Desa Konohagakure yang Aneh

78
Desa Konohagakure yang Aneh

Beberapa hari ini mengumpulkan niat (yang agak nanggung) untuk memulai nonton anime Boruto (tentu lebih menyenangkan melihat gambar bergerak daripada membaca manga). Sekuel (beberapa laman menyebutnya dengan spin off) yang telah berperan cukup penting mendampingi generasi kami titimangsa awal 2000an.

Dari 50-an episode yang sudah ditonton maraton sejak seminggu lalu, ketakutan sebagai dasar niat nanggung untuk nonton serial ini teramini. Di suatu sore yang biasa-biasa saja saya pernah ngobrol dengan salah satu teman SMA, alasan-alasan kenapa Boruto sepertinya masuk kategori anime yang kalau ada waktu luang di tengah kesibukan rebahan saja nontonnya.

Cerita serial ini dimulai dengan wajah baru dunia ninja yang sarat akan kemewahan teknologi. Gedung dan bangunan mewah pasca perang dunia ninja ke empat menghiasi sudut-sudut Desa Konoha, pengunaan lift dan alat hitung elektronik, sampai pada restoran Ichiraku yang terlihat glamor. Persoalannya bukan perkara itu. Bagi kami, yang agak membingungkan adalah bagaimana bisa terjadi lompatan teknologi sekejap (hanya butuh 15 tahun) dari kapal uap ke kereta listrik, papan reklame dengan wadah televisi layar datar, kapal laut bermesin sebagai alat transportasi antar negara, sampai pada penggunaan IoT (Denki pernah menggunakan laptop dalam membobol sistem keamanan gedung akademi).

Eropa perlu puluhan tahun sejak mesin uap ditemukan James Watt hanya untuk memasifkan penggunaan kereta menggantikan sepeda dan alat bantu transportasi yang digerakkan oleh hewan. Kita perlu lebih dari setengah abad sejak Alan Turing memecahkan kode enigma sampai pada ditemukannya kecerdasan buatan. Teknologi lain bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkembang sampai taraf paripurna. Konoha hanya perlu 15 tahun untuk melompat dari revolusi industri 1.0 ke revolusi industri 4.0. Capaian yang menakjubkan sekaligus menggelikan.

Barangkali, alasan paling masuk akal adalah letak geografis Desa Konoha. Letak geografis suatu wilayah adalah salah satu hal paling krusial yang dapat mempengaruhi perkembangan teknologi dan manusia dibanding dengan wilayah lain (Djared Diamond, 1998). Desa Konoha memang wilayah yang tumbuh di tengah oasis yang rimbun. Dikelilingi hutan, sungai yang bersih dan sumber daya alam melimpah ruah, serta iklim relatif jinak dengan tanaman.

Bayangkan jika pasukan anbu hidup di Kirigakure yang sedikit-sedikit wilayahnya diselimuti kabut, atau Amegakure yang hampir tiap hari turun hujan. Gimana mau mikirin kereta cepat wong ingin nanem ubi jalar aja sulit.

Dari anomali-anomali di atas, tentu kita masih bisa menikmati cerita spin-off yang sarat dengan petuah adiluhung ini. Dari banyak kisah dan cerita film superhero, villain yang punya prinsip menata ulang tatanan pemerintah dunia adalah cerita yang paling menarik. Sebut saja One Piece, manga karangan sensei Oda. Meskipun keseluruhan cerita berkutat pada penemuan harta paling besar bajak laut, inti dari One Piece adalah mengubah tatanan pemerintah dunia yang dzalim dan tidak adil pada rakyatnya.

Anakkopi pernah menulis kajian panjang lebar soal bagaimana Oda mempersepsikan anarkisme dalam manganya (medium, 2018). Tentu yang dimaksud istilah anarkisme dalam hal ini bukan vandalisme yang salah kaprah penggunaannya pada televisi kita hampir tiap saat.

Mayoritas penonton DC sepertinya sepakat bintang dalam trilogi Batman adalah Bane, bukan Bruce Wayne yang bisa tak terlihat kalau lampu dalam filmnya dimatikan. “Kami adalah bagian dari kelompok rahasia yang bertujuan membebaskan dunia, membebaskan manusia dari negara yang korup, kami adalah Red Lotus. True freedom can only be achieved when oppressive goverment are torn down”, begitu yang dikatakan Zaheer saat bertemu Avatar Koora pertama kalinya.

Naruto dan Boruto, melawan musuh yang sama-sama bandel dalam mencapai tujuan-tujuan anarkisme. Organisasi akatsuki dibuat untuk menghancurkan sistem pemerintahan negara-desa. Bahwa munculnya negara-desa yang diinisiasi para kage pertama hanya awal dari pelanggengan kelas sosial (tribe) elite dan jelata. Bahwa garis keturunan elite yang lahir dari klan macam uchiha, aburame, yamanaka, punya previlege yang begitu besar dibanding mereka yang lahir dari orang biasa.

Negara-desa dalam konsep cerita Naruto-Boruto hanya menyorot kehidupan manusia-manusia yang berada pada jalur yang sudah ditakdirkan jadi hokage, kepala kepolisian, pasukan elite. Mereka yang tidak terlahir dari keturunan klan pemegang ninjitsu terkuat hanya menjadi karakter-karakter pembantu.

Saya masih berharap mampu meneruskan jalan cerita Boruto sampai on going 150-an episode yang rilis pada minggu ini dan mengembangkan artikel ini jauh lebih tak berguna. Tentu kalau tulisan ini dimuat oleh editor dan penjaga gawang nggalekdotco yang sama-sama anehnya itu.

Gilang Tri Subekti
Peternak kampung. Pernah jadi tukang poto Turonggo Yakso: Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi dan Spirit of Iron. Sekarang mengajar bidang studi sejarah di Madrasah Aliyah