Jurug Nanas
Jurug Nanas

Selain daerah pesisir, Watulimo—kecamatan ujung tenggara Kabupaten Trenggalek ini—khususnya Desa Dukuh, adalah tempat yang bisa dipilih bila ingin melakukan susur sungai, dengan melewati ladang-ladang di tengah hutan desa. Dukuh memang dilimpahi potensi alam yang melimpah, di antaranya desa ini cukup terkenal di sektor pertanian buah-buahannya. Barangkali, pendapat saya, kelak desa ini tak perlu dibangun oleh infrastruktur yang mengubah lingkungan sekitar menjadi bentuk lain. Kalau memang dipaksa harus menjadi potensi wisata dan dibangun, tawarkan saja sekurangnya wisata alam berupa susur hutan dan atau susur sungai dengan berjalan kaki, semacam wisata khusus berbasis desa.

Menyesuaikan karakter lingkungan dan ekologi Desa Dukuh. Begitu juga arah pembangunan Desa Dukuh di berbagai sektor kelak. Beberapa hari yang lalu, kami (saya ber-enam) melakukan susur sungai dan bukit (ladang-ladang) didampingi seorang bapak dari LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Watulimo, dari jam 11.00 siang hingga sekitar jam 16.00 sore. Durasi perjalanan yang lumayan melelahkan ini terasa sekadar menyumbangkan sedikit saja ”pengetahuan” dari yang bisa kami dapat.

Di Watulimo, susur bukit ke bukit dan perjalanan mengaluri sungai, bisa dilakukan di Desa Dukuh ini. Meski Watulimo dikenal sebagai salah satu daerah pesisir di Trenggalek, kecamatan ini menyediakan dataran, berupa bukit yang luas. Pepohonan dan aneka tumbuhan di hutan Desa Dukuh masih lumayan banyak yang berukuran tinggi. Saya tidak yakin dengan Munjungan, daerah saya sendiri, sungai di tengah hutan desanya menyuguhkan ”sesuatu” sebagaimana di Watulimo: lokasi yang bisa disusuri secara nikmat. Karena kontur dan topografi Munjungan yang berbeda dengan Watulimo. Untuk daerah Dongko, mungkin kelebihannya pada gua juga sungai. Terutama di desa-desa bagian timur, meski secara umum Dongko termasuk daerah gersang yang mulai kehilangan vegetasi dan karakter alami hutannya. Kecamatan Pule ada pada model tata letak dan topografi wilayah yang—pendapat saya—serupa atau bahkan mirip sekali dengan Bendungan.

Sedari berangkat saya memotret—menggunakan kamera ponsel—pohon-pohon yang tumbuh di sini: yang pertama sudah pasti adalah pohon Durian dan pohon Manggis, dalam jumlah mayor bila dibanding pohon-pohon lain. Dua jenis pohon ini menjadi karakter yang menandai Desa Dukuh, dan desa tetangganya Sawahan. Selain Desa Sawahan, Desa Dukuh memang dikenal penghasil dua pohon berbuah manis tersebut. Bahkan dikenal sebagai desa yang menghasilkan rasa durian yang berbeda dari desa-desa lain di Kecamatan Watulimo, bahkan dari kecamatan-kecamatan lain di Trenggalek.

Dua pohon tersebut hampir sangat mudah kita jumpai tiap kita melintasi jalanan di sudut-sudut Desa Dukuh. Hutan desa di Dukuh lumayan masih pantas untuk disusuri. Bapak dari LMDH, yang sedari awal mengantarkan kami, mengatakan bahwa ia kerap pula mengantarkan orang yang hendak melihat-lihat desa. Bahkan, ungkapnya, ia selalu dlibatkan ketika ada pendatang yang ingin menyusuri pinggiran hutan desa. Sampai-sampai ia pernah diajak ketika beberapa peneliti (asing) sempat memetakan potensi sumber daya alam di dalam tanah di sekitar hutan tersebut. Barangkali, salah satunya terkait dengan rencana eksplorasi tambang di Trenggalek itu.

Aliran Sungai Keping bagian Jurug Nanas
Aliran Sungai Keping bagian Jurug Nanas

Saya ber-enam melakukan susur sungai (Kali Keping) yang membelah dusun-dusun di Desa Dukuh. Sungai ini adalah sungai pegunungan, yang alirannya sesekali melintasi tebing-tebing batu. Sekurangnya, terdapat dua tebing batu tinggi yang dilewati sungai Keping. Yang pertama adalah tebing batu di hulu yang—dari aliran sungai itu kemudian—menciptakan air terjun, yang dikenal sebagai Jurug Nanas.

Sementara yang bagian hilir adalah tebing batu lebih rendah dari yang di hulu, menciptakan air terjun yang dinamai masyarakat sekitar sebagai Jurug Urang Kambu. Jurug yang pertama tak membuat kedung karena air jatuh dipapak batu—bagian dari tebing—tepat di bawahnya. Sementara jurug yang kedua, baru bisa membuat ceruk (kedung) yang dalam: sebuah kedung sedalam sekitar lebih dari 3 meter. Saat di lokasi, saya telah mencoba men-jajagi-nya menggunakan potongan bambu kecil yang kebetulan tersedia di sana.

Kedung Urang Kambu
Kedung Urang Kambu

Di sepanjang jalan setapak ada beberapa jenis pohon yang menjadi tanaman tumpang sari—karena ditanam dalam jumlah minor—seperti pohon kopi, dilem (nilam), coklat (kakao) dan lain-lain. Jurug Nanas dan Jurug Urang Kambu terletak di Dukuh Ketro. Dukuh di seberang sungai bila kita berangkat dari arah utara. Kali Keping berhulu di pegunungan Pegat dan sekitarnya. Barangkali hitungannya di sebelah utara Gunung Tampaksemi dan Gunung Genthong, yang menjadi hulu bagi arus Kali Songo di sebelah selatan. Kali Keping menjadi salah satu sungai pegunungan yang berada di Kecamatan Watulimo.

Jurug Urang Kambu arusnya lebih deras, tersebab arus utamanya, yakni dari aliran Kali Keping, sudah ketambahan dari arus sungai-sungai kecil lain. Dan sebagaimana sungai pegunungan yang penuh batu-batuan di sepanjang alirannya, sungai ini pun pada batang tubuhnya dipenuhi batu-batu pegunungan. Yang membuat aliran air menjadi bergemericik. Sungai Keping alirannya dari barat menuju ke timur, agak mengarah ke tenggara. Di sepanjang tepi sungai, masih ditumbuhi pohon-pohon bambu membentuk koloni-koloni bambu, yang masih agak menggerumbul. Ada berbagai jenis bambu yang tumbuh, tampak bambu petung, bambu biasa juga bambu kuning.

Jurug Nanas, menurut cerita bapak dari LMDH, bisa dilekati nama demikian, karena dahulu di sekitar jurug memang sempat digerumbuli tanaman nanas. Dan cerita itu sepertinya hanya tinggal cerita, karena tak ada nanas sama sekali yang tertangkap oleh mata sewaktu berada di sana. Sementara Jurug Urang Kambu, memperoleh nama karena di sekitar jurug banyak didiami urang sungai (udang) yang melimpah. Khususnya adalah udang dari jenis urang kambu. Selain di kedalaman air, udang-udang itu bisa didapatkan di balik air terjun. Kata bapak pengantar kami, mereka (udang-udang itu) hidup ndepipil di sekitar tebing di balik air sungai yang meluncur ke bawah.

Di situlah udang-udang tersebut berkoloni, membuat rumah dan beranak-pinak. Salah satu makhluk sungai yang kini barangkali sudah tak begitu mudah kita dapati, atau jangan-jangan sudah musnah. Akibat kondisi air sungai yang dipenuhi limbah dan sampah. Selain tentunya perubahan vegetasi di sekitar sungai. Terusan Sungai Keping semakin ke bawah, sebetulnya agak dangkal. Sebagaimana kini banyak sungai di daratan yang telah kehilangan kedung, sungai-sungai di pegunungan juga banyak yang mengalami pendangkalan. Sisa-sisa banjir masih terasa, di beberapa tempat sepanjang aliran, batang-batang pohon, bambu dan berbagai sampah yang dibawa arus air bekas banjir dari hulu tampak masih berserakan di sana-sini.

Pembangunan dan kemajuan tak harus mengiblat pada pengetahuan modern yang tak meramahi alam. Bagian dari ini adalah penambangan bumi dan penebangan kayu. Padahal pohonan yang menggerumbul adalah detak jantung yang memompa air sumber ke permukaan yang salah satunya diularkan sungai. Yang kelak digunakan manusia dalam kesehariannya: minum, mandi, umbah-umbah (mencuci pakaian), serta mengairi ladang-sawah. Di masa kini, bahkan jauh-jauh hari, sungai punya tantangan terhadap perubahan vegetasi di sekitar dan sepanjang alirannya. Belum tantangan lain, berupa pencemaran sungai di setiap harinya oleh limbah-limbah yang membahayakan kehidupan biota dan air. Dengan demikian, membuat bendungan yang tanpa cita-cita menanggulangi bencana misalnya, bisa-bisa kelak menjadi bencana itu sendiri.

BERBAGI
Artikel sebelumyaDilema Jagung Di Hutan Bendungan
Artikel berikutnyaMendendangkan Lagu Tony Q. Rastafara untuk Hari Bumi
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).