Aksi Niponk pungut sampah salam acara lomba gerak jalan Kecamatan Watulimo - Photo: Agus Isma'il S
Aksi Niponk pungut sampah salam acara lomba gerak jalan Kecamatan Watulimo - Photo: Agus Isma'il S

Siang itu, hampir setengah hari penuh mentari memanggang jalan aspal Pantai Prigi. Kadang saking teriknya, fatamorgana menyembul menampakkan diri seolah ia telah membakar aspal. Sementara itu, orang-orang ramai berkumpul memenuhi pinggir-pinggir jalan untuk menyaksikan gelaran lomba gerak jalan Kecamatan Watulimo.

Ramainya orang berkumpul bukan hal aneh, karena hampir setiap tahun di bulan Agustus, Kecamatan Watulimo selalu menggelar lomba gerak jalan mulai dari tingkat SD hingga umum. Sama dengan yang digelar oleh Kabupaten Trenggalek dan kecamatan-kecamatan lain. Saya sendiri pernah 9 kali mengikuti lomba gerak jalan di Kecamatan Watulimo, yang jika dikonversi ke tahun sudah 8 tahun. Sejak kelas 5 MI hingga kelas 3 Aliyah, ditambah 1 kali setelah memiliki 2 anak.

Ramainya pengunjung siang itu merupakan bukti bahwa warga Kecamatan Watulimo tidak ada bosan-bosannya menonton gerak jalan, karena nota bene mereka adalah orang desa, dan orang desa sedikit memiliki hiburan. Paling banyak hiburan nonton televisi yang pada akhirnya malah tidak menjadi hiburan, tapi menambah biang keladi masalah lantaran sinetron sekarang ini lebih gila ketimbang kehidupan nyata.

Sayangnya, dengan banyaknya manusia berkumpul di suatu tempat, tak jarang juga menyampah. Plastik atau daun pembungkus makanan yang sengaja mereka bawa dari rumah atau mereka dapatkan dari penjual kerupuk sambal misalnya, dibuang begitu saja tanpa tahu tempat sampah berada. Sepertinya, perihal persampahan di dunia ini belum juga bisa di kelola dengan baik. Begitu juga dengan kebiasan buang sampah sembarangan, para penonton gerak jalan tersebut masih belum menyadari jika banjir beberapa waktu lalu sedikit banyak disebabkan karena buang sampah sembarangan.

Pleton demi pleton para peserta lomba gerak jalan Kecamatan Watulimo mulai melewati garis start. Derap kaki yang diseragamkan menimbulkan bunyi brok-brok, lengkap dengan lambean tangan para pesertanya. Kendati gerak jalan merupakan olahraga kedisiplinan dan kekompakan, namun tidak semua dari peserta menerapkan kiat-kiat gerak jalan dengan baik. Ada yang memaknai lomba ini sebagai ajang unjuk kebolehan dengan menetapkan targer perolehan juara pada anggotanya, ada pula yang mengiktui lomba ini hanya sebagai bentuk partisipasi atau menunjukkan eksistensi kepada para penonton bahwa kelompok mereka ada.

Namun ada yang aneh pada lomba gerak jalan kali ini, di posisi paling buntut, ada sekelompok pemuda yang sama sekali tidak menerapkan kaidah gerak jalan, mereka berjalan beriringan namun tidak rapi, sambil menenteng plastik-plastik besar. Mereka terlihat konsisten mengambili sesuatu di jalanan. Sedang di belakang mereka ada truk pengangkut sampah yang berjalan pelan sambil sesekali berhenti untuk menerima lemparan plastik berisi sampah dari komunitas ini.

Aksi nyata Niponk - Photo: Agus Isma'il S
Aksi nyata Niponk – Photo: Agus Isma’il S

Penonton sekaligus saya baru menyadari jika mereka, yang bukan merupakan peserta dari lomba gerak jalan, namun tetap menguntit peserta lomba ini, adalah komunitas yang terkenal sering memberikan bantuan sosial semisal bersih-bersih sampah. Nama komunitasnya adalah Niponk kepanjangan dari “Naluri Insan Petualang Ora Nate Kapok”. Sebuah komunitas yang kabarnya sudah berdiri sejak tahun 90-an.

Mereka terlihat senang memunguti sampah dari bawah kaki orang-orang yang baru membuang sembarangan sampah tersebut, yang terkadang malah membuat enggan si pembuang sampah lantaran ulah komunitas ini. Jika sebelumnya orang-orang melempar sampah sembarangan, namun setelah melihat aksi ini, banyak orang yang mulai menyadari untuk membuah sampahnya ditempat sampah, atau ikut memasukkan sampah ke dalam kantong plastik yang dibawa oleh Niponk.

Di hari terpisah, saya bertemu dengan salah satu anggota Niponk, dan pertemuan ini tidak saya sia-siakan tanpa mendapatkan beberapa jawaban dari mereka. Misradi alias kawok, salah seorang anggota Niponk dan termasuk tetua mereka, menjelaskan bahwa aksi mereka tersebut diberi nama “Niponk, Bakti sosial peduli lingkungan”, itu ia jawab setelah saya bertanya, “aksi kemarin dinamai apa, Wok?”. Lalu ia melanjutkan cerita jika aksi ini dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran mayarakat akan pentingnya menjaga kebersihan.

Lalu, saya melanjutkan pertanyaan “Mas Wok, kan sebenarnya sudah ada petugas kebersihan di kecamatan, dan mereka pun mendapatkan gaji atas kerja mereka, terus kenapa Niponk mau turun ke jalan mengambili sampah, padahal tidak mendapatkan apa-apa?”

Mas Misradi yang lebih senang dipanggil Kawok ini menjawab dengan semangat, “Jadi ngene mas, semenjak awal berdiri, Niponk selalu ingin megabdikan diri pada negeri sebagai pelopor kebersihan. Memberikan contoh yang benar kepada masyarakat bahwa menjaga kebersihan itu sangat penting, menjaga lingkungan supaya tetap asri itu penting. Dan yang lebih penting lagi, kesadaran tersebut haruslah menjadi tindakan nyata, nyata-nyata menjaga lingkungan kita tetap bersih, contohnya ya semacam itu, mungguti sampah-sampahnya orang. Nah, meski komunitas kami tidak mendapatkan bayaran dari aksi ini, ya tidak apa-apa, la wong pada dasarnya kami ini senang. Lagian kami tidak mengharapkan upah-upah semacam itu, kami iklhas dan puas.

aksi-pungut-sampah-niponk-diikuti-anak-anak
Peserta anak-anak dalam aksi niponk pungut sampah – Photo Agus Isma’il S

Aksi bersih-bersih sampah tersebut diikuti sekitar 30 anggota Niponk, bahkan diikuti juga oleh anak-anak. Mereka berangkat dari rumah dengan niat tulus untuk munguti sampah. Dan dari penjelasan Kawok tersebut saya meradang, kenapa masih ada juga komunitas yang mengabdikan diri pada sampah, sedangkan di luar sana, semakin banyak berdiri komunitas yang jelas-jelas malah menimbulkan “sampah” melalui even-even pop culture-nya. Dalam hati saya berkata, mungkin ini adalah bentuk keseimbangan yang sering dikatakan Itachi Uchiha, kakaknya Sasuke Uciha, bahwa segala sesuatu harus seimbang, mengutip dari Hogomoro.

Menurut cerita Roin J. Vahrudin, dalam waktu berdekatan ini, Niponk telah melakukan aksi berjalan sambil pungut sampah orang lain ini sebanyak 3 kali. Pertama saat acara bersih Desa Slawe. Kedua saat ada lomba gerak jalan di Desa Gemaharjo, dan yang ketiga saat lomba gerak jalan Kecamatan Watulimo. Menurut catatan saya sendiri, Niponk sudah berulang kali menggagas kegiatan keren di beberapa tempat, seperti menanam ketapang di Pantai Simbaronce (kini pohon ketapangnya dihabisi, diganti dengan kios para pedagang), aksi bersih sampah di pantai pasir putih (saya pernah berpartisipasi sebagai juru bengok-bengok). Selain melakukan kerja bakti, Niponk juga rutin mengadakan event berskala nasional di setiap tahunnya. Namun event yang mereka usung berupa jelajah alam.

Setidaknya, di Kecamatan Watulimo masih ada komunitas yang mengaku peduli dengan lingkungan namun juga dibuktikan dengan aksi nyata, mereka adalah niponk. Seperti pada perayaan kemerdakaan ke 72, ketimbang memperebutkan juara dan trophy dalam lomba gerak jalan, mereka lebih memilih memperebutkan sampah untuk dibersihkan. Sungguh ironi, jika saya, sebagai nom-noman beranak dua, tidak mengapresiasi aksi-aksi mereka. Hormat untuk komunitas Niponk, aksimu akan dikenang anak cucumu.