Peta Kabupaten Trenggalek

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat dan kayu jadi tanaman

Sepenggal lirik lagu di atas tentunya sudah tidak asing di telinga pecinta musik dari berbagai kalangan dan lintas generasi di negeri ini. Dipopulerkan oleh band legendaris, Koes Plus, lagu tersebut jelas mendeskripsikan betapa subur “negeri” kita. Tidak berlebihan jika saya sebut Trenggalek adalah salah bagian dari negeri yang digambarkan dalam lirik ungkapan di atas. Jika lagu Koes Plus lebih menggambarkan Indonesia secara umum, maka secara spesifik, kota Trenggalek—yang juga kerap dilekati sebagai kota kripik ini–juga memiliki “Nasional Anthem”-nya sendiri yang sedikit-banyak menggambarkan suasana dan kondisi yang mendekati riil lagu. Penggambaran Kota Trenggalek dapat kita simak melalui tembang yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

Kutha Trenggalek, Kutha Trenggalek
Kinubengan gunung-gunung
Tepung gelang bumine lohjinawi
Tanem tuwuh katon subur cengkehe
Duren lan manggis wohe dhedhompolan
Turine bulgure mukibate anggrembuyung 

Kalokeng rat produksi bathik Trenggalek
Tempene alen-alen tekan manca praja
Taneman mpon-empon kopi mrajak sami
Prayata subur makmur kutha trenggalek

Tembang di atas berjudul “Kutha Trenggalek”. Lagu tersebut saat ini sudah sangat jarang terdengar di telinga kita. Ketenarannya kalah jauh dibanding dengan lagu-lagu kekinian macam “Sambalado”-nya Ayu Ting Ting, ataupun “Edan Turun” milik-nya Demy/Suliana. Tembang yang di era 2000-an ke belakang masih begitu sering didengar di sekolah-sekolah SD/MI ataupun SMP/MTs saat pelajaran kesenian (Kertakes ketika itu namanya–kini populer dengan mapel SBK alias Seni Budaya dan Ketrampilan). Adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai bagi siswa jika mampu melantunkan tembang tersebut dengan lancar.

Masih segar di ingatan, sewaktu saya bersama teman-teman berupaya keras untuk dapat menghafal dan melantunkan tembang tadi dengan sempurna. Sebab jika tidak hafal, saat itu ada semacam punishment yang sudah disiapkan bapak guru. Namun, tembang tersebut sudah tidak pernah terdengar lagi di sekolah-sekolah di Kabupaten Trenggalek. Kalaupun terdengar proporsinya sangat jarang. Hanya bisa kita dengar di hajatan warga diiringi langgam tayub.

Kalau dihayati secara mendalam, lirik yang tertulis pada tembang bisa dikatakan menggambarkan keadaan yang sebenarnya alias riil dan tidak dibuat-buat. Jika dikaji secara mendalam, maka memang begitulah sebenarnya kota yang dikenal sebagian orang dengan Kota Kripik ini. Sebuah kota dengan pegunungan dan perbukitan di sekelilingnya. Secara geografis, memang 80% Kabupaten Trenggalek terdiri dari dataran tinggi. Setahu saya, dari 14 Kecamatan yang dimiliki Trenggalek, hanya Kecamatan Trenggalek, Karangan dan Pogalan saja yang sama sekali tidak memiliki daerah pegunungan. Sisanya merupakan kecamatan dengan latar dataran tinggi, bukit dan gunung. Sebuah daerah yang jika dibayangkan sepintas, merupakan potret keindahan dan keasrian alam ciptaan Tuhan.

Lohjinawi merupakan ungkapan yang menggambarkan kesuburan bumi suatu wilayah. Biasanya kata lohjinawi diawali dengan kata gemah ripah, yang kurang lebih artinya kekayaan alamnya sangat melimpah. Untuk melengkapi kata gemah ripah lohjinawi, biasanya akan disambung dengan “tata tentrem karta raharja” yang bermakna keadaan rakyatnya sejahtera. Memang agak sedikit berlebihan penggambaran tersebut jika dilihat secara riil di beberapa sektor dan ranah di Kabupaten Trenggalek.

Berbagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi, tumbuh subur di Trenggalek. Tentu masih jelas terekam di benak kita, bagaimana Trenggalek pernah menjadi daerah penghasil cengkeh yang sangat potensial dan luar biasa di sekitar tahun 1997. Sebelum akhirnya dijajah dan dihancurkan oleh produk kebijakan “dzalim” permerintahan Orde Baru, yang pada saat itu dijelmakan dalam bentuk-bentuk kebijakan racun ekonomi monopoli yang secara simultan menjadi sejarah hitam petani cengkeh, khususnya di Trenggalek.

Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dibentuk oleh Pemerintah Orde Baru menjadi titik balik kehancuran harga cengkeh (sekaligus petaninya) di Trenggalek. Aroma (politik) Tomy Suharto sangat kental dan sungguh menyengat dalam perjalanan BPPC saat itu, hingga pada saat petani cengkeh di Trenggalek ditanya mengenai kronologi runtuhnya kedaulatan cengkeh Trenggalek, mayoritas secara spontan akan menjawab “gara-gara Tomy”. Setidaknya itulah menurut pernyataan beberapa orang yang saya tanya tentang kenangan per-cengkeh-an di Bumi Menaksopal. Singkat cerita, hegemoni Tomy Suharto melalui BPPC cs sampai pada klimaknya. Kekecewaan tak berujung yang dialami para petani ketika itu mendorong kemarahan (mutung) bercampur frustasi yang tinggi. Hal tersebut mendorong para petani membuat gerakan massal penebangan cengkeh dan menjual kayunya secara “kibikan”.

Selain cengkeh, banyak didapati tanaman-tanaman produktif yang menjadi bukti sahih yang menggambarkan bahwa Trenggalek adalah daerah Lohjinawi: sebut saja salak, langsep, manggis dan durian. Semua jenis tanaman tersebut tumbuh subur di kabupaten yang kini dipimpin pasangan bupati dan wakil bupati termuda se Indonesia ini. Bahkan buah durian asli Trenggalek dikenal memiliki cita rasa yang unik dan istimewa. Ini diperkuat dengan prestasi yang diperoleh beberapa petani durian asal Kabupaten Trenggalek yang beberapa kali memenangkan kontes durian di tingkat kabupaten, propinsi bahkan nasional.

Bagi pecinta durian, siapa sih yang tidak kenal dengan Durian Ripto? Tanaman yang induknya ada di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo yang konon pernah mendapatkan penghargaan langsung dari presiden Megawati Soekarno Putri. Saat itu sebagai juara 1 dalam ajang kontes durian yang diselenggarakan di Propinsi Jawa Timur. Tidak berhenti di situ, Durian Ripto pernah dilepas menteri pertanian sebagai durian nasional tahun 2005. Belum lagi ditambah Durian Kunirjiman dari Desa Dukuh yang mendapat juara 2 tingkat Jawa Timur di tahun 2010. Hmmm… luar biasa, bukan?

Ini baru sekelumit fakta yang membuktikan bahwa Trenggalek memiliki bumi yang sangat subur. Dan tentu masih banyak potensi lain yang terdapat dari kabupaten ini: di sektor pariwisata, perikanan, pertanian dan masih banyak lagi segudang potensi. Apabila semua potensi ini dimaksimalkan pengelolaannya, tidak bakal ada lagi alasan orang menyebut Trenggalek sebagai kota miskin dan tertinggal. Kalau sudah begini, nikmat Tuhan mana lagi harus didustakan? Saya bangga jadi orang Trenggalek.

BERBAGI
M. Indra Setiawan

Lelaki kelahiran Desa Dukuh, Watulimo, Trenggalek ini, masih teguh memelihara keyakinan pada diri sendiri, melebihi keyakinan di kepala “orang yang sering ragu”.