pantai konang

Bahwa dalam beberapa hari kemarin, tulisan yang telah diposting di nggalek.co kebanyakan membahas Kecamatan Watulimo, padahal secara grambayangan web ini ditujukan untuk membahas Trenggalek dalam keseluruhan. Jadi, harap maklum. Kami berangkat dari ujung dulu.

Untuk mengurangi tingkat sentimentil pembaca terhadap para penulis karena melulu membahas Watulimo, maka hari itu, hari Jumat tanggal 8 April 2016, saya niatkan untuk menyambangi wilayah paling barat Trenggalek. Perjalanan ini selain saya niatkan sebagai bahan menulis juga saya niatkan untuk menyenangkan hati keluarga kecil saya.

Saya mengajak istri dan anak sekaligus tetangga untuk bertamasya ke Pantai Konang berlanjut ke Pantai Pelang. Kedua pantai ini berada di ujung barat Trenggalek, tepatnya di Kecamatan Panggul. Berangkat dari rumah (Desa Surodakan, Kecamatan Trenggalek) sekitar pukul 10.30 WIB, kami berlima menunggangi dua motor. Saya berboncengan dengan istri dan anak, sedang motor satunya dipakai dua dulur saya (sebenarnya mereka berdua adalah adik-kakak). Kami berjalan beriringan dengan laju kecepatan 50-60 km/jam.

Untuk bisa sampai di Pantai Konang, kami melewati empat kecamatan. Yang pertama adalah Kecamatan Trenggalek, Kecamatan Suruh, kemudian Kecamatan Dongko dan yang terakhir Kecamatan Panggul. Anak saya menemukan keasyikan ketika sampai di Kecamatan Dongko. Di sana terdapat patung wedus etawa yang dibuat tepat di pinggir jalan. Patung tersebut dibuat semirip mungkin dengan aslinya, diletakkan di atas gapura dengan ketinggian sekitar 5 meter. Anak saya menyukai patung kambing berwarna hitam putih tersebut.

Pantai Konang terletak di Desa Nglebeng. Kami memasuki pintu gerbang yang bertuliskan ucapan “Selamat Datang”. Jalanan beraspal yang semula bagus menjadi jalanan berlubang. Melihat bekas jalan, kemungkinan dulunya sudah pernah diaspal. Namun kini hanya tersisa bebatuan dan kerikil dengan sedikit balutan aspal yang mulai memudar.

Jalanan itu ada di antara rimbunan pohon kelapa yang telah lama tumbuh di sana. Ada ribuan pohon kelapa yang tumbuh subur, mengidentikkan sebagai tumbuhan pesisir khas Trenggalek. Kami telah sampai di bibir Pantai Konang, ombak di laut tampak relatif lebih besar jika dibanding dengan ombak di Pantai Prigi. Pantai Konang memiliki garis pantai luas, bahkan jika dilihat dari atas, tidak ada pulau yang memisahkan Pantai Konang dan Pantai Pelang.

Mas Dian, teman saya, membawa kami ke warung makan paling populer di sekitar Pantai Konang. Tempatnya tidak terlalu mewah, namun cukup asyik digunakan sebagai tempat santai. Konstruksi bangunan tidak permanen, didominasi oleh potongan bambu membuat tempat ini pantas jika berada di pinggir pantai. Jika dibanding dengan warung-warung di Pantai Prigi, warung-warung di Pantai Konang tampak lebih bersahaja dan memenuhi estetika warung tepi pantai. Tidak telalu modern namun menyediakan makanan khas pantai berupa ikan bakar.

Saya dan Mas Dian memesan nasi untuk kami ber-enam. Saya memesan ikan tenggiri yang telah disapiti, sedangkan istri saya memilih ikan layur sapit yang biasa disebut benggol (dia memang suka memakan ikan layur). Ikan-ikan tersebut dibakar dengan bumbu manis pedas, memunculkan aroma kenikmatan. Tidak semua ikan dibakar dengan bumbu manis pedas, saya berpesan kepada penjual untuk mengecualikan satu sapit ikan tenggiri supaya dibakar dengan kecap saja, spesial untuk anak lanang.

Mengenai ikan bakar, yang faktanya tidak dibakar, namun dipanggang. Dibakar dan dipanggang adalah dua jenis kata kerja yang mempunyai arti masing-masing. Dibakar berarti meletakkan ikan bersentuhan dengan api, sedang dipanggang hanya meletakkan ikan di atas api. Tapi entah kenapa orang (termasuk saya) lebih senang menyebutnya sebagai ikan bakar daripada ikan panggang.

Pantai Konang juga digunakan oleh penduduk sekitar untuk mengais rejeki, khususnya nelayan. Mereka memanfaatkannya untuk mencari ikan (termasuk ikan yang kami pesan). Namun yang membedakan adalah aktivitas nelayan di Pantai Konang lebih didominasi dengan menangkap ikan dengan menggunakan jaring tarik. Jaring tarik adalah aktivitas nelayan menarik jaring (di tengah laut) dari pantai oleh beberapa orang. Berbeda dengan aktivitas nelayan di Pantai Prigi yang lebih banyak menangkap ikan dengan menggunakan perahu. Dulu di Pantai Prigi juga ada jaring tarik, bahkan mula-mula sebelum banyak perahu jenis porsein, para nelayan juga mengandalkan tangkapan ikan dari jaring tarik. Karena ada larangan dari pemerintah, jaring tarik lama-lama ditinggalkan. Meski begitu, di Pantai Konang jaring tarik masih dilestarikan.

Berjalan sekitar 15 menit dari Pantai Konang, kami telah sampai di Pantai Pelang. Berbeda dengan Pantai Konang yang bebas retribusi, Pantai Pelang memang sudah dikomersialkan. Jadi untuk bisa masuk, harus melewati pintu penjagaan. Ada tarif yang harus dibayarkan oleh pengunjung. Saya berasumsi bahwa retribusi di kawasan wisata Trenggalek menjadi penyumbang terbesar PAD Trenggalek. Dan saya khusnudzon jika para pengelola menggunakannya untuk membangun daerah tanpa ada unsur lain.

Sesampai di Pantai Pelang, kami disambut dengan dataran luas yang tampak hijau ditumbuhi rumput-rumput yang terawat. Di Padang rumput ini juga telah dibangun gazebo-gazebo untuk tempat istirahat. Setidaknya ada lima gazebo yang dibangun berjejer dengan jarak terpisah 30 meter. Kami parkir di dekat salah satu gazebo. Karenakan saat itu hari Jumat, maka tidak banyak wisatawan berkunjung. Kami menyadari bahwa hari Jumat bukan hari yang tepat untuk berlibur. Dan memang kami mencari suasan sepi seperti ini.

Dari gazebo paling barat ada jalan ber-semen yang sengaja disediakan oleh pengelola untuk para pengunjung pantai. Jalan ini terletak tepat di bawah lereng bebatuan yang menjadi pembatas pantai. Untuk menapaki jalan ini kami harus melewati sebuah jembatan beton yang menjadi penghubung dataran berumput dengan area pantai. Jika kami memandang ke arah timur, kami bisa menyaksikan rimbunan cemara udang yang mulai tumbuh subur (tingginya rata-rata sekitar 6 meter). Cemara udang ini ditanam dari ujung wetan sampai ujung kulon, menutupi pantai dari pandangan kami.

Antara padang rumput tempat berdirinya gazebo dan rimbunan cemara udang ini ada sungai buatan. Sungai tersebut pada mulanya adalah pancer yang berfungsi sebagai penahan sekaligus jalan bagi air laut ketika pasang. Ada dua jembatan yang menjadi penghubung kedua daratan ini, satu berada di ujung barat, dan satunya berada di tengah.

Jalan yang saya lalui ini sebenarnya mengarah ke arah Jurug Pelang. Berada tepat di pinggir sungai buatan dan di bawah tebing batu. Ada pagar pengaman yang dapat kami gunakan sebagai pegangan, kendati sebenarnya jalan ini mudah untuk dilalui. Berjalan terus sampai ada belokan menuju barat, kami akan melihat pohon-pohon heterogen yang sudah lama mendiami tempatnya: ada pohon ketapang, pohon jambu, pohon waru dan lainnya. Pohon-pohon tersebut menimbulkan suasana teduh dan dingin.

Kami sampai di daratan yang ditumbuhi rumput liar, tidak lebih luas dari daratan padang rumput tempat gazebo tadi. Ada satu pemandangan yang membuat saya senang, ternyata sebelum saya datang ke sini, sekitar seminggu sebelumnya, ada yang telah menanam pohon ketapang dengan jumlah banyak. Ketapang-ketapang mungil ini ditaman di seluruh daratan yang saya pijak. Ketika saya tanyakan kepada salah satu pemilik warung, yang menanam ketapang adalah perhutani se-Karisidenan Kediri.

Berjalan ke arah utara, kami menjumpai Jurug Pelang, bersembunyi di balik rimbunan pohon yang sayangnya, saya belum dapat mengidentifikasi nama pohon tersebut. Jurug yang saya ceritakan ini memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Kebetulan saat ke sini, malam harinya sedang hujan, jadi debit air yang jatuh dari atas jurug lumayan banyak. Air yang mengalir dari atas jurug tidak melewati ceruk yang biasa dilalui air di sungai. Namun air jatuh hampir meliputi seluruh tebing, sehingga menimbulkan air terjun melebar dan terkesan ramai.

Jurug Pelang
Jurug Pelang

Kami tidak menyia-nyiakan waktu. Kami berniat untuk merasakan dari dekat sensasi tempias air yang jatuh. Anak saya beserta rombongan begitu menikmati suasana ini. Sedangkan saya lebih suka melemparkan pandangan ke seluruh penjuru guna mengidentifikasi populasi pohon. Mas Dian pamitan pulang karena ada janji dengan seseorang, dan kami tidak lupa mengucapkan terimakasih atas aruh, lungguh lan suguh yang telah diberikan kepada kami. Semoga dia selalu diberikan kesehatan.

Kami menuju pantai melewati jembatan yang berada di sebelah timur, melewati jalanan setapak tepat di bawah cemara udang, berjalan sekitar 7 meter kami sampai di bibir Pantai Pelang. Namun saat itu, banyak sampah yang terdiri dari ranting dan plastik berserakan di sepanjang pantai. Mungkin saja sampah-sampah itu terdampar oleh arus air laut akibat hujan semalam.

Panggul memang istimewa, banyak potensi yang bisa dikembangkan secara bersama-sama, dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem, mungkin akan menjadikan Panggul punya daya tarik tersendiri. Kami kembali ke rumah dengan perasaan senang.

BERBAGI
Artikel sebelumyaBukan Surat untuk Kartini
Artikel berikutnyaMembangun Desa dari Sudut yang Lain
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.
  • Talia

    Sertakan foto yg lebih banyak min

  • Trigus D. Susilo

    Wah editornya ni.. hihihihihi

  • nurma

    bagus 🙂

  • gecko

    suruh cuman jurug guih. ga tahu lainnya

  • kecamatan suruh kok ra dietung?

    • Trigus D. Susilo

      Terimakasih mas Bonari atas koreksinya. Sudah kami benarkan.