Megengan

Setiap individu  memiliki caranya masing-masing dalam bersyukur dan bersuka cita ketika mendapat kebahagiaan. Ada yang bersyukur pada Tuhan dengan ucapan, ada yang hanya menunjukkan ekspresi senang, ada pula yang hanya tersenyum, melonjak kegirangan, atau bahkan saking senangnya hingga menangis terharu. Ada pula yang mewujudkan syukurnya dengan “mentraktir” makan orang-orang di sekitarnya. Ia bahagia, orang lain pun juga harus ikut bahagia. Begitu pikirnya. Sungguh mulia, bukan?

Untuk wujud syukur yang terakhir saya sebutkan tadi, kini hampir setiap keluarga di sekitar rumah sedang berbahagia. Mereka berbahagia dan bersyukur karena sebentar lagi masih diberi kesempatan untuk kembali berjumpa dengan bulan yang oleh Tuhan dilipatgandakan ampunan, berkah dan ridha-Nya. Dan mereka mewujudkan rasa syukur dengan “mentraktir” makan orang-orang di sekitar rumah.

***

Rasa kekeluargaan dimulai sejak awal proses persiapan acara “traktiran” ketika perempuan dalam sebuah keluarga, dibantu oleh perempuan-perempuan dari keluarga tetangga menyiapkan makanan yang diperlukan. Mereka bekerja sama dan berbagi tugas dalam menyiapkan makanan. Ketika selesai, selanjutnya adalah tugas lelaki berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk mengundang mereka hadir di acara “traktiran” yang telah dipersiapkan di rumah.

Assalamua’alaikum…

Waalaikum salam… Wonten napa, pak Yatno?

Nyuwun sewu Pak Samsul, niki kula rawuh dateng ndalem saperlu ngaturi rawuh panjenengan dateng nggriyo kula. Kula lan kaluwarga ngawontenaken syukuran.

Oalah, nggih Pak Yatno. Matur suwun…

Sami-sami, Pak…

Indah sekali, bukan?

Ketika para tetangga dan undangan sudah hadir semua, dimulailah acara.

Ada seseorang yang dipasrahi untuk menjadi wakil keluarga dalam menyampaikan sambutan kepada para undangan dan maksud dari acara yang diadakan. Setelahnya, doa bersama sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Ketika para lelaki di ruangan depan berdoa bersama, para perempuan menyelesaikan tugasnya di ruangan belakang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjamu para undangan. Ketika doa selesai, makanan dikeluarkan dari ruangan belakang untuk disuguhkan kepada seluruh undangan.

Jika Anda yang membaca tulisan ini adalah orang Jawa, khususnya Jawa Timur, pasti mengenal dengan istilah “kajat”. Ya, tradisi itu masih berlaku di sini. Dan di sinilah keindahan selanjutnya.

Profesi “tukang kajat” bukanlah tugas yang didapat seperti pejabat-pejabat pemerintahan negara ini dengan menunjukkan bahwa dirinya merasa mampu. Ia terpilih karena memang dipilih oleh masyarakat tanpa menunjukkan bahwa ia mampu. Bagi saya pribadi, “tukang kajat” adalah orang yang bukan sekadar “ngajatne” namun mengerti dan memahami makna-makna dari setiap detail makanan yang disajikan kepada undangan. Kita tahu sendiri, masyarakat Jawa adalah masyarakat yang gemar menamai segala sesuatu, dan nama yang diberikan pun tak boleh sembarangan. Harus punya makna.

Setelah “ngajatne” dan diakhiri dengan doa, satu, dua atau tiga orang maju ke depan untuk meramu semua makanan dalam satu piring dan dibagikan ke semua undangan. Para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati makanan yang telah disajikan. Lodho, sego gurih, janganan, jenang abang, kolak, buah-buahan, jajanan lainnya dan tentunya kopi.

Setelah jamuan makan selesai, para undangan tidaklah langsung pulang. Di abad modern, komunikasi yang menihilkan pertemuan fisik atas nama efisiensi dan efektivitas menjadi semacam bumerang bagi manusia itu sendiri. Suatu konektivitas yang kini sudah sangat jarang ditemukan, terjadi di acara “traktiran” ini.

Obrolan-obrolan ringan seputar harga-harga hasil pertanian, persiapan mereka menyambut tahun ajaran baru bagi anak-anaknya, sungai belakang rumah yang semakin sedikit airnya, juga keruh banyak sampah, harga tarif listrik yang naik nggak ketulungan, dan sepinya pasar. Paling tidak itulah yang diperbincangkan oleh masyarakat di sekitar saya sekarang ketika acara “traktiran” menjelang Ramadhan tahun ini.

***

Tak sekadar acara jamuan makan. Sejak proses persiapannya saja sudah menjadikan acara “traktiran” ini sebagai sebenar-benarnya media sosial. Ada tatap muka, saling mengenal ekspresi dan karakter orang lain, tukar informasi yang sedang terjadi di sekitar kita secara langsung. Dengan semua tadi, menumbuhkan kerukunan antarsesama warga, saling tenggang rasa, saling menghormati, dan yang paling penting adalah terjaganya rasa persatuan.

Acara “traktiran” tersebut di daerah saya bernama “megengan” (huruf e dibaca seperti huruf e di kata pecah). Di daerahmu, sama ataukah berbeda nama?