mata-air-trenggalek

Topografi wilayah Trenggalek yang bergunung-berbukit, banyak ditumbuhi mata air. Tidak heran bila di beberapa kaki pegunungan-perbukitan ini sering dijumpai sumber air. Sumber air dengan debit besar bisa dijumpai beberapa di antaranya pada belik, mason, sendang, telaga, embung dan seterusnya. Sumber air tersebut, sejak dulu banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari bahkan juga dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Dan tentu sangat membantu (alternatif) bagi yang tidak mengandalkan air penggalian (sumur), sebab tak punya tenaga atau biaya menggali, karena kedalamannya. Lebih-lebih di daerah pegunungan dan perbukitan.

Belik atau mason misalnya sangat diandalkan masyarakat untuk dijadikan tempat bersih badan/mandi, selain buat cuci pakaian juga untuk dikonsumsi seperti diminum dan memasak. Belik atau mason ini banyak kita jumpai di kecamatan-kecamatan pegunungan seperti di Dongko, Watulimo, Munjungan, Pule, dan Bendungan. Dan sebetulnya hampir secara merata terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Kendati sudah agak menipis, misalnya di Kecamatan Munjungan, banyak belik-belik yang sekarang telah mati (diuruk) dan orang lebih enjoy untuk mandi di rumah masing-masing (jeding), ketimbang mandi di belik. Belum lagi, ada sekian sumber yang lantas dilirik oleh PDAM hingga menjadi sengketa dengan masyarakat setempat.

Di Trenggalek, terutama di daerah-daerah pegunungan ketersediaan air cukup melimpah pada sumber-sumber mata air. Bahkan sumber-sumber air itu terdapat di sekitar pemukiman penduduk yang memang dekat dengan perbukitan dan pegunungan. Air dari sumber itu kemudian diambil dan dikonsumsi penduduk setempat dengan cara membuat saluran-saluran air menggunakan pipa (selang): baik yang terbuat dari bambu maupun selang biasa, atau juga pipa-pipa paralon yang bisa mencapai pemukiman.

Di daerah-daerah seperti di Kecamatan Munjungan, Dongko, Pule, Watulimo dan Bendungan misalnya, penduduk yang pemukimannya memang dekat dengan bukit, mereka mengisi bak mandi, genthong, dan wadah-wadah persediaan air lain melalui saluran-saluran air yang mereka buat. Namun mereka juga mesti awas dan hati-hati, karena daerah-daerah tersebut tentunya juga rawan longsor yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu. Bahkan longsor dari lereng gunung dan bukit sering terjadi saat musim hujan tiba.

Menurut kabar dari seorang pecinta lingkungan hidup, di Trenggalek terdapat sekitar 2.000 sumber atau mata air yang tersebar di setiap kecamatan. Adapun menurut catatan buku Bapeda, mata air di Kabupaten Trenggalek sejumlah 361 sumber. Sumber air di Kabupaten Trenggalek ini mengalami penurunan, baik dalam jumlah maupun debit (Bappeda Trenggalek, 2011: hlm. 27).

Dan dari semua kecamatan tersebut, diduga bahwa kecamatan yang terletak di pegunungan-perbukitan lebih banyak menyumbang jumlah mata air ketimbang kecamatan yang berlokasi di daratan tak bergunung pula tak berbukit. Di Kecamatan Dongko, setidaknya ada sekian mata air yang sudah dimanfaatkan masyarakat. Kecamatan Dongko termasuk salah satu kecamatan yang mungkin agak banyak menyumbangkan mata air. Ada sekian ratus sumber air berada di kecamatan ini, terutama pada desa-desa yang daerahnya berada di perbukitan dan pegunungan.

Di Desa Cakul, tepatnya Dusun Nglaran, terdapat sumber air yang debitnya cukup besar, yang diperkirakan dapat menghidupi beberapa dusun dari satu mata air itu karena faktor besarnya debit air yang dikeluarkan. Beberapa sumber air itu juga sangat baik untuk langsung dikonsumsi, karena saya pernah melihat seseorang pernah mengetes langsung kelayakan untuk dikonsumsi ini tanpa direbus. Belum lagi Desa Pringapus dan Desa Sumberbening dan beberapa desa yang secara keletakan dan persebaran pohonannya memungkinkan untuk menyimpan air hujan lebih banyak.

Sementara di Kecamatan Pule yang secara model geografinya agak mirip dengan Kecamatan Bendungan, menyuguhkan hutan dan gunung yang terpola indah dengan baris pepohonannya, seolah kembaran Kecamatan Bendungan. Sebuah pemandangan alam yang menyiratkan alur vegetasi yang baik. Di sini, ada sekian mata air cukup besar yang digunakan penduduk sekitar untuk kebutuhan mandi sehari-hari bahkan dengan mengantri. Salah satunya adalah sumber air di samping jalan di Dusun Jompong, Desa Suko Kidul, Pule, yang menembus Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu.

Sumber air yang berada di samping jalan itu telah dibuatkan kolam sekaligus dibangun ruang-ruang yang digunakan sebagai kamar mandi oleh penduduk setempat (baik dengan swadaya maupun bantuan pemerintah). Sumber tersebut terletak tepat di bawah pohon yang meski tidak seberapa besar namun cukup tinggi. Di sekitar pohon terdapat semak dan gerumbulan akar-akar tumbuhan yang biasa tumbuh di sekitar lingkup air dan pinggir sungai. Ada beberapa pohon tinggi di sekitar sumber air tersebut. Dan lokasi sumber air itu memang sangat cocok bagi tumbuhnya gerumbulan semak, pepohonan, kerumunan alang-alang, dan rumput-rumputan liar yang subur, sangat mendukung keberadaan sumber air pada lokasi itu. Oleh penduduk sekitar sumber air tersebut dinamai: Sumber Rejo.

Di daerah seperti di Kecamatan Dongko, Pule dan Bendungan, karena lingkungannya bertopografi gunung dan perbukitan dengan pohonan yang rindang, maka untuk memperoleh dan menggunakan air mereka—masyarakat setempat jarang punya akses atau jarang berkontak langsung dengan sungai—memanfaatkan sumber-sumber mata air. Ya karena paling memungkinkan adalah kontak mereka dengan sumber dan mata air. Sumur tentu saja cukup dalam untuk digali guna memperoleh air tanah yang bersih dan memadai. Sementara akses terhadap mata air (sumber air) di sini: di lokasi pegunungan-perbukitan, lebih mudah didapat.

Masyarakat di tiga kecamatan ini, setidaknya, paling banyak adalah pengakses air dari sumber mata air, guna memenuhi kebutuhan air layak sehari-hari. Meski ada juga sungai-sungai kecil dengan debit tak seberapa, kalau tak malah kecil, melintasi daerah-daerah kecamatan di pegunungan-perbukitan. Jika hendak berkontak atau mengakses air sungai, mereka harus turun ke daerah yang agak datar. Atau sungai-sungai kecil yang mengalir dari akumulasi air sumber di beberapa titik di pegunungan-perbukitan sekitar tempat tinggal penduduk ini.

Kita tahu, sebagian besar air tanah, terutama yang ada di daerah pegunungan berasal dari air hujan yang disimpannya. Oleh berbagai faktor menentukan, yang berada di lokasi gunung seperti keberadaan ekologi yang baik: hutan yang hijau dengan banyak pepohonan, dan faktor topografi seperti bentuk tanah dan lahan yang menunjang; bentuk lereng yang menjamin untuk menyimpan air. Dari permukaan tanah itu, air diserap dan dibawa larut ke bawah permukaan hingga mencapai lapisan tanah yang kedap air (tidak tembus air lagi) lantas disimpan oleh lapisan batu-batuan di bawah tanah yang disebut akuifer. Akuifer adalah sejenis rongga-rongga di bawah tanah dan atau bisa juga semacam lapisan tanah yang menyimpan air dan dapat mengalirkannya.

Tanpa faktor-faktor di atas, siklus air tanah itu tak akan terjadi. Air tanah ini sebetulnya dapat dijumpai di berbagai tempat, kendati dari segi kuantitas (jumlah) dan maupun kualitas, sangat dipengaruhi oleh faktor topografi alam (bentang alam) pada daerah atau wilayah lokasi mata air, juga pengaruh komposisi lapisan batuan di daerah tersebut. Meski begitu, air tanah—oleh berbagai sebab—terkadang muncul ke permukaan menjadi mata air (sumber) seperti yang banyak kita temui di berbagai daerah kecamatan di Trenggalek. Air tanah yang keluar itulah yang kerap disebut mata air. Keluarnya air tanah ini bisa dalam jumlah banyak, sebagian memancar, dan ada pula yang dalam jumlah (debit) kecil.

Di Munjungan ada sumber air hangat yang menyembur ke permukaan. Semacam geiser dalam arus yang kecil. Tentu ini ada pengaruh lingkungan alam sekitar. Air panas adalah air tanah yang keluar setelah terpanaskan secara geotermal. Dibanding air tanah biasa, air tanah yang dipanaskan ini lebih tinggi kadar kandungan mineralnya. Air panas atau hangat di Munjungan berada di Dusun Banyunget, nama dusun tersebut diambil dari sumber air ini.

Mata air atau sumber tersebut tentu dipengaruhi oleh lingkungan (geologi) sekitar sebagai kontrol. Meski Trenggalek adalah daratan dengan jumlah pegunungan dan perbukitan yang primer, bisa jadi pula sumber air ditemukan di daerah datarannya. Meski, sumber air yang berada di wilayah pegunungan dan perbukitannya lebih bagus dari segi jumlah (kuantitas) maupun kualitas karena pengaruh geografi, ekologi dan intensitas curah hujan yang tinggi.

Di kaki Bukit Mbanyon (Kecamatan Gandusari) arah timur laut terdapat sumber air yang cukup besar. Saking besarnya membentuk aliran sungai, hanya dari mata air tersebut. Menurut warga setempat, mata air ini masih bertahan debitnya meski musim kemarau tiba. Bukit Mbanyon termasuk bukit yang tidak terlampau punya pepohonan, meski di sekitar mata air Maron—nama lokasi tersebut—ada gerumbulan semak dan beberapa pohon cukup besar yang mengitari sumber. Sumber ini tak seperti mata air di Tapan (Karangan) yang berlokasi di atas bukit, melainkan berada di bawah bukit. Maron sepertinya adalah kumpulan mata air, karena mengeluarkan volume air yang cukup banyak. Mata air di lokasi ini sangat besar dan tidak kelihatan, karena terlingkupi cekungan mirip kedung (telaga mini) pada asal sumber. Ia merembes keluar melalui batu-batu yang membentuk arus sungai hingga ke bawah, ke arah barat.

Beberapa meter ke bawah, telah dibuatkan penampung air (embung) cukup luas. Sumber dengan debit air yang besar ini terletak di Desa Karanganyar, Gandusari. Cukup unik karena sumber ini terletak di pojok kaki dua bukit yang di bagian atas, vegetasi pohon-pohonan dan kayu-kayuannya tak cukup lebat. Bahkan Mbanyon cenderung menjadi bukit gundul, yang oleh para petani sekitar dijadikan ladang. Apakah ini semacam sumber yang keluar dari sungai bawah tanah? Alias sumber utama aliran sebetulnya tidak terletak di situ. Apalagi, sekali lagi, Bukit Mbanyon bukan bukit hijau, melainkan bukit yang menjadi tempat perladangan masyarakat. Sumber air Maron yang besar ini berada di pojok bukit di antara pertemuan dua bukit di Mbanyon.

Sumber-sumber air itu memang perlu mendapatkan perhatian dengan menjaga kelestarian alam, terutama area di sekitar sumber mata air sebagai kawasan lindung. Siklus hidrologis merupakan proses ekologis di mana air diterima oleh ekosistem dalam bentuk hujan atau salju. Jatuhnya uap air mengisi ulang mata air, resapan air dan sumber air tanah. Ketersediaan air dalam suatu ekosistem tergantung pada iklim, fisiografi, vegetasi, dan geologi wilayah yang bersangkutan (Vandana Shiva, 2002: hlm. 2-3). Kita harus mengerti, saat ini, dalam beberapa bidang tersebut manusia modern terutama anak cucu manusia pemuja kebudayaan cepat saji ini, telah banyak merusak bumi dan menghancurkan kapasitasnya dalam menerima, menyerap dan menampung air.

Aktivitas pembabatan hutan dan pertambangan, kata Shiva (2002: hlm. 2-3), dalam skala kecil maupun besar, bagaimanapun akan menghancurkan kemampuan menyerap yang dimiliki oleh tanah untuk menyimpan air. Pertanian dan hutan monokultur saat ini—sebagaimana dulu zaman Tanam Paksa—telah mengeringkan ekosistem. Peningkatan penggunaan bahan bakar minyak telah menyebabkan polusi udara, perubahan iklim serta menjadi penyebab utama terjadinya banjir, tsunami dan kekeringan yang berulang. Mari jaga alam dan lingkungan sekitar dari segala bentuk perusakan.

TINGGALKAN KOMENTAR