lulus-sarjana-diwisuda

Musim wisuda sedang berlangsung. Ribuan bahkan jutaan orang muda akan dengan bangga, membubuhkan gelar kesarjanaannya pada bagian akhir nama. Media sosial, mulai dari fesbuk, BBM, WA, IG, penuh berisi momen wisuda. Saya selalu merasa tersindir manakala beberapa kali membuka akun fesbuk. Tulisan bernada ucapan syukur berikut gambar dengan pose sedang mengenakan toga berserakan di beranda. “Alhamdulillah, perjuangan empat tahun tidak sia-sia! #thanksmymom&dad”

Agak lebay, sih. Tapi, tidak apa-apa. Kebahagiaan memang perlu dirayakan. Saya pun, kalau wisuda nanti (yang entah kapan), bukan tidak mungkin akan melakukan hal yang sama, atau malah lebih ekstrim dari itu: pose membelakangi kamera. Hahaha…

Menyebut Oktober sebagai bulannya wisuda tidaklah berlebihan, mengingat hampir semua lembaga perguruan tinggi di tanah air kerap memasukkan agenda wisuda ke kalender pendidikan pada bulan ini. Tugas kampus sebagai “pabrik sarjana” (begitu Bandung Mawardi, seorang esais mengistilahkan dalam salah satu tulisannya) memang memiliki tanggung jawab “membaptis” para mahasiswanya yang sudah selesai melaksanakan kewajiban studi dan pembayaran SPP, tentunya, untuk selanjutnya dikirim kembali ke tengah-tengah masyarakat guna menunaikan kewajiban membangun keluarga, bangsa, dan negara.

Selamat menempuh hidup baru, kawan-kawan sarjana. Semoga menjadi manusia yang sakinnah, mawaddah, dan warrohmah. Amen.

Setiap kali saya menyaksikan peristiwa itu, sekelebat dalam benak saya muncul pertanyaan yang sangat sensitif bagi saya sendiri: Bajigur, wong-wong iki wis wisuda. Terus, aku kapan? Saking seringnya dihantui pertanyaan demikian, saya sampai sempat berpikir, jangan-jangan dalam diri saya ada kutukan keris Empu Gandring? Perlukah datang pada tanggal 1 Syuro untuk melakukan tirakat semalam suntuk membersihkan diri dari segala aura negatif?

Nehi… nehi… Saya bukan orang Jawa, meski sekarang menetap di Jawa. Dunia tempat saya lahir adalah dunia dengan aliran “mistisme” melalui proses kerja yang realis. Bangsa kami gandrung pada tuak, pesta, dan judi togel. Mimpi, harapan, masalah, atau apapun itu dipasrahkan ke beberapa “ritual” tadi.  So, menyepikan diri di tempat-tempat keramat bukan tradisi tanah air saya.

Sejujurnya, kondisi saya seperti ini dengan status mahasiswa tanpa semester tidak terlalu membuat saya risau. Hilir mudik di kampus, kadang (tidur) di perpustakaan, kadang bertafakkur di kantin merapal mantera kopi sambil cuci mata, bagi saya tetap menjadi rutinitas. Meski pandangan orang kampus, terutama kalangan dosen, mengesankan kerisihan pada dua bola matanya, hahaha… Tapi, apalah-apalah. Toh, alasan saya kenapa masih belum bisa hengkang dari kampus jelas, kok. Ketika harapan untuk lulus tepat waktu tidak kesampaian, maka saatnya mencari waktu yang tepat untuk “memaksakan” diri lulus. Dan sampai hari ini masih dalam proses pencarian waktu tersebut.

Namun, ketidakpedulian saya terhadap perkara kapan wisuda justru menjadi bumerang. Ada satu hal yang kerap membebani saya dalam kaitannya dengan kuliah. Orang rumah di kampung. Saya punya Mama (dialek Indonesia timur) mulai mencium “ketidakberesan” soal kuliah saya, tatkala salah seorang anak tetangga yang kuliahnya satu tahun di belakang saya diwisuda beberapa hari lalu. Sengaja saya cantumkan tanda petik pada kata ketidakberesan biar mengikuti pendapat umum masyarakat, meski saya sendiri keberatan untuk menyebutkannya, lantaran kebiasaan masyarakat kita (dan juga kita, barangkali) dalam menyakralkan waktu. Santai, ini hanya perkara perspektif saja, tidak usah dipusingkan.

Imbas dari wisudanya tetangga saya tersebut kemudian dijadikan dasar bagi saya punya mama untuk menjatuhkan mosi tidak percaya kepada saya. Realisasinya adalah, dengan memborbardir psikologis saya lewat tausyiah interaktifnya selama berjam-jam lamanya tanpa memedulikan berapa banyak pulsa yang dikeluarkan. Wajar saja. Wong, sebelum telepon, nomornya didaftarkan dulu biar dapat menelepon gratis. Insting saya mendeteksi hal itu, meski mereka tidak memberitahu saya.

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orangtua, saya merasa amat bersalah kepada blio (terbukti, belakangan ini saya mulai mengurangi aktivitas nyocot saat nyangkruk di warung kopi). Ingin sekali saya jelaskan kepada saya punya mama, ihwal kemoloran kuliah saya ini. Tapi apalah daya. Saya punya mama bukan tipikal orang yang gampang percaya terhadap segala hal yang datang padanya. Apa lagi yang berbau dalih seperti ini. Saya yakin, blio begitu merindukan sebuah foto berbingkai bergambar anaknya yang sedang mengenakan toga terpasang manis di ruang tamu rumah, sambil memaniskan senyumnya. Saya juga yakin, blio sekarang sedang panas telinganya mendengar cerita sumringah dari tetangga sebelah rumah lantaran anaknya baru saja dapat gelar sarjana.

“Mama e, jang kira mama punya anak yang hensam ini ti berpikir soal ini. Tiap malam mama punya anak ini ti bisa tidur, selalu terbayang kapan saya punya nama ada gelar sarjana di belakangnya.”

Baiklah, kita hentikan dulu basa-basi di atas yang berakar dari kisah nyata tersebut.

Mahasiswa yang mengakarkan diri di kampus tanpa ada kejelasan kapan lulusnya adalah seaib-aibnya aib. Kesan ketidakseriusan tentu akan muncul lebih dominan mengisi porsi opini masyarakat awam tanpa memedulikan seberapa banyak, dan berdasar alasan yang kita beri. Saya memahami betul dan merasakan langsung betapa kondisi yang seperti ini tidak baik untuk kesehatan jiwa. Beruntung saja kekuatan iman dan takwa saya sudah teruji selama ini, sehingga terhindar dari penyakit gagal move on juga selamat dari serangan jantung.

Hanya saja, ada satu hal yang patut disayangkan dalam kasus ini. Seperti yang sudah disinggung di awal tulisan ini, yaitu soal wisuda (dan wisudawan). Sedikit sekali di antara kita yang benar-benar sadar bahwa sejatinya momen wisuda adalah ruang transit di mana fase hidup yang sesungguhnya sedang menanti di depan. Di tengah carut-marutnya proses pengimplementasian sistem pendidikan di negeri ini, gelar sarjana justru ditempatkan sebagai sosok yang agung, yang suci, yang bersih dari segala macam makna bernama pengabdian dan tanggung jawab. Selain hanya menjadikannya sebagai tangga untuk mendapatkan pekerjaan (dan pemantap nama di surat undangan nikah), gelar sarjana selebihnya nyaman, tenteram, adem ayem di atas lembar ijazah.

Ngapunten, nggeh. Ini bukan pernyataan sakit hati dari seorang mahasiswa tua yang belum wisuda. Pengaguman terhadap nilai IPK yang berlebihan, sementara abai terhadap sesuatu hal yang lebih esensial dari itu. Maka, jangan heran jika salah satu permasalahan pendidikan berupa rendahnya kualitas SDM Indonesia masih menjadi mimpi buruk sejak dahulu. Terus, siapa yang salah? Saya? Ya, ora lah! Wong, saya cuma ngritik thok, kok!

Kalau sudah begini, bawaannya jadi emosi, pengen nyocot nyambi nyangkruk neng warung kopi wae. Atau, saya bahas saja soal si Rokim, seorang kawan yang berprofesi sebagai pengawas desa di Watulimo, daerah Nggalek sana. Seumur-umur, saya baru tahu ada jenis homo sapiens seperti ini yang galau gara-gara terjebak kemandulan dalam menulis, hahaha…… (Sabar ya, Khim. Saran buat Mas Surur (guru spritualnya Muhammad Rokhim), kalau si Rokhim masih ndableg juga setelah diwarai cara e nulis, mending diinterogasi saja. Jangan-jangan masalahnya karena kebelet pengen rabi kuwi, wuakakaka…)

Sembari menandaskan tulisan ini, saya hadirkan ruh lirik lagu “Koboy Kampus” milik band The Panas Dalam sebagai theme song untuk kisah ini: “Lalu saya kapan akan diwisuda/ adik kelas sudah lebih dulu/ hati cemas merasa masih begini/ teman baik sudah di DO// orangtua di desa menunggu/ calon istri gelisah menanti/ orang desa sudah banyak menunggu/ aku pulang membangun berkah// tolonglah diriku/ koboy kampus yang banyak kasus/ diriku cemas/ gelisah sepanjang waktu…//

Barangkali, dengan mendengar lagu ini saya akan dikuatkan dalam menghadapi terjangan peluru kendali saya punya mama. Alhamdulillah, berkat bantuan zat nikotin dan kafein, asa hidup saya berumur panjang sampai detik ini. Tidak perlu menggugat prinsip yang saya usung ini. Sebab, tidak ada untungnya sama sekali buat Sudara-Sudara.

  • Muhammad Choirur Rokhim

    Ya ampun. Kenapa sih aku harus dinodai, eh dijadikan bahan omongan… apakah aku sepolos itu ya…

  • Bayu Setiawan

    Janganlah bangga dengan serangkai gelar setelah lulus kuliah. Saya yg cuman lulusan sma saja sudah bangga, karrna apa? Karena saya bisa lebih dri seorang yg bergelar sarjana. Terkait mas rochim, ah orang ini memang sedang galau mau rabi kayane wkwkwkw..

    #kaboooor

  • Aaaaah, senang kali aku baca ini tulisan. Bahasa timur itu selalu kudengar berapi-api, penuh hentakan dan terkesan serius. Tapi seserius bahasa mas Muksin ini, selalu saja membuat saya ketawa, tak beda dengan ketika saya mendengar bahasa tegal. Tapi ini bukan menertawakan dalam arti menghina lo. Saya tertawa karena saya benar-benar bahagia. aduh mama sayangeeeeeee.

    Soal kuliah kasep lulus, sudahlah jangan terlalu dirisaukan. Orang-orang penting saat ini dulunya juga raja dongkol di kampus, pun saya juga menuntaskan 7 tahun masa kuliah. Hasilnya memang luarbiasa, kita akan mendapatkan pandangan lain dari pada mereka yang hanya menghabiskan 3 tahun di kampus. Mereka tidak mateng, sedangkan 7 tahun itu mateng sekali. Minial pandangan hidup saja sudah berbeda. biasanya yang kelamaan di Kampus, pikirannya jadi simple, sesimple berpikir lulus itu tidak penting.

    Kalau Rokhim itu memang tipikal manusia yang selalu butuh di seneni, di entahi. Soalnya dari semenjak kecil seperti itu, wwkwkwkkkw. bercanda Khim.

    Ah sudahlah, ini komentar saya kok malah jadi artikel. suram

  • Roin J. Vahrudin

    Ah, mas Rokhim lagi…