“Sejauh saya pahami dari kawan-kawan yang pernah hidup di negara-negara Islam lainnya, Ramadhan di Jawa agak luar biasa. Atau lebih tepatnya, tidak banyak umat Islam di dunia ini yang begitu mementingkan puasa Ramadhan seperti umat Islam di Jawa dan Indonesia,” Andre Moller (Ramadhan di Jawa: Pandangan dari Luar, 2005)

Di antara dua belas bulan—pada penanggalan hijriyah—ada satu bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh jutaan umat muslim dunia: laki-laki-perempuan, tua-muda dan anak-anak, yaitu bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, umat manusia berbondong-bondong mencari pahala, mencari berkah dengan cara memperbanyak ibadah. Bulan Ramadan merupakan bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan. Setiap amal perbuatan tercatat dalam buku kebaikan dan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ramadan merupakan bulan “penggemblengan” manusia; di mana manusia dianjurkan untuk mengendalikan diri dari hawa nafsu: tidak makan, tidak minum; menahan diri dari berkata kotor, berhubungan suami-istri dan lain-lainnya, mulai dari tergelincirnya fajar sampai terbenamnya matahari di ufuk Barat.

Bulan Ramadhan mengubah kondisi sosial menjadi sedemikian shaleh nan agamis. Kita bisa lihat di manapun, di lingkungan sekitar maupun di tayangan televisi, orang-orang berduyun-duyun berbenah supaya “terlihat” agamis. Banyak perempuan yang awalnya tak berkerudung berubah berhijab. Begitu pula, yang laki-laki jika biasanya setiap sore memakai celana jins cingkrang, berubah memakai kopyah dan bersarung. Tayangan-tayangan televisi berubah menayangkan reality show berbalut religius nan agamis. Tak berhenti sampai di situ, masjid yang biasanya kosong momplong, saat bulan puasa, disesaki jamaah. Dan, yang paling fenomenal—hampir umat Islam di dunia sangat peduli dan perhatian dengan suara bedug ditabuh atau kumandang adzan Magrib. Duh, luwar byasa-nya bulan ini  bagi umat!

Bertutur tentang Ramadhan, saya sangat terkesan dengan kisah yang dialami oleh generasi 1980 dan 1990-an. (Dan memang tulisan ini berangkat dari cerita-cerita masa lalu, yang hari ini sudah mulai dilupakan dan hampir lenyap). Sayang, generasi era digital seperti sekarang ini, tidak “menangi” dan mencicipi tradisi penuh kearifan dan makna itu. Misal, nabuh kentongan dan bedug. Tradisi seperti itu sudah disisihkan dan dilupakan oleh tradisi digital native: internet, gadget, play station dan smartphone, yang menawankan keserbainstanan.

Bagi saya, Ramadhan adalah bulan memorable. Ia selalu meninggalkan cerita yang mengesankan, tidak terkecuali bagi anak-anak kampung macam saya ini. Masih ingat betul di benak, dahulu sebelum masuk bulan Ramadhan atau akhir bulan Sya’ban, almarhum Mbah Haji Parlan menabuh bedug secara maraton yang berada di teras masjid. Mbah Haji Parlan adalah Imam  sekaligus pemangku masjid. Saat Mbah Parlan menabuh bedug—titir, anak-anak seumuran saya, berlarian menuju masjid untuk menggantikan Mbah Parlan nabuh bedug dengan keras dan kencang. Sampai satu RT mendengar. Mereka bermain bedug dikompilasikan dengan kentongan hingga menimbulkan suara khas. Bergantian. Singkat cerita, ketitir itu baru selesai dan pemukul di-gletak-ne saat masuk adzan Ashar.

Tradisi nabuh bedug dan kentongan ini dimulai lagi selepas shalat tarawih. Selesai shalat tarawih dan salam-salaman, anak-anak berhamburan ke teras, dan berebut alat pemukul bedug. Sebelum tadarrus Al-Qur’an bersama, mereka bermain bedug dan kentongan lagi. Iringi langgam puji-pujian shalawat Nabi, menambah semangat genderang bunyi bedug.

Tetapi momen itu mulai dilupakan dan tak terdengar lagi selepas shalat tarawih. Saya kira hilang dan lenyapnya tradisi ini seiring dahsyat gempuran modernisme di kampung-kampung kecil, seperti di desa saya. Tetapi setelah teknologi menguasai—hampir—di semua aspek, bedug dan kentongan relatif tidak ada. Dan saya tidak tahu sejak kapan jejak kentongan dan bedug dilupakan? Dahulu, sebelum teknologi dikenal luas oleh masyarakat, simbol-simbol kebudayaan seperti itu sangat terasa dan kentara.

Selain itu, teknologi kentongan dan bedug juga ditengarai digantikan oleh perdebatan kedua organisasi besar keagamanan—NU dan Muhammadiyah—di televisi, perihal penentuan awal puasa. Yang jelas, perbedaan dalam penentuan awal puasa ini mengakibatkan “kisruh” di desa. Betapa tidak, saat sidang isbat sedang berlangsung di Kementerian Agama, sedangkan di kota-kota lain, di Indonesia sudah masuk waktu shalat Isyak sekaligus shalat tarawih. Dan, masyarakat sudah berangkat duluan ke surau, langgar maupun masjid sebelum informasi didapat. Di sinilah dilema para jamaah shalat tarawih: “Betul nih malam ini kita shalat tarawih? Besok kita sudah Puasa? Kita belum dapat informasi dari pusat loh?” ungkap imam masjid kepada jamaah.

Tidak ada salahnya imam bertanya kepada para jamaah shalat Isyak tentang keyakinan dimulainya shalat tarawih. Hal tersebut menghadirkan kemufakatan bersama para jamaah. Dan ini—bagi saya—menarik. Lebih afdol, sebelum shalat tarawih dimulai, kita semua sudah mengantongi keyakinan awal bulan puasa. Ya, seharusnya sebelum shalat tarawih, semua jamaah dan imam masjid mengetahui awal puasa.

Kembali di soal kentongan dan bedug. Konon, selama 70 tahun seorang antropolog bertandang di suatu kampung demi suatu penelitian. Ia sangat kaget dan terkesan dengan tradisi kampung yang begitu bersahaja, sepi dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian, tak sama dengan di negara asalnya. Ia pun sangat menikmati tinggal di kampung dengan suara-suara kentongan dan bedung, berbunyi sebelum kumandang adzan naik. Tiga puluh tahun kemudian, ia sambang lagi ke kampung tersebut. Ia langsung kaget. Suara-suara (kentongan dan bedug) yang dahulu pernah didengar berubah menjadi suara pengeras suara yang bersahut-sahut memekikkan telinga. Kata Hairus Salim “Suara yang mengisi suasana desa dan kota (kentongan dan bedug) bukan semata suara. Ia adalah sebuah pertanda sekaligus petanda.”

Saya kira raibnya bunyi kentongan dan bedug, disinyalir setelah masuknya teknologi modern, seperti pengeras suara, mikrofon. Sekarang kita tidak mendengar lagi ke-khas-an bunyi pedesaan, dan kala adzan berkumandang, tak ada lagi gerak ritmis pemukul dengan kentongan dan bedug. Yang ada, orang-orang langsung memegang mikrofon atau tongkat toa. Mereka telah beralih ke teknologi ramah lingkungan menuju teknologi praktis yakni pengeras suara. Dan suara mikrofon dapat menjangkau pelosok-pelosok desa. Sekarang tak lagi ada suara sayup-sayup khas angklung. Angklung dan atau kentongan dianggap bukan lagi jawaban dari kemajuan zaman.

Dengan pengeras suara, mereka dengan mudah mengumbar rekaman kaset melalui mikrofon. Oleh karena itu, tak berlebihan bila Almarhum Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menulis artikel berjudul Islam Kaset. Karena Suara kentongan dan bedug relatif terlupakan atau tergadaikan oleh suara speaker. Namun kala bulan Ramadhan tiba, romantisme kentongan dan bedug sering masih terngiang di benak orang kampung macam saya.