burung balabat

Pisang Darman memang ajaib, sejak Nyi Sumi menyajikan pisang goreng yang dipetik dari kebun Darman warungnya jadi laris, begitu pula ibu-ibu dusun, berkat pisang Darman mereka jadi punya kesibukan, mengolahnya menjadi beragam olahan yang bisa dijual ke toko-toko.

“Lik Darman itu punya mantra yang bikin pisangnya jadi enak. Beda sama pisang-pisang yang kita tanam.” Kata Samijo sambil mengunyah pisang goreng buatan Nyi Sumi.

“Herannya  pisang yang kita tanam  tak seenak pisang milik Lik Darman. Padahal dari satu jenis pisang yang sama.” Wono menimpali.

“Saya juga pernah minta bibit sama Lik Darman. Pas panen, saya bandingkan dengan pisang Lik Darman, rasanya jauh, sangat jauh berbeda.” Sahut Parman. “Saya heran, apa sih, rahasia Lik Darman sehingga pisangnya seenak itu?”

“Kalau tak ada Lik Darman warung saya ini bisa sepi,” kata Nyi Sumi tak kalah bersemangat, “berkat pisang-pisang Lik Darman, saya bisa bikin pisang goreng yang enak. Sehingga kalian tak bosan-bosan datang kemari.”

“Betul, pisang goreng buatanmu memang enak, Nyi,” kata Samijo, “rasanya itu lho, mak krenyes-krenyes gitu.”

“Yang penting jangan ngutang lagi,” balas Nyi Sumi.

Orang-orang yang mendengar jawaban Nyi Sumi tertawa. Samijo celingak-celinguk menahan kesal.

“Jangan khawatir Nyi, hutang-hutangku akan segera lunas begitu pasirnya diangkut.” Kilah Samijo. “Mau bagaimana lagi Nyi, penghasilanku, ya, cuma dari pasir itu.”

“Apa tak dapat jatah uang jajan dari istrimu?” tanya Nyi Sumi. “Bukanya istrimu ikut perkumpulan usaha pisang?”

“Masak suami minta sama istri,” jawab Samijo, “lagipula penghasilan istriku hanya cukup buat beli bumbu masak sehari-hari dan uang jajan anak-anak.”

Nyi Sumi tersenyum  menggoda, lalu berbalik ke dapur. Senyumnya masih menawan meski rambutnya mulai memutih. Padahal usianya masih sekitar tiga puluh tahun. Mungkin karena ia harus merawat tiga orang anak seorang diri tanpa ditemani suami sehingga rambutnya cepat putih.

“Tadi, saya lihat Pak Lurah datang ke rumah Lik Darman lagi.” Kata Parman. “Setelah Pak Lurah pulang, datang segerombol orang, tapi tidak tahu pasti siapa orang-orang itu. Saya terburu-buru sehingga tidak sempat memastikan.

“Bukan nagih hutang, kan?” tanya Wono.

“Bukan, Lik Darman tidak pernah sudi hutang sama Pak Lurah.” Jawab Nyi Sumi yang tiba-tiba sudah datang lagi sambil membawa senampan gorengan. “Lik Darman sama Pak Lurah sejak kecil sudah saling menanam benih permusuhan. Jadi tak mungkin kalau Lik Darman hutang sama Pak Lurah. Ibu saya yang cerita, soalnya ibu sepantaran dengan mereka.”

“Bisa jadi Pak Lurah menawar lagi buat membeli tanah Lik Darman yang ajaib itu,” kata Wono sambil mencomot pisang goreng yang masih panas. “Yang bisa menumbuhkan pisang-pisang ajaib.”

“Betul juga itu Won, soalnya dulu Pak Lurah pernah ingin membeli tanah Lik Darman. Tapi Lik Darman menolak. Padahal jarang orang dusun yang berani menolak tawaran Pak Lurah. Sebab tawarannya begitu menggiurkan. Dia berani menawar dua sampai tiga kali lipat dari harga biasa.” kata Samijo.

“Pak Lurah itu membeli tanah dengan harga tinggi karena ada udang di balik batu.” Kata Nyi Sumi, “apa kamu tak kapok jadi korban koperasi Pak Lurah?”

Samijo hanya menunduk. Mereka ingat bagaimana karyawan Pak Lurah datang ke rumah Samijo menarik paksa motor satu-satunya. Motor itu ia gunakan sebagai jaminan hutang dan ternyata Samijo tak mampu melunasinya.

Bukan hanya Samijo yang menjadi korban koperasi Pak Lurah, puluhan warga lain yang pinjam ke koperasi itu juga mengalami nasib yang sama. Bahkan kehilangan sebidang tanah.

Suami Nyi Sumi harus pergi ke luar negeri karena hutang-hutangnya ke koperasi sangat banyak. Sawahnya jadi jaminan. Sudah tujuh tahun menjadi buruh migran, hutangnya belum juga terlunasi.

Mulanya warga dusun mengira bahwa meminjam di koperasi tidak menimbulkan resiko. Maka mereka berduyun-duyun datang ke koperasi dan membawa berbagai dokumen sebagai jaminan. Lalu menggunakan uang hasil meminjam dari koperasi itu untuk membeli kulkas, mesin cuci, semen, bahkan ada yang membeli mobil bekas. Seiring berjalan waktu ternyata banyak dari warga yang tak mampu melunasi hutang, sebab bunga dari koperasi itu terlalu tinggi. Sehingga barang jaminan mereka ditarik paksa oleh koperasi.

Waktu itu ketika hampir semua warga dusun pergi ke koperasi, Darman justru meninggalkan keramaian dan mengasingkan diri ke tepi hutan. Membuka sebidang tanah dan menanam pisang. Padahal tanah yang digarap Darman dipercaya oleh warga dusun mempunyai tuah. Sehingga tak ada yang berani menggarap tanah itu kecuali Darman, mereka percaya tanah itu akan mendatangkan kutukan.

Maka kelakuan aneh Darman ditertawakan oleh warga lainnya. Namun, ketika mengetahui Darman sehat-sehat saja dan bahkan pisangnya tumbuh subur hingga berbuah orang dusun jadi segan. Buah-buah yang dihasilkan dari pisang itu rasanya lain dengan yang lainnya. Dimakan tanpa diolah pun enak, apalagi jika digoreng, atau dibikin kripik, rasanya sangat khas, dan jika digigit tekstrunya empuk, krenyes-krenyes seperti menikmati buah yang dikirim dari surga.

Mengetahui hasil kerja Darman, suatu hari Pak Lurah menandatangi Darman dan meminta agar Darman menjual tanahnya. Pak Lurah berkilah bahwa tanah itu milik perhutani, lebih baik dijual ke Pak Lurah daripada nanti bermasalah di kemudian hari. Tapi Darman menolak sehingga membuat Pak Lurah sangat kecewa.

Esok hari setelah Pak Lurah mendapat penolakan dari Darman, pohon-pohon pisang Darman rata dengan tanah. Dibabat oleh orang tak diketahui identitasnya. Mereka membabat pisang-pisang itu di malam hari. Tapi, Darman tak putus asa, ia menanam pisang lagi, hingga pisang-pisang itu berbuah kembali. Muncul dugaan bahwa yang membabat pisang Darman adalah preman yang dibayar oleh Pak Lurah.

Pak Lurah dan Darman memang tidak akur sejak kecil. Meski mereka sebetulnya masih saudara jauh. Dulu sewaktu masih kecil, Darman pernah menyelamatkan dua belas ekor burung balabat sekarat. Entah dari mana burung-burung itu datang dan masuk begitu saja ke rumah Darman. Darman merawat burung itu dengan memberinya makan dengan pisang. Dua belas ekor burung itu segera pulih. Lantas terbang kembali. Orang-orang dusun menduga  bahwa burung itu jelmaan malaikat. Sebab seluruh rahasia dari burung itu hanya Tuhan dan Darman saja yang tahu. Burung itu tak ditemukan di lain tempat, lalu karena Darman menyebut burung itu balabat, orang dusun ikut pula menamainya burung balabat.

Sewaktu kecil Pak Lurah memang suka membuat ulah, terlebih sering terhadap Darman, teman kecilnya itu. Suatu hari Pak Lurah mencuri pisang Darman. Membuat lubang dan menaruh pisang itu di dalamnya. Tiga ekor burung terjebak dalam lubang itu. Pak Lurah mengundang Darman ke rumahnya dan mengajak makan-makan. Setelah Darman mau pulang, Pak Lurah bilang lauk yang mereka makan tadi adalah burung hasilnya menjebak. Darman kaget tak terkira. Ia muntah-muntah. Lalu terjadi perkelahian di antara dua anak kecil itu. Maka sejak itu, Darman dan Pak Lurah tidak pernah akur lagi.

“Jadi, yang menyebabkan pisang Lik Darman menjadi seenak itu berkat hutang budi para malaikat?” tanya Wono.

“Tidak heran kalau Lik Darman didatangi malaikat. Orangnya memang suka memberi. Bisa jadi burung-burung itu memang jelmaan malaikat,” Samijo menyahut.

“Ssttt…” Nyi Taslima mendekatkan telunjuknya ke bibir. “Lihat siapa yang datang.”

Segera Parman yang mau menimpali perkataan Samijo terhenti. Mereka menoleh ke arah telunjuk Nyi Sumi.  Melihat Darman di kejauhan berjalan pelan menuju warung.

“Kopi satu, Nyi.” Pinta Darman kepada Nyi Sumi. “Kalian sudah lama di sini?”

“Iya Lik, dari tadi.” Jawab Wono.

Lalu mereka terdiam cukup lama. Saling menunggu ada yang lebih dahulu membuka percakapan.

Tiba-tiba Parman memecah keheningan, “Setelah Pak Lurah, ada orang lain yang datang, itu siapa Lik? Saya tadi melihat dari jauh tak sempat mengamati mereka.”

“Oh, itu…” jawab Darman terhenti sejenak, “orang-orang dari kelurahan. Mengukur tanah saya. Katanya mau bikin sertifikat. Tapi entah bagaimana sertifikat itu bukan atas nama saya. Melainkan atas nama Herman.”

“Maksudnya, Pak Lurah, Lik?” tanya Nyi Sumi membawa segelas kopi.

“Iya.. siapa lagi di desa ini yang namanya Herman?” Jawab Darman.

“Lalu bagaimana, Lik?” tanya Samijo. “Apa sampeyan diam saja?”

“Oh… mau apa lagi? Percuma, berurusan dengan orang macam Herman. Saya pilih pergi saja dari dusun ini.”

Mereka menghela napas. Tak di sangka ternyata Darman akan pergi lagi. Nyi Sumi tampak gelisah. Bakal tak ada lagi pasokan pisang dari Darman. Siang itu mereka lebih banyak diam dari biasanya.

***

Benar saja, semua pisang yang ditanam Darman dibabat habis, tanah itu kini dijadikan kebun jagung. Maka tak ada lagi pisang goreng di warung Nyi Sumi, ibu-ibu dusun kehilangan kesibukan, kini mereka menghabiskan waktu dengan mencari kutu.

Tak ada yang lebih kehilangan dari Samijo atas lenyapnya kebun pisang itu. Sebab, bagi Samijo, pisang Darman yang digoreng Nyi Sumi adalah satu-satunya kenikmatan di dusun ini, krenyes-krenyesnya tak bisa digantikan dari pisang goreng manapun.

Selang empat puluh dua hari kepergian Darman, dusun geger dengan peristiwa tak masuk akal, dua belas ekor burung terbang mengitari kediaman Pak Lurah, lalu menjatuhkan percikan-percikan api sehingga membakar seluruh harta Pak Lurah.

“Burung balabat datang lagi!”

“Burung balabat datang lagi!”

Ketika orang dusun berduyun-duyun memadamkan api yang berkobar, Samijo, dari kejahuan tersenyum penuh arti melihat api yang membumbung ke langit.