Peta Surodakan, 1940. Peta di-capture dari Royal Tropical Institute oleh Gilang | edited mastrigus
Peta Surodakan, 1940. Peta di-capture dari Royal Tropical Institute oleh Gilang | edited mastrigus

Surodakan adalah nama salah satu kampung di dalam kota Trenggalek. Kampung ini berbatasan dengan Gunung Cilik, Gunung Tempel dan Gunung Tumpak Kelor di sebelah utara. Pusat pemerintahan Trenggalek dan Kampung Kauman di sebelah baratnya. Lanskap sawah dan tegalan di bagian timur. Nama kampung yang sangat tak familiar ini, juga tak pernah disebut di berbagai narasi.

Paling-paling muncul di surat kabar lokal yang memberitakan sebuah institusi pendidikan setingkat sekolah dasar sedang membuat acara tahunan, atau secuil kisah di babad ditulis tim yang dibentuk untuk menemukan umur Trenggalek. Google yang dianggap sakti bagi sebagian orang pun hanya menyimpan jejak-jejak kata kunci “surodakan” di situs-situs jejaring sosial macam Facebook, Twitter dan Youtube. Yamin lebih baik saya kira, minimal nama ini pernah termaktub dalam buku karangannya yang sangat terkenal tentang Majapahit itu.

Surodakan, kampung tempat saya dilahirkan adalah obyek yang mengilhami tulisan ini. Menjadi sangat naif jika saya tak berkata jujur, bahwa pemilihan tempat memang berdasarkan subyektivitas semata. Namun, di sisi lain, kedekatan batin terhadap Surodakan inilah yang menjadikan saya, lebih leluasa untuk mengeksplor apapun yang berkaitan dengannya.

Narasi tentang lokal history memang selalu luput dari perhatian khalayak dan para penulis. Taufik Abdullah (1979) sudah mewanti–wanti itu sejak seperempat akhir abad 20. Perdebatan mengenai terminologi apa yang tepat untuk menyebutnya, apakah sejarah daerah, regional, atau lokal adalah perkara lain. Bahwa menceritakan narasi-narasi lokal adalah cara yang paling baik untuk merunut kompleksitas sejarah nasional Indonesia.

Mendefinisikan kampung menjadi persoalan yang lebih rumit dibanding dengan desa. Dua terminologi ini menjadi njelimet untuk ditarik benang batas antara yang satu dengan yang lain. Di satu sisi, terminologi desa mungkin lebih mudah. Tulisan-tulisan tentang desa yang pernah saya baca, hampir keseluruhan berbicara tentang tanah sebagai kajian utama. Berbicara mengenai desa, tak mungkin lepas dari tanah dan pertanian. Sedangkan kampung, mungkin pula berawal dari rukun kampung yang dikemudian diganti menjadi Rukun Warga (Jan Newberry, 2008).

Newberry menyebut dengan wilayah kantong suku bangsa. Tesis ini sejalan dengan pendapat Gean Jelman Taylor, kala menarasikan batavia. Dia menggunakan istilah kampung untuk menyebut masyarakat etnis yang bersinergi, berkumpul, berkelompok di sebuah wilayah. Penjelasan berkaitan dengan kebijakan pemerintah hindia Belanda mengisolasi para pedagang dari Cina, Arab, Persia (golongan timur asing) di Batavia. Pembatasan yang berdasar atas politik kontrol pemerintah Hindia Belanda terhadap penghuni wilayah Batavia yang kemudian diadopsi oleh kota-kota lain. Pada saat ini, kita kemudian sangat familiar dengan sebutan kampung arab, kampung cina, di kota-kota besar Indonesia semacam Jakarta, Surabaya, Semarang, Jogja dan lain-lain.

Sejarah kampung bagi sebagian masyarakat kita selalu berawal dari definisi nama kampung tersebut berasal. Trenggalek: terang ing galih; Sumbergedong: sumbere gedong (rumah dengan ciri-ciri besar dan bertembok); Sumberingin: sumbere wit ringin (pohon beringin); Pogalan: pok e tegalan (ujung tanah tegal) dan lain sebagainya. Di sini, sangat tidak beruntung, karena Surodakan tak pernah memiliki tradisi lisan (kirata basa) macam ini. Guyonan dari beberapa kawan, nama Surodakan berasal dari “ikan suro melawan Pak Dakan”.

Mitos-mitos suburban yang kadang terbentuk dari memori kolektif sebuah masyarakat yang tercecer di berbagai tutur tak menyangkut paut kampung ini. Beberapa makam yang terdapat di atas Gunung Cilik—bukit di utara kantor kelurahan Surodakan, sebelah barat terminal bus—menjadi  monumen yang melekat sebagai narasi kabur. Bahkan, tetangga-tetangga saya yang berada sangat dekat dengan gunung ini ndak tahu detail siapa sebenarnya sosok yang dikubur di tempat tersebut, dan hubungannya apa dengan kampung Surodakan. Mereka hanya mengenal kuburan itu sebagai makam tumenggung yang dulu pernah memimpin Trenggalek. Pun dengan DAM Bagong dan petilasan-petilasannya yang berada di pojok sebelah barat laut Surodakan. Narasi-narasinya tak pernah menyinggung perihal kampung ini.

Peta Hindia-Belanda yang didigitalisasi oleh Royal Tropical Institute adalah serpihan lain dari lembar demi lembar naskah masa lalu yang pernah menyebut nama Surodakan. Terminologi kampung untuk menyebut Surodakan mungkin bisa kita mulai berdasar naskah ini. Surodakan menurut survei pemerintah Hindia-Belanda merupakan kampung padat penduduk dibanding kampung-desa lain di Trenggalek. Kampung ini sejak tahun 1890-an, 1920 dan 1940-an memang telah ditempati dengan model hunian jalan-jalan besar yang terpecah oleh gang-gang kecil. Berderet-deret rumah menghadap langsung ke arah jalan. Beda dengan desa-desa di pedesaan Jawa, letak rumah jarang sekali dipisahkan oleh sawah atau tegalan. Tak sesempit dan seruwet kampung-kampung kumuh di Jakarta. Namun, kampung ini juga tak selonggar desa-desa Jawa. Di depan rumah sangat mudah kita temui pekarangan dengan tanaman hias dan obat-obatan.

Tak ada yang lebih banyak saya dapatkan mengenai masa lalu Surodakan. Sangat mungkin kampung ini dibentuk, hanya untuk menampung penduduk dan membagi wilayah administrasi kota Trenggalek untuk memudahkan tata kelola kota. Surodakan, jelas berbeda dengan Kelutan yang cukup kuat terlabeli sebagai kampung pondok pesantren, Kauman dengan kampung Islam-santri atau Pandean dengan kampung (bekas) para pandai besi.

Tempat berkumpulnya para pekerja dan bawahan keraton. Klasifikasi ini menyentuh sebagian Surodakan di sebelah utara. Pandean, yang menurut sejarah lisan yang berkembang berasal dari kampung dengan banyak penduduk yang berprofesi sebagai pandai besi. Wilayah dengan masyarakat yang ditetapkan, wilayah dengan masyarakat rumah kediaman dan klasifikasi yang terakhir, kampung sebagai struktur perasaan.

Menurut Suyono (prisma, 4: 1976 pp. 59-64), terdapat 3 kategori kampung (urban residential area) di Indonesia. Wilayah tipe A adalah wilayah dengan perencanaan yang sangat matang, bagus dalam pelayanan administrasi, baik swasta maupun pemerintah, kebutuhan akan sarana dan prasarana yang cukup, tingkat pendapatan per kapitanya sangat tinggi. Tiap rumah berada di jalan-jalan raya, atau minimal dapat dicapai oleh mobil. Tipe B, adalah yang kemudian disebut dengan area kantong pengembangan. Rumah permanen dan gedung-gedung berada di sepanjang jalan utama.

Di balik itu, rumah-rumah dalam gang-gang dengan model permanen, semi permanen dan sementara. Wilayah yang dilalui jalan tol. Semacam wilayah satelit yang menghubungkan satu kota dengan kota yang lain. Kota-kota pelajar semacam Yogja adalah salah satu kota yang dapat dikategorikan dalam area ini. Tipe C adalah perkampungan miskin. Wilayah dengan perumahan yang rata-rata dibangun dengan model semi permanen. Jakarta, Surabaya, Bandung, di sebagian besar wilayahnya adalah contoh dari tipe ini.

Surodakan, jika diketegorikan dengan memilih salah satu dari berbagai pendapat ahli di atas jelas tak memiliki kecocokan yang benar-benar saklek. Kampung ini tidak seperti kampung-kampung di Jogja dengan kondisi sosial-kultural yang sangat dinamis, bukan pula kampung yang terkondisi dari kebijakan ekonomi-politik berdasar suku dan ras. Dia hanyalah kampung yang berada di kota kecil di lingkup pedesaan Jawa.

BERBAGI
Artikel sebelumyaManunggaling Bala-Kanca
Artikel berikutnyaDiaspora Trenggalek
Gilang Tri Subekti
Masih Peternak kampung. Pernah jadi tukang poto Turonggo Yakso: Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi dan Spirit of Iron.
  • Muhammad Syaiful Rohman

    Mantab, keren tulisanmu (y)
    Lanjut ke sejarah dukuh, kampung, dan desa yang lain.