Hampir seminggu yang lalu editor nggalek.co menulis tentang Trenggalek dalam kacamata etnografi. Walaupun tulisan tersebut tidak bagus-bagus amat, yang isinya adalah pengulangan-pengulangan fakta yang sering kali dia tulis, tapi ada satu hal penting yang menurut saya wajib diperhatikan dan dibahas lebih lanjut. Adalah tentang perlu dan mendesaknya kita sebagai manusia secara berkala dan terus menerus mencatat dan memahami perubahan-perubahan yang terjadi di sekeliling tempat kita tinggal.

Saya kutip saja satu paragraf penting yang saya maksud. Sisanya kalau ingin baca dan memahami konteks penulis secara utuh bisa dibaca di tautan di atas. Berikut kutipannya.

Karena itu, barangkali untuk dapat menggambarkan sesuatu yang menyatu dalam simbol-simbol yang digunakan masyarakat, bagi seorang penulis, budayawan dan pengamat budaya (pengurai kode kebudayaan), dibutuhkan dirinya pertama-tama sebagai seorang pencatat (etnografer), di antaranya untuk mengungkapkan apa yang ada di lapangan secara apa adanya, ketimbang tergesa menerjemahkan pikirannya sendiri untuk menilai (judgement) dan menafsir realitas kebudayaan—padahal belum mengamati secara tuntas fenomena kehidupan yang bergerak di tengah masyarakat yang tengah ditulis.

Apa yang sangat penting dari paragraf di atas, adalah ajakan Misbahus Surur untuk mencatat, mencatat dan mencatat. Alih-alih berupaya membentuk kelompok studi untuk menerjemahkan kondisi masyarakat yang secara periodik bertransformasi dalam kecepatan cahaya, dengan senjata analisis teori-teori usang serta sebagai pengamat yang berjarak dengan objek. Surur mengajak untuk mengarsip data-data di lapangan (dalam bentuk tulisan, foto atau audio visual) dengan apa adanya. Subjektif, intim, sambil tetap objektif melihat dari kacamata objek.

Dengan kata lain, dalam etnografi visual, kita memotret dan membuat dokumenter tanpa skrip. Kenapa ini penting, karena kita amat sangat kekurangan bahan baku untuk melakukan kerja-kerja penulisan di masa depan (pada konteks Trenggalek tentu saja). Apa yang dilakukan nggalek.co, selain sebagai wadah untuk menulis (yang sebagian berisi tentang kehidupan sosio-histori masyarakat Trenggalek), secara tidak langsung menjadi ruang penyimpanan arsip-arsip serta catatan yang dimaksud Surur di atas.

Maret, 2019 British Library meluncurkan hasil dari program yang sudah diinisiasi sejak satu tahun yang lalu bersama pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 20 maret 2018, Sultan Hamengkubuwono ke X memulai proyek pendigitalisasian manuskrip-manuskrip Jawa dari Yogyakarta yang dibawa Pemerintah Inggris pada tahun 1812 atas perintah gubernur Thomas Stamford Raffles. Program ini memulai keterbukaan akses pada kurang lebih 75 manuskrip Jawa yang sekarang disimpan di British Library. Tidak kurang dari 30.000 lembar gambar hasil digitalisasi atas manuskrip tersebut kini bisa diakses di http://www.bl.uk.

Sampai akhir tahun 2016, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) baru mendigitalisasi 30 persen koleksi arsipnya yang mencapai 29.000 boks. Koleksi arsip yang misal dijajar bakal sepanjang 30 kilometer itu berupa buku, foto, dokumen dan audio visual yang merekam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dengan kecepatan, kemampuan dan kesiapan anggaran yang dimiliki ANRI mendigitalisasi yang hanya 150-200 boks setahun, sampai akhir 2018 dapat diperkirakan hanya bertambah menjadi 32 persen.

Jadi, kira-kira ANRI hanya menghasilkan 1 persen produk dari digitalisasi koleksi arsipnya tiap tahun. Ya kalau keadaan ini dilanjutkan, kita baru akan bisa mengakses arsip (berupa digital) ANRI seluruhnya pada tahun 2095 dan akan butuh puluhan abad lagi untuk dapat diakses online. Itu pun dengan asumsi kalau koleksi arsipnya yang berjumlah 29.000 boks tersebut tidak bertambah dan Indonesia masih baik-baik saja.

Apa yang saya bahas dari kutipan tulisan Surur, dan 2 paragraf di atas adalah bentuk kontradiksi dalam bagaimana kita, sebagai bangsa dengan jalan cerita sejarah yang amat sangat begitu panjang, memperlakukan bagian penting dari syarat peradaban terbentuk, yakni kerja pengarsipan. Saya tidak sedang membandingkan kerja nggalek.co yang sejak 3 tahun lalu penulisnya tidak dibayar sepeser pun (terkait honor. Kalau donasi untuk lembaga ya milyaran dari asing :-D) dengan minimnya anggaran yang kita alokasikan untuk Arsip Nasional Republik Indonesia dan profesionalitas lembaga-lembaga luar negeri mengelola arsip yang mereka miliki.

Sebelum Britis Library, kita tahu KITLV di Belanda sangat concern dengan arsip-arsip Indonesia. Begitu sangat mudah kita memperoleh foto-foto yang diambil di zaman Hindia-Belanda misalnya, hanya dengan berselancar mengunjungi situs mereka. Koleksi-koleksi peta-nya juga luar biasa.

Saya pernah menulis artikel tentang kampung halaman hanya berdasar sumber primer dari peta yang diakses dari sana. Pengarsipan digitalnya juga rapi, detail dan navigasi website-nya mudah. ANRI sebenarnya pernah menampilkan (seluruh?) katalog arsipnya di Jaringan Informasi Kearsipan Nasional. Sayangnya ketika saya mau akses ke sana, website-nya sudah meninggal.

Ironis jika kita becermin bagaimana pengelolaan arsip yang ada di Indonesia. Selain porsi anggaran yang minim diberikan untuk ANRI, masyarakat kita memang tidak peduli dengan arsip. Dahulu kala, saya pernah terlibat bekerja bareng lembaga yang seharusnya membutuhkan pengelolaan arsip secara profesional, kenyataannya dikerjakan secara sporadis dan acak-acakan. Kalau yang seharusnya penting saja kita abai apalagi di sektor lain yang tak terlalu butuh dokumentasi.

Akhir kata, apa yang dianjurkan Misbahus Surur di atas menjadi sangat penting di tengah tata-kelola arsip kita yang mungkin kalau tidak boleh dikatakan amburadul, ya kurang rapi dan gesit. Dengan tidak mengesampingkan peran pemerintah saat ini, kita sebagai warga negara, masyarakat dan entitas bangsa perlu memulai kerja-kerja pengarsipan diawali dari hal yang paling kecil: keluarga. Sejarah bukan lagi narasi-narasi besar yang berkaitan dengan orang dan tokoh-tokoh besar. Sejarah adalah rekam jejak kita, ya, kita, saya dan anda sekalian sebagai masyarakat dan bangsa yang hidup di tanah Indonesia.

Kalau buku diari sudah terlalu usang dan kolot, blog dan website adalah cara yang paling mudah, berpihak pada kelestarian lingkungan, dan murah. Semua manusia yang berproyeksi masa depan harus menjadi sejarawan dengan merekam, mencatat, mencetak dalam ruang ranah sejarah mereka sendiri. Kalau anda tidak punya blog untuk menulis bisa memanfaatkan kerja kolektif kami di nggalek.co untuk ruang arsip tulisan-tulisan anda yang mungkin senada dengan kebijakan redaksi.

Tapi yang perlu dicermati adalah nggalek.co merupakan lembaga swadaya masyarakat, mesinnya hanya digerakkan dengan donasi dan kesukarelaan orang memberi. Dan tentu saja, dana asing yang jumlahnya trilyunan itu dari Yahudi. Selamat 3 tahun lebih 1 bulan nggalek.co.

TINGGALKAN KOMENTAR