melankolia-para-perantau

Modernisasi telah melahirkan nomad-nya sendiri. Hidup para nomad modern, sebagaimana nomad pra-modern, juga selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, diikat kesementaraan demi kesementaraan, dan harus selalu siap tercerabut setiap saat. Para perantau, mahasiswa, tuna wisma, orang-orang rantau yang belum memiliki rumah adalah para nomad modern, yang—seperti kata sosiolog Berger—membawa pikiran kembara.

Para nomad modern tak bisa tertahan pada satu tempat. Ada kesadaran tentang ikatan-ikatan yang akan segera selesai: lulus kuliah, keluar kerja (resign), pindah lahan mencari makan dan berteduh. Ingatan tentang “betah” pada satu tempat tercerai berai. Tidak ada ruang tetap untuk mengakar; mengalami diri secara mendalam; mengumpulkan kenangan-kenangan.

Pikiran kembara itu muncul dan beranak-pinak dari proses modernitas yang membawa manusia pada kesulitan-kesulitan menemukan identitas diri. Kehidupan terus terobsesi untuk diarahkan ke kota besar. Lalu, teknologi mendorong kehidupan bergerak cepat, cepat dan kian tak terkejar. Dunia kian menciptakan jurang antara wilayah pribadi dan publik. Kita makin pandai menciptakan banyak topeng agar bisa tampil di hadapan publik dengan baik. Segala yang menjadi emosi-emosi pribadi bersembunyi di bilik paling belakang dalam diri kita.

Tapi seberapa pun cepat kita ingin berjalan, kita tetap makhluk yang harus berpegangan pada sesuatu: harapan, atau pada sesuatu yang abstrak lainnya. Para nomad itu adakalanya memunculkan pikiran tentang rumah. Satu tempat yang dibangun dari ketenangan, jauh dari hiruk pikuk dunia yang serba acuh. Barangkali mereka ingin berada di desa dengan pegunungan atau pantai atau sawah-sawah yang luas. Di sana, kemudian mereka menemukan diri, bertumbuh kembali, melekat, dan mati sebagai dirinya sendiri. Di saat itulah, mereka benar-benar pulang.

Sebagai orang yang tidak pernah jauh dari rumah dalam waktu yang lama, saya di sini hanya sedang menebak melankolia para perantau. Saya senang mengamati bagaimana para rantau memaknai kepulangan mereka. Ada yang nampak begitu bahagia ketika bertemu kembali dengan orangtua atau keluarga. Saya sesekali membayangkan bahwa berada di tempat yang jauh, bagi para perantau, justru kerap memikirkan arti dekat dan kedekatan. Sensasi nostalgik tentang rumah terus menguar di antara debu dan polusi kota.

Bulek saya, misalnya, dia bekerja di Jakarta dan nyaris selalu minta dibikinkan sayur ketela dan sambel teri oleh nenek saya di setiap kepulangannya. Dia berkata bahwa di Jakarta tidak ada makanan seenak ini. Saya hanya tersenyum. Bagaimana mungkin kota besar dengan segala kelengkapan teknologinya mengolah panganan, malah tidak mampu menciptakan makanan yang seenak bikinan nenek saya? Barangkali, bulek saya hanya sedang mendramatisir sesuatu. Atau mungkin ia memang rindu kampung halaman.

Bukankah kita kerap menjumpai rindu yang melahirkan drama tidak masuk akal? Lalu, tetangga saya yang merupakan karib masa kecil bapak. Pada setiap kepulangannya dari Batam, ia selalu mengunjungi bapak dan menceritakan rasa rindunya pada kampung halaman di sela-sela cerita tentang tempat rantaunya. Ia jarang sekali pulang, mungkin hanya setahun sekali. Dia kerap mengatakan mempunyai rencana tinggal di sini bersama keluarganya. Mendengar rencananya itu, saya hanya tersenyum sembari diam-diam mencari gurat-gurat kelelahan dari wajahnya.

Namun, ada juga yang menganggap pulang sebagai rutinitas yang terlampau biasa. Begitu yang lain mudik, mereka mudik. Begitu yang lain kembali ke kota, mereka pun kembali. Hanya begitu saja: kering dan tanpa jiwa. Setiap tahun berpeluh macet bersama ribuan orang di tengah jalan. Diri dan kepulangan hanya satuan angka dalam statistika mudik. Barangkali kerasnya hidup di kota telah merampas puisi dalam dirinya. Ia yang dulu ramah; ia yang dulu bersahaja; ia yang dulu sederhana. Ia yang dulu tumbuh mengagumkan di desa. Ternyata kini, ia hanya tersusun dari angka dan obsesi-obsesi tak pasti. Ia tahu dirinya kelelahan. Tapi ia terus berjalan, berlari, merangkak, terengah-engah, mengejar ruang yang akan selalu kosong dan kosong. Lalu tiba-tiba, saya ingat segaris kalimat dari bait-bait sajak Hesse: You walk and walk, and find no home at all.