Saturday
24 October 2020
Njajah Desa Milang Kori


Manipulasi Digital dalam Politik

Sebuah Opini dari Pulung Nawawijaya terbit pada 19 September 2020 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 2 menit.

Bagaimana warga yang budiman sudah mulai banyak akun tak dikenal yang mengirim permintaan pertemanan ke akun Facebook Anda dan grup lokal di kota Anda? Jika sudah, selamat datang di dunia politik digital yang penuh dengan manipulasi dan mempengaruhi alam bawah sadar Anda semua. Perang politik di dunia maya akan lebih barbar daripada pertarungan politik old school.

Dalam dunia maya yang penuh manipulasi, kita dipaksa untuk mengikuti algoritma dari media sosial sesuai yang Anda buka. Sebagai contoh, jika Anda menyukai akun otomotif dan aktif memberikan komentar & like, sudah pasti yang akan tampil secara terus menerus adalah semua hal tentang perkara otomotif. Begitu juga iklan yang akan masuk ke akun Anda akan didominasi dengan iklan yang berkaitan dengan otomotif.

Bagaimana jika masuk dalam akun perdebatan politik yang biadab di dunia maya, sudah bisa dipastikan yang akan ditampilkan di media sosial perdebatan politik yang biadab dan terus akan muncul hingga tanpa sadar Anda terpengaruh dengan perdebatan itu. Kecenderungan untuk bertindak sama dengan apa yang Anda lihat akan semakin besar. Pernah mendengar skandal cambridge analytica yang dituduh membantu pemodelan calon pemilih untuk pemilu Amerika Serikat tahun 2016 yang menghasilkan Trump sebagai presiden Amerika Serikat ke 45 dan lepasnya Inggris dari Uni Eropa.

Pemodelan yang dilakukan oleh cambridge analytica tepat mengiring alam bawah sadar calon pemilih Hillary Clinton untuk tidak berangkat ke TPS dan meningkatkan ketertarikan swing voter kepada Trump. Semua itu dilakukan dengan teknologi buka dengan kampanye langsung. Itulah kenapa politik di dunia maya lebih sadis .

Bagaimana dengan Indonesia? Sama saja. Ada tentu masih ingat dengan keberadaan akun twitter @triomacan2000 yang melakukan serangan-serangan pribadi kepada para tokoh, kemudian MCA atau muslim cyber army yang berisi propaganda politik & Islam dalam rentang waktu 2016-2019. Dan yang paling baru adalah sebutan BuzzerRP, sebutan kelompok propaganda yang diduga digunakan oleh elite untuk menutup isu liar terkait dengan kebijakan aneh yang dikeluarkan pemerintah.

Selain serangan-serangan BuzzerRp, publik juga diserang oleh DOXING kepada individu yang memberikan satu isu tertentu. Doxing sendiri adalah sebuat kegiatan hacktivisme yang berupa menyebarluaskan info pribadi individu dengan tujuan tertentu. Selain doxing juga ada hacking, akun media sosial & aplikasi messenger. Kejadian ini yang terjadi pada Ravio Patra yang Whatsapp Messenger-nya tiba-tiba tidak dapat diakses oleh dia, dan mengirim pesan ajakan untuk melakukan kerusuhan.

Kondisi politik digital kita yang masih di zaman kegelapan diperparah dengan UU ITE khususnya pasal 27, pasal karet yang digunakan para elite untuk merepresi publik dengan delik pencemaran nama baik. Anehnya pasal karet ini masih dipertahankan oleh parlemen dan selalu tak masuk dalam rencana revisi di prolegnas.

Bagaimana proyeksi perang digital di Pilkada tahun ini? Ini yang lebih menakutkan, melihat di mana publik tidak ter-literasi-digital-kan, dan tak terbiasa melakukan ceking berita atau isu, yang mengerikan adalah semua informasi dari media sosial & whatsapp grup dianggap sebagai kebenaran, kemudian digunakan sebagai sumber informasi utama saat bertukar informasi secara langsung.

Politik digital memang akan menjadi pertarungan ide politik yang lebih sadis dibanding dengan pertarung sebelumnya. Serangan terhadap individu akan jauh lebih banyak dan sadis. Perang digital akan banyak terjadi di grup WA & grup pada FB. Kondisinya akan diperparah dengan kebiasaan kita yang menyukai hal-hal berbau semacam konspirasi & informasi rahasia serta selalu ingin yang pertama menjadi informan. 

Pergeseran permainan politik merupakan salah satu keniscayaan, karena peran media sosial yang semakin masif. Dunia maya menjadi dua mata pisau yang saling terikat, kemampuan menyerap informasi menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki publik. Selain itu, pemerintah juga harus menyediakan aturan yang jelas dan adil dalam penggunaan media sosial. Media sosial merupakan alat manipulasi paling efektif di dunia, tergantung siapa yang menggunakan, hanya memiliki satu batasan yaitu etika manusia itu sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR