Saya tak lagi memandang dan memaknainya sebagai sebuah keterpencilan, melainkan sebagai pemukiman khusus yang justru bisa menjaga memori masa lampau terus awet dan bisa berdenyut saat dikunjungi.

Sewaktu ke Bukit Gemblung, saya belum menemukan angkringan kayu yang digagas oleh sekelompok pemuda, yang belakang hari kian ramai. Kalau kita masuk ke lokasi di atas, tampak rangkaian gunung/bukit yang mengapit Gemblung, bergerak ke utara. Saat tiba di sekitar pemukiman, kami tak sempat bercakap dengan penduduk di sana, tak lebih sekadar bertegur sapa seperti mangga dan sejenisnya. Lagi pula, saat kami masih berada di atas, tiba-tiba diserang hujan mendadak, yang tanda-tandanya telah dimulai sejak kami datang. Karena kebetulan membawa bekal nasi bungkus berlauk ikan laut, saya pun membukanya ketika mampir berteduh di sebuah gubuk. Memakan bekal dengan berjamaah sembari menunggu hujan lebat reda.

gunung-kuncung-trenggalek
Gunung Kuncung Gandusari, Trenggalek – Foto: Misbahus Surur

Kapan harinya lagi, dengan diantar seorang teman, saya naik ke gunung/bukit di sebelah timur Gandusari. Nama gunung/bukit tersebut adalah Kuncung. Lokasinya berdekatan dengan Bukit Banyon. Bukit Kuncung ditumbuhi pepohonan, meski rerumputan lebih banyak menghijaukan permukaannya. Bahkan rerumputan di sana bisa menciptakan padang rumput yang elok dan sangat cocok apabila di lain kesempatan, bisa berkemah dengan menginap dalam satu atau dua hari. Serat Centhini, salah satu kitab peradaban Jawa era akhir, telah sedikit-banyak turut mereportasekan beberapa bukit dan gunung yang berlokasi di Trenggalek, yang—kalau saya tak keliru mengidentifikasi/men-toponim(kan)—salah satunya adalah Bukit/Gunung Kuncung ini. Selain, beberapa sungai dan jenis kesenian yang pernah dihidupi masyarakat Trenggalek di masa lampau, yang juga turut diterakan serat dari jenis kakawin, peninggalan peradaban Mataram Islam tersebut.

 ***

Trenggalek adalah kabupaten yang dilingkupi gunung, bukan hanya di pusat kotanya, melainkan juga hampir di seluruh daerah kecamatannya. Dari gunung, sumber daya alamnya diolah serta dibudidaya masyarakatnya dari sektor perkebunan, perhutanan juga pertanian untuk kemakmuran masyarakat dan menghidupi keluarga. Tentu juga karena air masih cukup terjaga dan gunung-bukitnya juga lumayan masih hijau, setidaknya bila dibanding dengan daerah-daerah lain (?). Ada banyak pegunungan dan perbukitan di sekitar kita. Gunung dan bukit adalah tempat hidup habitat pepohonan dan kekayaan tanaman (flora) sekaligus daerah alami bagi berbagai jenis hewan (fauna). Penggundulan gunung berserta hutan-hutannya sebab itulah menjadi sangat terlarang. Apalagi, melakukan penambangan di pegunungan/perbukitan, yang dampaknya bisa lebih hebat ketimbang penggundulan hutan.

Ingat, bukan hanya soal kerusakan ekologi seperti sumber air dan produktivitas lingkungan yang akan remuk, juga tertutupnya akses penghidupan masyarakat, melainkan juga tradisi dan kebudayaan manusia akan turut lenyap dan musnah. Percayakah bahwa kebudayaan dan tradisi yang dihidupi masyarakat tercipta dan dihasilkan tak hanya oleh interaksi antarmanusia, melainkan yang lebih besar bersumber dari interaksi yang harmoni antara manusia dengan alam sekitarnya. Alam sekitar itu berupa dunia agraris yang pendukung utamanya adalah pegunungan, perbukitan, hutan (pepohonan), mata air dan sungai-sungainya yang masih jernih dan alami. Jangan dikira keasrian dan kehijauan alam tak mempengaruhi manusia menciptakan akar-akar kebudayaannya.

Ada sebuah parafrase dari Soe Hok Gie: mencintai suatu obyek tak bisa ter-realisasi tanpa mengenalinya lebih mendalam. Dan saya kira jalurnya telah terentang dan melempang di hadapan kita: dengan menyusuri gunung dan bukit, mengamati lebih dekat karakter sekitarnya, selain kehidupan masyarakatnya adalah kehidupan pepohonan dan habitat hewan-hewannya. Di bukit-bukit dan gunung, pepohonan menjadi tadah hujan alami, sementara di kaki pegunungan-perbukitannya, pemukiman sebagian besar masyarakat Trenggalek mengukir sejarah hidup kesehariannya sejak baheula hingga kini, dengan kebaikan-kebaikan gunung yang melimpah berikut segala duka atas kiriman bencana-bencananya.

Coba lebih mendekat ke gunung-gunung itu, dan lebih mengenali lagi daerah kita: ke daerah-daerah pertanian di mana interaksi petani dengan ladang serta sawahnya masih teramat lekat, bawaan kehidupan masa lampau (bercocok tanam). Dari sana pulalah kesenian Turangga Yaksa—yang dijadikan ikon masyarakat Trenggalek ini—tercipta serta dilahirkan. Sama sekali bukan dari tempat-tempat gersang, tandus dan penuh limbah. Kalian tahu, akal-budi manusia tak bisa diolah dari kegersangan lingkungan, kerusakan ekologi, pencemaran tanah juga limbah dari tambang dan pabrik.

Jangan sampai bencana-bencana yang sudah susah diatasi itu (sedikitnya berupa longsor dan banjir), harus ketambahan lagi dengan misalnya sengketa lahan, konflik agraria oleh mula-mula di antaranya deal-deal (pengizinan) penambangan masuk ke daerah-daerah pegunungan dan perbukitan kita. Gunung-gunung, bukit juga sungai-sungai yang sudah tentram berada pada tempatnya masing-masing, menjulang dan mengalir-berkelok seperti adanya, menyembunyikan magi dan keajaiban yang tak bisa dikembalikan lagi seperti sediakala ketika telah (di)rusak. Saat mereka diusik dengan, di antaranya penambangan dengan berbagai bentuknya, atau dalih pembangunan (developmentalisme) yang biasanya terampil mengakali analisis dampak lingkungan (amdal), tinggal tunggu saja alam akan menaburkan malapetakanya, yang tentu lebih besar daya rusaknya ketimbang sekadar banjir atau tanah longsor, yang terbukti sudah sangat menyusahkan kita.

Tak adakah kegiatan lain selain melubangi gunung atau bahkan memindahkan bukit-bukit di desa-desa itu ke kota dengan eceran angkutan truck (tanah kaulin), sekadar meladeni nafsu ekonomi beberapa gelintir orang. Alangkah senang dan damainya merasakan tinggal di kaki gunung dan bukit yang teduh. Hal paling baik bagi saya, adalah dilahirkan di sebuah rumah di daerah pegunungan. Dan hal terbaik, adalah hidup di sini, di bumi yang diteduhi pohon-pohon besar nan rindang, dengan semilir udara yang lembut, bukan di tempat panas dan berkeringat akibat efek gunung digunduli atau bukit-bukit yang melorot dari bekas galian tambang. Mari menolak segala jenis tambang, demi kelangsungan hidup segala makhluk hidup dan generasi mendatang.


Judul ini terilhami judul novel Thomas Mann, The Magic Mountain.