27.4 C
Trenggalek
Senin, September 27, 2021
BerandaCERPENDialog Dua Dunia

Dialog Dua Dunia

Sakti duduk seorang diri di bawah pohon beringin yang terletak tidak jauh dari pabrik tempatnya bekerja setelah jam kerjanya berakhir. Dia membuka botol mineral yang dimasukkan ke dalam tasnya oleh kekasihnya saat beranjak ke pabrik. Air mengaliri kerongkongannya yang keringnya terasa seperti musim kemarau.

Semenjak bekerja di kantor, Sakti mempunyai rutinitas baru, yakni berangkat pagi pulang petang, terkadang berangkat malam pulang pagi. Rutinitas yang ia laksanakan untuk menyenangkan hati kekasihnya, meskipun hatinya sendiri tidak merasa senang. Kekasihnya tak pernah tahu tentang perasaan yang berkecamuk di hati Sakti, karena Sakti tak pernah ingin melihat kekecewaan di wajah cantik kekasihnya. Sakti telah mengabdikan diri pada kekasihnya atas nama cinta.

Sakti dan kekasihnya termasuk pasangan muda karena umur pernikahannya baru berjalan satu setengah tahun. Sakti dan kekasihnya sama-sama alumni kampus ternama di Jawa Timur, mereka saling mengenal dan mencintai pada semester akhir sebelum akhirnya memutuskan untuk melaksanakan pernikahan setahun setelah kelulusan.

Sebelum dia melepaskan sadar dalam dekapan kekasihnya, Sakti selalu meluangkan waktu untuk membaca buku di beranda rumah bertemankan sunyi. Kekasihnya tak pernah menggangu saat sedang menikmati buku-buku. Pada kekasihnya dia pernah mengatakan, “kekasih pertamaku adalah buku dan kekasih utamaku adalah dirimu”.

Malam itu, dia sedang menuntaskan bukunya Priya Kumar yang berjudul The Calling: Unleash your True Self.

“Apakah kehidupanmu sekarang adalah kehidupan yang kau dambakan, wahai pemuda?”.

“Mengapa kau habiskan waktumu di tempat yang hanya menyembah angka-angka? Bukankah hari itu kau pernah memimpikan kehidupan yang di dalamnya terdapat kemesraaan dari pohon-pohon, kemakmuran dari sawah-sawah, kesejukan dari gunung-gunung, keindahan dari samudra, dan kebajikan dari tuan-tuanmu? Apakah kau melupakan semuanya itu?”

“Mengapa kau kerdilkan makna kata cinta?”

“Apa kau pikir Tuhanmu tidak akan memberikan balasan atas segala perbuatan yang sudah kau lakukan, wahai pemuda?”

Seorang kakek berambut panjang berwarna putih dan membawa dua buah buku menghujani Sakti dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalanya terasa berat. Sakti sebelumnya pernah bertemu dengan kakek tersebut, tapi tak mengingat waktu dan tempat pertemuan itu. Kakek itu duduk bersebelahan dengannya, lalu menatapnya dengan mata penuh kebijaksanaan. Sakti tak kuasa menatap mata kakek tersebut.

“Apa yang seharusnya saya lakukan, Kek?”

“Kehidupan yang saya dambakan, sampai kapanpun nampaknya hanya akan jadi kehidupan yang saya dambakan, kek?”

“Saya mempunyai seorang kekasih yang sangat saya cintai. Apakah ada seorang perempuan yang mau hidup dengan kekasihnya hanya berlandaskan cinta, Kek? Dan jikalau ada, apakah ada lelaki yang rela menghidupi kekasihnya hanya berlandaskan cinta, Kek?” Saya hidup di kota yang dikendalikan oleh angka-angka.”

“Tuhan yang mana yang seharusnya saya puja, Kek?”

Sakti bertanya balik pada kakek tersebut, walaupun kepalanya semakin terasa berat. Si kakek hanya menatapnya tanpa ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaannya. Beberapa saat kemudian kakek tersebut berdiri dan menyodorkan dua buku yang dibawanya pada Sakti. “Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Kebijaksanaan” judul yang tertulis pada buku tersebut.

Saat beranjak dari rumah Sakti, kakek tersebut berpesan;

“Carilah jawabanmu sendiri. Tentukan langkahmu. Pahami dan amalkan isi dari kedua buku itu, jangan meninggalkan salah satunya”.

“Kek, buku mana harus saya pahami dan amalkan terlebih dahulu?”

“Carilah jawabanmu sendiri!”

Si kakek pergi setelah tersenyum sejenak, dan kepala Sakti semakin tak karuan.

“Kek… kakek… kakek”

“Mas… mas… bangun!”, ucap kekasih Sakti sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sakti.

“Kakek siapa, Mas? Tidak ada siapa-siapa di sini. Ayo, bangun mas. Sudah pagi..” lanjut kekasihnya setelah Sakti cukup sadar.

“Tadi… tadi ada seorang kakek duduk di sini” jawab Sakti seraya mengarahkan tangannya pada dipan di sebelahnya.

“Tidak ada siapa-siapa, Mas. Sudah. Ini kopi pagi-sang penyemangat untuk menjalani hari ini” ujar sang kekasih dengan senyum yang mengembang.

Selepas Sakti meminum kopi, dia mengutarakan keputusan-keputusan penting pada kekasihnya, di pagi hari sebagai tanda datangnya hari baru.

M. Alfiyan
Mahasiswa UIN Maliki Malang, Jurusan Sastra Inggris, kelahiran Semarang. Ia anggota perpustakaan jalanan, Sanggar Baca Bawah Tanah (SABBATH). Tetap giat melaksanakan ibadah ngopi walaupun pandemi.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru