Membawa Kendurian ke Zaman Milenial

Salah satu ciri generasi milenial adalah ogah-ogahan kalau diajak kendurian. Jika akhirnya pun berangkat, biasanya dengan kadar keikhlasan yang rendah. Tentu banyak alasan, termasuk: enggak kekinian, makanan/minuman yang disajikan tidak menarik.

Tradisi-tradisi yang berasal dari agama Hindu–seperti kendurian pada peringatan Galungan—masih saja hidup di tengah-tengah masyarakat (muslim) di perdesaan. Memang, formatnya sudah sedikit berubah. Masih nanggung.

Di sekitar bulan Ramadan, misalnya, terdapat setidaknya dua macam kendurian, yakni: kendurian megengan dan kendurian maleman. Kendurian megengan dilakukan dua kali, malam menjelang tanggal 1 Ramadan dan malam menjelang tanggal 1 Syawal (Idul Fitri). Sedangkan kendurian maleman digelar dua atau tiga kali di sepertiga terakhir bulan Ramadan pada malam hari menjelang tanggal 21, 27, dan 29. Terasa sekali itu berkaitan dengan Lailatul Qadar, bukan?

Pada prinsipnya kendurian adalah acara berdoa mohon keselamatan, baik bagi yang masih hidup di dunia maupun mereka (arwah leluhur) yang sudah berada di akhirat. Permohonan atau doa itu dilambangkan dengan aneka makanan, nasi, sayur, lauk, camilan, minuman. Seseorang yang dituakan memimpin doa sekaligus seperti menerjemahkan setiap jenis makanan dan minuman yang disajikan menggunakan bahasa Jawa ragam krama.

Dalam bahasa Jawa, pekerjaan itu disebut juga ngajatke atau ngujubke. Ngajatke, pada dasarnya adalah membacakan niat sohibul hajat, memanjatkan doa sekaligus menjelaskan niat yang dilambangkan dengan aneka macam/bentuk hidangan. Di antaranya, misalnya, air gula atau sirup (juruh)  dan air santan (santen) yang biasanya ditaruh di dalam dua buah gelas berdampingan. Hidangan ini dalam kajatan tersebut merupakan simbol muasal manusia, dari sel telur dan sperma. Juruh-santen itu masing-masing berwarna merah dan putih. Dalam bahasa kendurian akan dikatakan, ”toya abrit saking biyung, toya pethak saking bapa,” (air merah dari ibu, air putih dari ayah).

Setelah orang yang dituakan selesai ngujubke, ia bisa langsung membacakan doa dalam versi bahasa Arab. Sering, doa dalam bahasa Arab itu dibacakan oleh orang lain.

Aneka jenis makanan/minuman yang biasa disajikan dalam kendurian sesungguhnya adalah keanekaragaman kuliner warisan nenek-moyang. Di antaranya: ingkung, panggang (ayam), mule, metri, takir, kupat, lepet, alu-alu lonthong, paes kembang, bulus angrem, buceng/tumpeng, jenang abang, jenang katul, jenang menir, ketan-kolak, juruh-santen. Ada lagi yang biasa dibubuhkan pada mule, metri, takir, yaitu serondeng.

Bukan hanya jenisnya yang beraneka, sajian dalam kendurian juga menjadi sarana pewarisan kearifan nenek moyang dalam hal kemasan.  Asal tahu saja, yang disebut sebagai mule, metri, dan takir, itu sesungguhnya isinya bisa persis sama: nasi putih dengan lauk serondeng dan telur dadar atau daging. Yang membedakan hanyalah kemasannya. Disebut mule jika ditaruh di atas piring, disebut takir jika dikemas dengan daun pisang terbuka. Bahkan, takir itu sendiri sebenarnya adalah nama wadahnya, daun pisang yang dibentuk sebagai kotak kecil dengan bagian atas terbuka. Dan disebut metri ketika dikemas dengan bungkus (tertutup) daun pisang.

Tampilan sajian dalam kendurian menunjukkan betapa kreatif nenek moyang kita dalam urusan mengemas. Dari daun pisang saja, misalnya, dapat dibuat beberapa jenis kemasan untuk makanan, seperti yang dapat dikenali melalui istilah-istilah: buntel, genem, pincuk, takir, conthong, linting. Kini, budaya warisan leluhur yang sangat ramah lingkungan itu telah terdesak oleh ”kebudayaan plastik”. Dan kita tahu, ”kebudayaan plastik” hanya akan mewariskan timbunan sampah yang makin menggunung dari generasi ke generasi.

Seiring waktu, kendurian megengan dan maleman makin bergeser formatnya. Kini tidak lagi ada aneka bentuk sajian dengan beragam kemasan. Cukup dengan nasi, lauk, minuman, dan kue (biasanya kue apem). Lalu didoakan dengan doa dalam bahasa Arab. Di beberapa tempat malah kendurian maleman sudah berubah menjadi acara tahlilan. Esensinya tetap: kirim doa bagi arwah para leluhur.

Dulu, megengan digelar secara bergilir dari satu rumah ke rumah berikutnya dalam satu komunitas masonan. Untuk diketahui, masonan adalah ikatan sosial yang terbentuk atas dasar kesamaan sumber air yang dimanfaatkan oleh sekelompok warga. Masonan, dengan demikian, juga erat kaitannya dengan sistem tradisi membangun kebersamaan dalam pemanfaatan dan perawatan sumber air. Lagi-lagi, begitu memasuki era ”kebudayaan plastik” tradisi masonan pun runtuh, karena pipanisasi air sumber secara habis-habisan mengganyang sistem tata-kelola sumber air di perdesaan.

Tradisi masonan pun benar-benar tamat riwayatnya ketika acara megengan dan maleman diboyong ke masjid atau surau. Ke mana pula tradisi merawat sumber air secara bersama-sama itu? Asal tahu saja, sumber-sumber air itu kini telah dicincang-cincang dengan pipa. Setiap orang (keluarga) berlomba-lomba menarik air dari sumbernya dengan pipa, kadang ditambah mesin penyedot, ke rumah masing-masing. Nilai-nilai kebersamaan pun semakin tergerus.

Bagi kaum yang masih menginginkan acara kendurian tetap lestari di tengah-tengah masyarakat, saya punya saran: pertahankan kemasannya, dan lakukan penyesuaian konten. Jadi, jika paes kembang selama ini dibuat hanya dari bahan tepung beras yang dikukus dan rasanya cenderung hambar, gantilah dengan cokelat. Mule, metri, dan takir, jangan lagi pakai lauk cuma sedikit daging ayam atau secuil dadar telur, tapi gantilah dengan ayam goreng kremes. Masukkan pula ke dalam sajian wajib kendurian: eskrim, cilok, baso, dan aneka makanan/minuman kekinian yang disukai anak-anak hingga orang tua.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: [email protected]