sendra-tari-ramayana
Ilustrasi: Sendra Tari Ramayana - Photo: royalambarrukmo

Jika ingin tahu potensi kesenian di sebuah kawasan, desa, misalnya, lihatlah di bulan Agustus ketika segenap elemen masyarakat memeringati hari kemerdekaan. Ada jenis kesenian yang dilombakan, ada pula yang hanya dipertontonkan. Terutama
jenis kesenian tradisional yang masih hidup di kawasan bersangkutan, tampil dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan sepertinya adalah wajib hukumnya.

Kamis, 24 Agustus 2017, saya sempatkan menembus dinginnya udara kemarau di malam hari dari Cakul (Dongko) ke Alun-alun Trenggalek untuk menyaksikan pagelaran kesenian persembahan Dewan Kesenian Kabupaten Trenggalek.

Ada lagu keroncong, disusul teatrikalisasi puisi (?) berjudul “Rajawali Raja Angkasa”, kemudian disambung pentas kolosal kolaborasi berbagai jenis kesenian: musik, rupa, tari, lakon, yang diberi judul “Cinta Tanpa Tanda Baca.”

Sungguh membanggakan, dan sebagai dongkol Ketua Dewan Kesenian Trenggalek saya merasa senang menyaksikan kawan-kawan seniman Trenggalek mendapatkan ruang ekspresi yang sangat lapang. Kehadiran Bupati dan Wakil Bupati (yang terakhir adalah juga Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Trenggalek) yang menyaksikan lakon “Cinta Tanpa Tanda Baca” hingga rampung adalah peristiwa langka.

Pada umumnya, bupati, gubernur, presiden, akan meninggalkan tempat duduknya sesaat atau beberapa saat usai memberikan sambutan.

Itu pun sudah luar biasa. Yang lebih membanggakan ialah bahwa Dewan Kesenian yang selama periode saya tidur mendengkur, kini mulai menunjukkan kiprahnya, bahkan sebelum pengurus baru ini dilantik.

Materi yang disuguhkan pun tidak tanggung-tanggung, sebuah pementasan kolosal yang melibatkan semua cabang seni. Garapan musiknya bagus, koreografinya ciamik. Jika mesti disebut kekurangannya, agar tidak hanya ngalembana, adalah di bagian dialog yang masih didukung teknologi play-back.

Dengan semua kabar ini saya lalu teringat seorang maestro seni, khususnya seni tari kebanggaan Trenggalek yang sudah mendahului kita. Ialah Ki Soenarto AS. Di masa-masa menjelang kepergiannya, pendiri Sanggar Tari Joyo Anggodo itu beberapa kali mengemukakan kegelisahannya untuk dapat menampilkan karya-karya tarinya yang sudah berbicara di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional. di kampung halamannya sendiri: Trenggalek.

Kini, ketika terbukanya ruang ekspresi bagi seniman sudah mulai dapat dirasakan di Bumi Menaksopal ini, justru kita telanjur ditinggalkan seorang maestro yang susah dicari penggantinya.

Sendratari Gajah Mada,” dan “Bedhaya Ujung Galuh” adalah dua di antara karya-karya besar beliau yang akan membuat kita tak pantas diarani durhaka andai bisa menggelarnya di sini, di Trenggalek, ketika beliau masih sugeng. Kini, momentum paling bagus sudah lewat. Sambil berdoa agar tiada yang sempat berpikir untuk melabeli kita sebagai anak-anak durhaka, masih ada peluang untuk mengurangi derajat kedurhakaan kita dengan memfasilitasi tergelarnya karya-karya besar Ki Soenarto AS.

Tetapi, mohon diingat bahwa ruang ekspresi seperti yang kita buat di depan alun-alun kabupaten itu pasti tidak representatif. Lalu, di mana sebaiknya? Gedung Serbaguna Kelutan? Agaknya masih kurang juga. Hampir boleh dipastikan, Gedung Serba Guna Kelutan itu tidak dibangun dengan pertimbangan efek suara serta hal-hal lain yang sangat signifikan bagi seni pertunjukan. Hampir pasti, yang paling dipertimbangkan adalah kemampuannya menampung banyak orang.

Kini saya ingin thok ngel ben ora terlalu mbulet, bahwa Trenggalek membutuhkan infrastruktur semacam miniaturnya Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta itu. Di sanalah nanti kita akan menampilkan karya-karya besar seperti yang telah diwariskan Ki Soenarto AS kepada kita.

Sayangnya, dalam pidato Sambutannya Mas Emil Bupati Trenggalek tidak memberikan secuil pun isyarat mengenai hal itu. Beliau malah bercerita mengenai akan datangnya seorang Guruh Soekarno Putra untuk menggali potensi Trenggalek dan menjadikannya karya koreografi yang peng-pengan. (Ini hal menarik lainnya untuk dibahas, lho!)

Itu soal ruang. Soal waktu, bagaimana? Ingatlah pula, bahwa Kung Narto sepertinya juga tidak pernah berpikir untuk menjadikan karya-karya masterpeace-nya itu sebagai sejenis karya kesenian Agustusan. Kira-kira ngono, lho!

BERBAGI
Bonari Nabonenar
Lahir di Desa Cakul, Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek (1964), menulis dengan bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Ikut menyunting tabloid berbahasa Jawa bagi remaja Bro dan Majalah Peduli yang diterbitkan untuk komunitas pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong. Dapat dihubungi melalui: nabonenar@gmail.com