BERBAGI
gotong-royong-fotokita.net

Gotong royong adalah kegiatan melakukan sesuatu dengan cara bekerja sama dengan orang lain atau banyak orang. Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah atau membuat ringan sebuah pekerjaan. Gotong royong ini sering diidentikkan dengan budaya orang-orang Indonesia.

Kegiatan gotong royong dapat kita lihat suatu ketika pada saat, misalnya, mendirikan rumah, membersihkan fasilitas fasilitas umum atau jenis kegiatan lain yang membutuhkan banyak tenaga.

Dengan kegiatan gotong royong, selain pekerjaan bisa selesai dengan cepat dan ringan, masyarakat juga bisa menjalin keakraban satu sama lain sehingga kesulitan yang dialami oleh seorang warga dan warga yang lainnya, bisa saling membantu atau saling memperingan melalui kerja bersama.  Falsafah “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing“ merupakan istilah dari wujud realisasi kentalnya gotong royong di zaman dulu. Istilah tersebut timbul berlandaskan asas gotong royong yang kuat.

Namun kebiasaan-kebiasaan ini lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat di pedesaaan, lebih-lebih di perkotaan. Secara tidak sadar, saat ini berbagai kebutuhan yang sifatnya terlalu individualis sering dikedepankan, efeknya adalah semakin banyak masyarakat yang acuh tak acuh dengan salah satunya kesusahan tetangganya. Kebersamaan dalam semangat bergotong royong pun mulai luntur. Akibatnya, rasa peduli dan kepekaan sosial menjadi menurun.

Salah satu contoh yang bisa dilihat dengan kasat mata adalah gotong royong ketika membantu dalam membangun rumah tetangga. Lebih khusus lagi ketika pasang atap atau genteng rumah. Dahulu, warga dengan suka rela saling membahu dalam membantu: mulai dari titik 0 persen hingga 100 persen (sampai selesai). Tidak peduli lagi apakah memakan waktu dengan durasi dari pagi sampai petang atau bahkan memakan waktu berhari-hari.

Memang saat ini warga masih melakukan gotong royong membangun atap rumah tetangga, namun kebanyakan mematok maksimal setengah hari. Setelah itu…, akan ditinggal pulang. Tidak peduli apakah pekerjaan tersebut sudah selesai atau belum. Apabila ternyata belum selesai, yang punya rumah akan memanggil “tukang”, khusus untuk menyelesaikan sisa pekerjaan tersebut dengan konsekuensi memberi upah.

Hal lain terkait menurunnya semangat gotong royong ini, dapat kita lihat ketika ada kegiatan perbaikan jalan yang harus dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat: terutama sekali lagi soal tenaga kerjanya. Meski materialnya sudah disiapkan oleh pemerintah. Dalam kegiatan perbaikan jalan ini, lingkungan setempat menerapkan denda bagi orang yang tidak mau urun tenaga dalam kegiatan.

Hal ini menjawab realitas sosial di lingkungan sekitar bahwa masyarakat sekarang tidak begitu bersemangat ketika ada kegiatan gotong royong, Penerapan denda bagi warga masyarakat yang tidak melakukan kegiatan kerja bakti atau gotong royong itu, bermaksud agar masyarakat secara keseluruhan mau melaksanakan kerja bakti. Inilah salah satu bukti bahwa kebersamaan mulai luntur sehingga orang mesti dipaksa dengan denda. Denda akhirnya menjadi satu “terobosan” atau “alternatif” supaya masyarakat ikut bergotong royong.

Menurunnya semangat gotong royong ini tidak selaras pula dengan sajian makanan yang diberikan ketika melakukan gotong royong. Kalau dulu orang gotong royong dikasih jajanan “punten”—makanan berasal dari beras dikasih santan kemudian dimasak dan dibentuk kotak-kotak, yang terasa seperti nasi uduk—masyarakat sudah cukup senang. Dengan jajanan sederhana yang dihidangkan oleh yang punya hajat itu, mereka sudah giat bergotong royong.

Kontras sekali dengan suguhan yang dikasihkan sekarang ini. Sekarang ini makanan yang disuguhkan lebih sering berupa nasi dengan lauk telor atau lauk ayam dan daging. Bahkan hidangan dengan lauk sate kambing. Meski begitu, semangat gotong royong tidak sebanding dengan menu mewah yang dihidangkan. Semangat gotong royong kini tetap saja cenderung menurun.

Dari paparan realita di atas, ternyata yang membuat semangat gotong royong kian menurun, duga penulis, bukan disebabkan faktor dari luar, tetapi memang ada pengaruh semakin meningkatnya kebutuhan. Lagi pula saat ini orang cenderung memikirkan kebutuhan pribadi yang kian banyak, sehingga hal-hal yang berbau sosial ditinggalkan. Yang dikedepankan justru adalah bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidup masing-masing itu. Fakta yang penulis ungkapkan ini adalah salah satu pemicu semakin rendahnya kepekaan sosial di lingkungan kita (pedesaan).

Dari situ, bisa jadi kebanggaan kita akan semangat gotong royong lambat-laun memudar, dan anak cucu kita kelak tidak bisa merasakan sendiri bagaimana kebiasaan dan budaya gotong royong ini.  Tradisi gotong-royong pun bisa-bisa nanti hanya tinggal cerita.

Kita sebagai generasi muda wajib ikut menjaga budaya yang sudah lama menjadi identitas kita ini, sehingga kebiasaan-kebiasaan masyarakat desa tetap terjaga dan lestari. Begitu pula keakraban dan saling punya kepedulian terhadap sesama warga juga terus harus dipupuk sehingga terpelihara keberadaanya.

BERBAGI
Artikel sebelumyaKisah Langgar di Kampung Saya
Artikel berikutnyaNostalgia Jajan Pasar
Nanang Kurniawan
Seorang guru, bergiat di ranah sosial pedesaan. Lelaki kelahiran Munjungan ini menyukai cangkruk di warung kopi dan membaca.