Masalah tempat sampah di Kabupaten Trenggalek | Foto Pixbay | Edited mastrigus
Masalah tempat sampah di Kabupaten Trenggalek | Foto Pixbay | Edited mastrigus

Beberapa hari kemarin, saya bersama keluarga akhirnya bisa mengunjungi kembali alun-alun Kabupaten Trenggalek, setelah sekian lama tak pernah masuk ke sana. Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi kawan-kawan yang standby di stand pameran Kecamatan Watulimo, dalam acara Pameran Produk Unggulan dan UMKM Kabupaten. Tidak sekadar menunggu stand, kawan-kawan kami juga mendesain, mengkoordinir serta merealisasikan apa yang menjadi konsep tampilan stand pameran Kecamatan Watulimo. Saya turut bangga.

Selain berjalan-jalan di area pameran dan menikmati alun-alun, saya mendapat hiburan yang justru malah lebih menghibur dibanding beberapa stand pameran dan pemandangan alun-alun di siang hari yang panas. Hiburan tersebut adalah pertandingan bola voli antar SMA se-Kabupaten Trenggalek. Kira-kira ada sekitar 8 atau 10 tim yang siap bermain. Ada 3 lapangan bola voli di alun-alun yang digunakan. Yang belum mendapatkan jatah bermain di awal, terus berlatih sekaligus melakukan pemanasan persiapan pertandingan. Saya menikmati sambil duduk di rerumputan pinggir alun-alun, berteduh di balik pohon, sembunyi menghindari panas matahari. Saya menikmati pertandingan, sementara anak-anak berlarian di rerumputan hingga gelap menjelang.

Setelah gelap, anak-anak kembali mengajak jalan-jalan dan naik odong-odong di sebelah barat alun-alun. Saya turuti. Saya sempat memandang sekeliling dan pandangan saya langsung terhenti di sebuah spanduk berukuran besar yang berisi jadwal acara perayaan peringatan Hari Kemerdekaan di Kabupaten Trenggalek. Saya baca apa yang tertulis di spanduk. Desain spanduk tersebut mengharuskan kita mulai membaca dari sudut kiri atas, menurun dan kembali lagi ke atas. Bergeser ke kanan, dan begitu seterusnya hingga berakhir di sudut kanan bawah. Lengkap, dari awal hingga akhir bulan Agustus ini penuh acara. Mulai dari pesta musik: INBOX di awal bulan hingga pesta kembang api di malam “hari jadi” kabupaten.

Puncak dari perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI di Trenggalek adalah tanggal 31 Agustus yang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek.

Masing-masing desa berusaha agar warganya turut serta meramaikan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dengan mengadakan berbagai perlombaan antarwarga. Tak hanya di lingkup desa, tingkat pemerintahan kecamatan tapi juga di tingkat kabupaten, sangat antusias merayakan Hari Kemerdekaan. Apakah ini masih merupakan bagian dari gelombang euphoria karena memiliki pemerintahan yang masih segar? Jika iya, semoga warga Trenggalek betah dengan semangat yang selalu segar karena dipimpin oleh bupati dan wakil bupati yang masih segar.

Di antara sekian banyak perayaan, ada beberapa yang saya lihat kok rada aneh. Di Kecamatan Watulimo, seperti di tahun-tahun sebelumnya, tahun inipun digelar karnaval dari berbagai tingkatan. Karnaval, bagi saya, layaknya miniatur kebudayaan dan kesenian dari berbagai daerah di Indonesia, disuguhkan dengan berjalan, justru lebih terlihat seperti kontes kendaraan bermotor bak terbuka dengan hiasan bermacam dekorasi yang kadang ndak njluntrung.

Ingatan saat saya kecil dulu; duduk nglesot di pinggir jalan menikmati karnaval yang seluruh pesertanya berjalan kaki, rapi, dengan pakaian adat dari berbagai daerah dan berbagai profesi, kini buyar.

Bagaimana dengan pameran produk unggulan dan UMKM di alun-alun? Dengan nama kegiatan yang menonjolkan produk unggulan dan UMKM, harapan saya waktu pertama kali mengunjungi adalah mata yang melihat berbagai tampilan dekorasi, desain ruangan dan lainnya yang lebih berpihak pada alam, kreasi tangan, dan munculnya kebanggaan akan local wisdom.

Tanpa ada niatan berpihak, dari tampilan luar, hanya stand pameran dari kecamatan Watulimo yang begitu langsung menarik hati. Dengan dekorasi ala rumah kampung dan terbuat dari bambu hitam. Stand tersebut meski terlihat kampong, ia justru yang paling elegan dibanding stand-stand lain yang terbuat dari stereofoam. Tak heran jika para pengunjung pameran pasti berhenti sejenak ketika berjalan di depan stand Kecamatan Watulimo untuk mengamati dekorasi, produk-produk yang dipamerkan dan akhirnya membeli produk-produk yang ada. Khususnya tumbuhan endemik Watulimo: pakis sayur.

Kawan, kemasan yang menawan hati memang menentukan hasil penjualan. Begitu kira-kira petuah dari ahli pemasaran.

Dari semua yang sudah saya sebutkan tadi, masih ada lagi yang selalu saja terjadi ketika perayaan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan.

Berawal ketika saya dan keluarga menonton karnaval yang ada di Kecamatan Watulimo, bagian otak saya yang mengurusi memori mengajak flashback ke beberapa tahun lalu. Bagaimana hampir tiap tahun, entah sekali atau dua, setidaknya bisa dipastikan saya selalu menyaksikan keramaian perayaan peringatan kemerdekaan di kecamatan. Dan hampir di tiap tahun, selalu saja pemandangannya sama: sampah berserakan.

Begitu juga dengan stand pameran produk unggulan dan UMKM yang berada di alun-alun, selain kurangnya kesadaran pengunjung, pihak penyelenggarapun sepertinya terbiasa dengan tiadanya tempat sampah di sekelilingnya, yang juga berarti pengunjung bisa bebas buang sampah sembarangan. Tidak ada tempat sampah! Sungguh disayangkan even yang luar biasa tersebut harus ternodai dengan tiadanya barang yang menurut saya sangat penting.

Dengan naiknya pamor Trenggalek belakangan ini, sepertinya sungguh mustahil jika even tersebut tidak diliput oleh media. Dan jika mereka teliti dengan apa yang ada, sungguh, pamor pihak penyelenggara tak akan berkesan buruk.

***

Setelah anak-anak puas bermain odong-odong, kami kembali ke stand pameran Kecamatan Watulimo. Di depan stand, ternyata kawan-kawanku berkumpul dengan duduk tanpa alas alias nglesot. Tak ada pengunjung lain yang melakukannya, selain kami. Disitu, kami dan seorang tokoh yang bertanggung jawab terhadap stand pameran Kecamatan Watulimo masih sempat bercengkerama dan membicarakan banyak hal dengan santai. Selepas Isya, saya dan keluarga pamit pulang pada kawan-kawan saya yang masih berada di alun-alun.

Masih beberapa meter dari alun-alun, istri yang  saya bonceng bilang:

Lho, Trenggalek ki lek bengi ya apik ternyata?
Iya lho, enek lampune kelap-kelip turut dalan,” jawab saya.
Tapi sayange pameran neng alun-alun maeng, wis dinyangi wong-wong saka luar kota kok malah blas ra ana tempat sampahe.

Salam Lestari!