tembakau trenggalek

Penak  nandur mbako, mergane nandur kurma atau zaitun nggak tuwuh

Begitulah kelakar seorang kawan di sela-sela panen tembakau yang melimpah tahun ini. Musim kemarau yang mencurahkan sinar matahari lumayan banyak memberikan kesempatan bagi para petani tembakau untuk memanen dan mengolah tembakaunya secara maksimal. Sumringahnya seakan menebus kegelisahan di tahun lalu saat musim “kemarau basah” menghabisi tanaman tembakaunya. Tahun ini memang berbeda dengan tahun lalu. Kemarau tahun ini masih memberikan peluang bagi matahari untuk bersinar cukup lama meski diselingi hujan sesekali waktu, sedangkan tahun lalu hujan yang menjadi musuh alami tanaman tembakau tercurah hampir sepanjang tahun.

Sejak sekitar tahun 2009, bupati Trenggalek, waktu itu Bapak Soeharto, menjalin kerja sama dengan salah satu  perusahaan rokok Indonesia PT. HM Sampoerna untuk memasukkan tanaman tembakau proyek ke tanah Menaksopal ini. Mayoritas petani menyambut gembira kedatangan proyek tersebut. Selain karena pembinaan tata cara perawatan untuk mendapatkan tembakau berkualitas tinggi dan juga bantuan sarana seperti mesin perajang yang lancar, hasil yang didapatkan dari bertani tembakau juga cukup menjanjikan.

Tiap helai daun baik yang berkualitas maupun daun yang rusak tetap dilabeli harga dari pabrik.  Untuk harga terendah (daun bawah dan daun rusak) diberi harga 5.000–10.000, untuk daun kualitas sedang (daun pertengahan batang) seharga 12.000-18.000, sementara untuk daun berkualitas baik diberi harga antara 20.000-28.000. Dengan harga seperti ini, para petani tembakau di dusun saya mengaku hasil tanaman tembakau mampu mencapai dua kali lipat daripada ditanami padi.

Dengan begini, Trenggalek semakin tidak bisa dilepaskan dari yang namanya rokok. Wilayahnya yang pegunungan menjadi tempat subur untuk tanaman cengkeh. Sedangkan wilayah datarnya mulai digalakkan potensinya untuk benih-benih tembakau. Meskipun tiga tahun terakhir jumlah petani tembakau sedikit berkurang dikarenakan cuaca yang tidak menentu yang membuat petani tidak mau ambil resiko, namun masih ada keoptimisan tahun mendatang akan kembali normal.

Nauticana Tabacum, tanaman yang penuh kontroversi ini ternyata mempunyai potensi untuk memperbaiki ekonomi para petani. Jauh dari perdebatan tentang halal-haramnya rokok di lingkungan ahli agama, para petani tembakau di Trenggalek dengan tekun merawat bahan baku utama rokok ini. Ketika disinggung terkait fatwa haramnya rokok, mereka lebih suka menjawab sekenanya seperti dengan kelakar Penak  nandur mbako, mergane nandur kurma atau zaitun nggak tuwuh, di atas.

Pun begitu dengan vonis berbagai ahli kesehatan tentang racun yang terkandung dalam tembakau dan  batang-batang rokok yang mengepul. Sampai-sampai ada sebuah pasal dalam UU kesehatan bahwa rokok merupakan zat adiktif yang apabila digunakan dapat mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu maupun masyarakat. Oleh karena itu diperlukan berbagai kegiatan pengamanan rokok bagi kesehatan. Hingga akhirnya muncul sebuah ancaman dalam tiap bungkus rokok “Merokok membunuhmu!”. Menyikapi hal ini dengan enteng mereka menjawab “Mending ngrokok disek lagek mati, tinimbang ga tau ngrasakke nikmate ngrokok tapi ya panggah mati.” Ehe.

Para petani tembakau juga tidak ambil pusing dengan perdebatan konspirasi kapitalis di balik perusahaan-perusahaan besar rokok nasional yang dikoarkan aktivis-aktivis ngiwo di media sosial. Tidak peduli apakah mereka itu sedang diproletarkan atau apalah-apalah itu bahasa tinggi kaum aktivis. Yang mereka tahu bahwa cuaca cerah tahun ini adalah berkah. Dan tembakau yang tercerahkan oleh sinar matahari dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Sementara ujaran aktivis di media sosial itu sekadar memberikan “kerjaan” bagi anak-anak mereka yang sedang kecanduan gadget dengan aplikasi medsosnya.

Dan, entah sampai kapan si tembakau ini terus memberi warna-warni kehidupan kita. Perdebatan Dinas Kesehatan yang anti tembakau vs Dinas Pertanian yang dengan senang hati membina petani tembakau. Perdebatan ulama ahlul nghisab vs ulama anti asap rokok. Dan perdebatan-perdebatan lain yang mewarnai hari-hari kita. Yang penting, selama asap rokok masih diizinkan mengepul, maka asap dapur keluarga petani tembakau juga masih akan mengepul.

Oya, sedikit pemberitahuan bahwa penulis memang menanam tembakau dan ayah penulis adalah ketua kelompok tani tembakau di dusun, namun senyatanya penulis dan ayah penulis juga bukan seorang perokok. Ini mungkin menjadi posisi yang sangat strategis di tengah perdebatan-perdebatan di atas. Ahaha…