Ilustrasi Tambang: Pabrik semen yang sedang dibangun di Desa Tegaldowo dan Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang (Jawa Tengah)

Penghuni Desa Dukuh adalah masyarakat yang  ayem tentrem. Jarang ada geger konflik atau perbedaan pendapat, kecuali pada saat pemilihan kepala desa saja. Keseharian mereka mayoritas adalah petani. Bertani bukan jenis pekerjaan memalukan, justru dengan hidup sebagai petani tulen, membuat masyarakat Desa Dukuh melahirkan banyak potensi  dari produk pertaniannya. Sebut saja potensi kebun salak, manggis, dan durian.

Para pemuda di desa ini juga cukup menikmati suasana desa yang damai. Mereka tidak banyak tingkah, tapi juga ulet dalam bekerja. Setidaknya, apa yang saya tulis ini merupakan hasil dari pengamatan saya . Sebab, di antara mereka, para pemuda desa di sana, kebetulan sebagian adalah teman-teman saya sendiri.

Desa Dukuh terletak di ujung kulon Kecamatan Watulimo. Topografi desa ini didominasi oleh konstruksi tanah miring. Jika dilihat dari Desa Margomulyo misalnya, Desa Dukuh tampak berada di ketinggian. Begitu juga jika ditempuh dari arah Desa Slawe, Desa Dukuh juga terletak dalam kemiringan topografi, meski sebenarnya tingkat kemiringannya masih kalah jauh jika ditempuh dari Desa Sawahan.

Dulu semuanya tampak damai dan aman. Masyarakat hidup berdampingan tanpa ada gesekan dalam skala besar. Jika ada konflik, barangkali satu atau dua hari bisa segera diselesaikan. Ini menandakan bahwa masyarakat Desa Dukuh termasuk berkultur komunal dan rukun. Lagi sudah terbiasa mengedepankan cara hidup damai dan bergotong-royong.

Hingga pada suatu hari, kisruh itu terjadi. Sesaat setelah tercium niat pembukaan lahan tambang di Desa Dukuh. Siapa yang menyangka, jika di balik rimbunan pohon durian dan semak-semak belukar di sana, tersimpan kandungan emas. Yang menurut isu beredar, kuantitas serta kualitasnya tidak jauh-jauh berbeda dari yang berada di Banyuwangi.

Isu penambangan itu terdengar santer memasuki bulan kedua tahun 2016. Bahkan masyarakat yang semula hidup damai berdampingan, akhir-akhir ini tampak terpecah menjadi dua. Satu sisi memilih untuk pro terhadap penambangan; sisi yang lain memilih untuk menolak.. Bahkan, beberapa saat yang lalu, muncul spanduk yang menyatakan penolakan terhadap tambang di sana.

Perpecahan masyarakat terhadap penambangan suatu wilayah memang lazim terjadi. Tidak ada yang aneh dengan hal ini. Namun perpecahan suara dalam masyarakat bisa menjadi raport buruk. Bukankah hal yang paling menawan dari sebuah desa adalah mengenai kehidupan damai dan saling mengasihi? Perpecahan ini bermula ketika ada pihak ketiga yang melakukan eksplorasi, dari kegiatan lanjutan yang sudah dilakukan sejak 2007 lalu.

Desa Dukuh memang sedang diincar oleh perusahaan yang berpusat di Australia melalui pemegang saham yang ada di Indonesia. Incaran tersebut terfokus pada keberadaan emasnya . Mereka saat ini telah mendapatkan izin eksplorasi di beberapa titik yang ada di Trenggalek. Meskipun kegiatan eksplorasi sudah dilakukan, setahu saya belum ada amdal-nya. Padahal, menurut undang-undang pertambangan. Amdal merupakan satu di antara persyaratan yang harus ada, sebelum dilakukan penambangan.

Kehadiran mereka ini telah mengubah kultur masyarakat Desa Dukuh. Yang semula adem ayem, menjadi “geger”, lantaran benturan  malah seperti sengaja diciptakan. Mereka yang pro tambang mengambil dalih perbaikan ekonomi melalui lapangan pekerjaan. Sedangkan mereka yang kontra membawa isu dampak lingkungan. Keduanya menurut saya benar, di jaman yang serba sulit seperti saat ini. Ekonomi menjadi tujuan utama. Siapa yang dapat menjamin kehidupan ekonomi bagi mereka, tambang kelak menawarkan pekerjaan.

Sedang mereka yang kontra, pandangan  mengenai dampak ekologi yang disebabkan tambang, merupakan pandangan yang sangat masuk akal juga. Tambang identik dengan perusakan lingkungan, lebih dari itu perusakan terhadap alam yang sangat besar. Bahkan, tidak tepat jika hanya dikatakan alam mengalami perubahan.

Perbedaan pandangan masyarakat terhadap kehadiran PT yang tak bisa saya sebut namanya ini, sah-sah saja. Namun alangkah tidak elok jika sampai pada taraf saling menjatuhkan. Hai, bukankah kalian dahulu adalah saudara yang saling menjaga kerukunan. Lantas kenapa dengan hadirnya pihak ketiga ini kalian menjadi saling bersitegang.

Perpecahan model seperti ini akan lebih mudah dimanfaatkan pihak lain yang memang sudah berniat mengambil apa yang ada (sumber daya alam) di Desa Dukuh. Dua kubu yang bersitegang hanya fokus pada perbedaan, sedangkan pihak lain, mereka akan lebih fokus pada target. Masyarakat yang dulu rukun tidak lagi rukun hanya karena berbeda.

Kondisi tentram yang selanjutnya berubah menjadi konflik ini bukan hanya terjadi di Kecamatan Watulimo. Di Kecamatan Dongko, Desa Sumber Bening, menurut catatan WALHI Jatim, pernah terjadi konflik pada bulan Juli 2013 yang berakibat pada pengusiran alat-alat berat oleh warga. Tidak hanya Walhi, Situs KBR pun juga pernah mencatat konflik penolakan tambang.

Ada beberapa titik di Trenggalek yang diprediksi memiliki kandungan emas, tersebar di beberapa kecamatan. Potensi konflik antarwarga, maupun warga dengan pihak perusahaan akan lebih banyak terjadi. Jika kita sebagai masyarakat tidak cerdas menanggapi keadaan seperti ini, bisa-bisa akan menjadi konflik yang lebih besar lagi.

Masyarakat harus kompak, tidak boleh tercerai berai.  Ingat bahwa keseksian masyarakat desa terletak pada gotong royong dan kedamaian: saling tepa slira dan musyawarah mufakat. Segala konflik yang terjadi sepatutnya diselesaikan dengan cara-cara yang lazimnya dilakukan sejak dahulu telah dilestarikan dalam masyarakat itu sendiri.

Masyarakat harus satu suara. Jika dirasa tambang membawa dampak perbaikan ekonomi, maka terimalah tapi harus siap menerima efek buruk yang bakal terjadi sekaligus kawal jangan sampai merusak apapun yang ada di sekitar. Jika dirasa tambang bakal mengakibatkan kehancuran yang tak tergantikan, maka tidak ada kata lain selain TOLAK. Jika masyarakat sudah kompak, siapa lagi yang bisa menghalangi? Karena kalian lebih lama hidup di sana. Ingat, kalau salah mengambil keputusan hari ini, bakal menjadi bencana berlarut-larut di masa depan.

BERBAGI
Artikel sebelumyaMagi dan Pegunungan
Artikel berikutnyaBeberapa Jalur Alternatif Trenggalek-Ponorogo
Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.