Seketika saya ingat kelahiran, ketika lagi-lagi (me)masuk(i) Desember—kebetulan  saya lahir di bulan ini. Bulan Desember adalah ingatan akan pintu yang segera tutup dan deret angka di penghujung bulan di setiap akhir kalender. Merayakan angka kelahiran seraya mengingat  kehidupan yang telah dijalani, beserta ”kegelisahan-kegelisahan” yang terselip di dalamnya. Waktu telah menyusun riwayatnya menjadi sebentuk perjalanan bagi tiap-tiap manusia yang menjalani hidupnya sedari dulu hingga sekarang.

Dan untuk setiap tahun yang dijalani, sejak masing-masing manusia dilahirkan, mereka memikul tugas: menanggung beban dan fungsi yang kadang tidak tahu lagi bagaimana harus dijalani. Kesabaran dan ketabahan manusia seolah turut memanjangkan waktu, namun ketergesaan dan kesembronoan-nya seolah ikut memendekkannya. Sampai-sampai, manusia tidak tahu lagi, telah menjalani dan menjadi apa saja selama satu tahun terakhir, di setiap lembar hari-harinya. Dan, ketika bulan Desember tiba seperti saat ini, baru disadari hari-hari yang dijalaninya dalam satu tahun terakhir, barangkali penuh bundas-lubang di sana-sini. Dan agenda-agenda yang dahulu disusunnya, ternyata membelok secara tak pasti.

Di luar itu, dunia memang bergerak cepat. Rentang sepuluh tahun misalnya akan sangat tampak perubahannya; memandang situasi kini dengan 10 tahun lampau di sekitar kita, yang terlebih disebabkan faktor perkembangan teknologi. Selain, perubahan kerap dibikin mencolok oleh lokasi dan tempat-tempat yang pernah dikenal-akrabi tapi sangat jarang dikunjung-jamahi. Satu hal lagi, dalam rentang sepuluh tahun itu, kita tidak akan tahu apa saja yang telah terjadi dengan diri kita sendiri: fisik atau badan kita misalnya. Tapi orang di luar kita yang dalam rentang masa tertentu tak berjumpa, selalu tahu serta serba cepat tanggap, apa saja yang kini telah berubah pada diri kita.

Orang lain memang akan gampang membuat pernyataan semisal, bahwa fisik kita telah jauh berbeda. Badan makin kerempeng, atau rambut kita telah rata ketiban uban misalnya; atau ada yang kempis bahkan melar dengan struktur wajah dan bentuk tubuh kita. Hal-hal begitu, gampang diidentifikasi oleh pandangan-mata dari luar tubuh kita, yang tak pernah melihat kita dalam beberapa tahun. Perubahan yang akan ditangkapnya pasti teramat mencolok. Meski kita sama sekali tak pernah bisa mengetahui perubahan apa saja yang sebetulnya terjadi pada fisik kita sendiri.

Ya, begitulah hidup. Barangkali sahih pula kata Kundera, sastrawan Ceko, bahwa hidup adalah perangkap: kita lahir tanpa ditanyai, terkunci di dalam tubuh yang tak pernah kita pilih, dan ditakdirkan untuk mati. Seraya pada waktu yang sama, dunia yang terbentang ini, (kita harap) menyediakan kemungkinan jalan keluar dan jawaban-jawabannya yang konstan. Di lembarannya yang lain, dari bukunya yang sama, masih kata Kundera—kali ini dengan mengutipnya dari Heidegger—bahwa  manusia tidak bisa berhubungan dengan dunia sebagai subjek dengan objek; seperti mata dengan lukisan. Manusia dengan dunia terikat bersama seperti siput dengan cangkangnya. Keberadaan mempunyai alam sejarahnya sendiri, begitu pula keberadaan manusia di alam dunianya dan dunia yang ditempatinya. Kehidupan membentang dengan tanda waktu yang telah didetakkan.

Dunia kita sekarang tampak seperti kenyataan yang menakutkan. Teknologi yang perkembangannya kian virtual dan maya, yang tak pernah kita tahu gerakannya secepat apa, memberikan kebaikan-kebaikan yang membantu manusia dalam berpikir dan bertindak; di saat yang sama juga mampu membuat malapetaka, seperti dengan caranya membuat hoax dan aneka sampah. Teknologi dengan berbagai perangkatnya yang kian canggih, menyajikan kemudahan dalam kita mengakses banyak data dan informasi menguntungkan manusia, yang dulu serba terbatas. Di antaranya, akses kita terhadap pengetahuan dari Mbah Google dan kemudahan men-download buku-buku darinya dalam berbagai format.

Namun, sebagian manusia juga berbondong-bondong menyebarkan kabar bohong, dan sebagian yang lain dengan mudah termakan kabar-kabar bohong tersebut. Baik gambar dan kabar yang didesain sedemikian rupa maupun berita yang dikendalikan oleh dalih dan ideologi propaganda. Manusia dari kedua golongan ini nyaris tak mampu menverifikasi kabar sesungguhnya. Alih-alih cepat sadar diri. Golongan pertama kerjaannya memang membuat agitasi dengan menernakkan kabar bohong. Dan  barisan kedua seolah dengan suka rela menyediakan diri menjadi korbannya: dengan menelan segala informasi secara mentahan tanpa cek-ricek, apalagi verifikasi data.

Pada akhirnya, melalui teknologi dengan kecepatan informasi, kita sering tak lagi bisa mengendalikan diri, bahkan kita yang akhirnya dikendalikan. Situasi seperti itu membuat kemajuan teknologi menjadi kurang bermanfaat bagi kebaikan peradaban manusia. Malah membuat bising, yang lengkingan suaranya menggangu ketentraman. Juga bisa membuat sejarah olah-otak manusia mengalami lagi fase kemunduran.

Di situ, seakan-akan bersemayam kekuatan jahat yang hendak menyeragamkan kehidupan, terutama manusianya, mula-mula melalui kemajuan-kemajuan teknologi untuk kepentingan ideologi, pasar, dukungan-dukungan tertentu yang digerakkan oleh “orang-orang puritan” dan mereka yang isi kepalanya mudah diledakkan karena ber-sumbu pendek. Lantas rombongan ini berjejaring dengan yang sejenis mereka, dari sesama kaum fasis-ortodoks, untuk menciptakan gerakan-gerakan yang lebih ekstrim, masif dan menakutkan. Dan lantas kelak, akan mengendalikan keunikan-keunikan serta hal-hal kecil yang sejak dahulu diakrabi manusia.

Hal-hal kecil yang bersahaja namun bisa membuat makmur dan tentram isi dunia, termasuk pergaualan antarsesama, meski beda suku, ras dan agama. Tentang laku-laku kecil tapi bermakna; kebahagiaan yang dijalani oleh umat manusia demi menjaga keberadaannya sejak awal kebudayaan. Barang-barang yang disebut barusan seperti segera harus diusir dari muka bumi, karena mengganggu ”penyeragaman”, mengganggu cara hidup totaliter, mengganggu “kecepatan bumi” yang dianut oleh orang-orang cupet akal: yakni mereka yang kerap menaruh otaknya di lutut. Ya, sebagian mereka adalah orang-orang yang bersumbu pendek tadi, yang menempel teramat pendeknya, sehinga isi kepalanya mudah meledak oleh, di antaranya, provokasi dan hoax murahan.

Lalu, kita seperti dipaksa mengikuti perkembangan dunia yang melaju dengan gegas, menjalar ke sudut-sudut kecil rumah, dan jiwa manusia. Manusia seperti sedang dihajar oleh kelesuan-kelesuan yang tak dikenali. Kekuatan-kekuatan global yang seolah tak terlihat, telah menghancurkan ruang-waktu alami manusia, dibuat menjadi ruang-waktu dengan kenyataan-kenyataan artifisial. Relasi manusia yang tak bisa dipisahkan dari ruang dan waktu itulah yang kerap membuat (umat) manusia mengalami ”kerapuhan” diri: ditimpa kerapuhan dan tampak semakin menua daya pikirnya. Paranoia-nya tanpa bimbingan logika, membuatnya putus asa lalu terjebak dalam perbuatan fasisme.

Salah satu jalan, kalau bukan satu-satunya, untuk manusia-manusia di masa depan, terhadap segala informasi yang datang kepada inderanya, penting untuk senantiasa mengendarai logika dan berpegang teguh pada kaidah verifikasi data. Supaya umat (minimal keluarga, saudara dan tetangga-tetangga kita), tidak menjadi seperti pesan hadits Nabi, mengenai akan datangnya sebuah masa ketika jumlah ”orang baik” mencapai mayoritas namun kualitasnya ibarat buih di lautan. Yakni, suatu jumlah yang gampang diombang-ambing ombak serta dicerai-beraikan karang.

BERBAGI
Misbahus Surur

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).