ilustrasi
ilustrasi "digendong bapak" - foto deviantart

Musim hujan kali ini tahan menyirami sekujur bumi. Sukaria katak sawah setiap malam memekakkan telinga. Alunan nadanya bersautan tak peduli jarak. Jika ada katak yang berbunyi “kreek kreek kreek” dari kejauhan akan dibalas dengan nada bas berbunyi “kung”. Saling jawab menjawab tak kenal jemu. Konon, jika ada katak yang tidak menjawab, kawanan katak lain terdekat akan memburu dan membunuh katak tadi. Mungkin ini sebentuk model dunia katak dalam mensyukuri nikmat Tuhan. Dengan mewajibkan bagi semua katak bersyukur.

Kudengar dari cerita ini dari bapak sewaktu masih kecil. Waktu masih menyukai cerita-cerita bapak menjelang tidur, yang tak pernah absen. Bapak masih tak pernah lelah bercerita, walau uratnya telah keluar menyembul dari balik kulit ari.

Suara berisik rintik-rintik hujan jatuh di atas genting membuat suasana senja di rumah semakin sepi. Dan sudah menjadi kebiasaan jika pada saat pasukan langit berjatuhan, akan selalu menjadi rutinitas harian listrik dipadamkan. Kebiasaan ini juga menciptakan kisah tersendiri bagi desaku.

Entah karena kekompakan orang-orang kampung dalam menyatakan kekesalanya pada PLN, atau karena kebiasaan yang sudah terjadi bertahun-tahun. Padamnya listrik adalah juga kode berapa lama listrik akan padam. Jika hanya sekali padam, berarti dalam waktu yang tidak lama, listrik akan segera hidup. Akan tetapi jika diikuti nyala lampu sebentar dan padam lagi, alamat akan menjadi lama, bahkan bisa sampai esok pagi. Di desa ketika lampu padam, saat pertama kali akan terdengar teriakan orang sekampung dari RT  ke RT. Bahkan menyambung sampai di desa sebelah. Teriakan kompak ini kira-kira seperti, “huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu”.

Dan jika ada pemadaman kedua setelah ada nyala lampu sebentar, teriakan orang sekampung semakin membahana, bersaing dengan suara jangkrik ataupun katak, memecah keheningan malam.

Sebagai orang desa kebanyakan, kami punya lentera minyak tanah sederhana tapi banyak guna. Lentera ini terbuat dari bekas kaleng susu cap bendera ataupun cap nona. Kalau belum tahu, ini digunakan sebagai tempat “minyak tanah”. Untuk membuat sumbu, biasanya kami buat dari kapuk yang dibungkus seng. Kapuk dipilin memanjang seukuran jari kelingking dan ibu jari direntangkan. Sumbu ini ditancapkan pada kaleng susu yang telah dilubangi tengahnya. Kenapa dibungkus seng? Ini supaya kapuk yang menjadi sumbu tadi tidak terbakar semuanya. Jadi aman.

Saya bisa membuat lentera sendiri setelah diajari Mbah Jamal, walau terbilang buatan tidak rapi, tapi aku sangat bangga bisa membuatnya. Tanpa teori fisika yang dipelajari, lalu siapa yang membuat percobaan bahwa sumbu bisa menyerap minyak tanah, merembas ke atas pucuk sumbu ketika dibakar. Ini berlaku otomatis dan tidak perlu di-jungkel-kan. Ublik memang jauh lebih hemat daripada harus beli lilin yang hanya sekali pakai. Jika ublik sudah kehabisan minyak, tinggal di-isi ulang dengan minyak lagi. Kami berpikir daripada uang dibelikan lilin, lebih baik uangnya buat beli beras untuk makan esok.

Dulu waktu aku masih kecil, ketika bapak masih sehat dan kuat. Aku selalu merengek menangis kalau dia mau keluar malamun untuk sonjo (ditulis sanja), terkadang karena rengekan yang kubuat, bapak mengajak ikut serta bersamanya. Inilah yang secara langsung diajarkan bapak mengenai cara orang desa bersosialisasi. Bapak tak pernah absen bertandang ke rumah saudara-saudaranya (sonjo) ketika tidak bekerja, atau ke rumah kawannya waktu malam hari. Sebenarnya, tidak ada urusan penting, namun ia niatkan untuk silaturahmi. hasilnya, dia dikenal banyak orang. Banyak sekali orang kampung atau orang luar kampung mengenalnya dengan baik, jika dibanding dengan zaman seakarang yang nota bene dikuasai oleh peralatan modern seperti HP, orang lebih suka menanyai kabar lewat sms atau telepon saja. Lama-kelamaan kebiasaan baik ini memudar. Sekian lama sonjo sudah tidak lagi menjadi tren; khusus bapak, setelah lumpuh menyerangnya hingga membuat kakinya mengecil, hilang sudah kebiasaan yang seperti dilakukan bapak, tenggelam dalam suasana modern yang masuk desa, hilang ikut bersama bapak yang kini telah tiada.

Saya ingat kawan, saat saya masih kecil sekali, suatu malam saya ikut dia bertandang ke rumah teman lamanya. Kami berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil berkelok-kelok yang memberikan kemudahan bagi bapak untuk berjalan menyusurinya. Suara jangkrik, suara angin, suara gemeretak bambu yang tertiup angin, lolongan anjing yang jauh di sana memulai musim kawin. Pula suara khas dari ayunan langkah bapak, ceplak ceplak ceplak, menjadi saksi yang tertoreh bersama bapak. Ceplak-cplak itu suara sandal cepit yang mengiringi setiap langkah untuk sonjo.

Terkadang perjalanan kami melewati kebun tak berpenghuni, saat malam membuatku lelah memaksa untuk mengucapkan, “Pak aku ngantuk”, aku berbohong karena sudah lelah. Bapak segera berjongkok menyiapkan punggungnya untuk kunaiki, hanya berucap, “Ayo tak gendong le” dengan senyuman lembut khas bapak menawarkan diri. Sungguh besar kasih sayangmu Bapak. seperti itulah jika aku sudah meminta gendong, tak kusia-siakan segera memeluk punggung Bapakku dan berpegang erat di bahunya, memeluknya sebagai tempat perlindungan.

Kalau sudah sampai di tempat teman bapak, rasa kantuk hilang. Mungkin saja karena ada hidangan sederhana dari sang empunya rumah, secangkir kopi dan sepiring singkong rebus “telo godok” ini yang membuatku semangat lagi. Maklum, aku masih dalam masa pertumbuhan, jika ada makanan langsung kusikat. Dan ketika bincang-bincang tentang aktivitas keseharian mereka sudah dimulai, ada saja yang menjadi bahan omongan, seperti menceritakan tentang bapakku yang dapat trenggiling dari hasil pelacakan manual selama berhari-hari, lalu hasilnya memuaskan setelah menemukan sarang trenggiling bekas mengacak-acak rumah semut.

Rasa puas masih terasa saat beliau menceritakan dengan semangat. Puas dengan hasil tangkapan, dan sisik trenggiling yang lumayan untuk dijual. Kadang menceritakan tentang perkembangan hubungan sosial warga kampung kami bincangkan ngalor-ngidul ini menyenangkan buatku. Kendati cerita-cerita itu tidak kupahami waktu dulu, namun sekarang kurindukan hal-hal semacam itu. Jika saja mereka sedang ayik bercerita tak terasa waktu bercengkrama sampai larut. Kami pun pamit untuk pulang ke rumah dan melanjutkan rencana esok untuk mencari nafkah kembali.

BERBAGI
Artikel sebelumyaEmas Hijau dari Trenggalek
Artikel berikutnyaEtika Misuh
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.