Menikmati Wisata Rumah Apung di Pesisir Prigi
Rumah Apung Pantai Prigi | Foto Humas Kab. Trenggalek

Di Pesisir Prigi (Pantai Karanggongso), ada tempat wisata yang patut dikunjungi. Tempat wisata tersebut adalah Rumah Apung Rembeng Raya. Berada di timur Pantai Bangkokan, ia berlokasi tepatnya di Pantai Mutiara.

Secara administratif, Pantai Bangkokan juga Pantai Mutiara ini, berada di Dusun Karanggongso, Desa Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek. Lokasinya tidak jauh dari Pantai Pasir Putih. Jika ditempuh dengan jalur darat, cukup melajukan kendaraan sejauh kurang lebih 1 km atau 15 menitan, bila memanfaatkan transportasi laut, yakni perahu wisata.

Bila menggunakan jalur darat, Anda tak perlu khawatir dengan medannya. Jika dua tahun lalu medannya terjal dan hanya bisa dilalui satu sepeda motor, kini aksesnya dapat dijangkau dengan kendaraan beroda empat. Jalan menuju Pantai Mutiara ini berada di garis pantai. Jalurnya berada di tebing Pantai Bangkokan dan meski belum diaspal, kondisi jalannya sudah baik dan lebar.

Kami bertiga (saya, dan tiga teman saya, Mas Nur Kolis, Mas Dwi dan Mas Denys) pada suatu ketika berniat mengunjungi pantai ini. Kami pun membuat janji dengan salah satu ketua Pokdarwis Rembeng Raya ini. Kebetulan ketua Pokdarwis merupakan salah satu PPDP di desa kami. Meski, pantai ini sudah saya kunjungi dua tahun lalu, kondisinya belum semenarik dan semolek sekarang. Kini beberapa spot di pinggir pantai mulai tahap pembangunan fasilitas. Termasuk pelebaran dan pengurukan jalan.

Dari tengah laut nampak seorang laki-laki dari kejauhan sedang menghidupkan mesin perahu setelah mengetahui lambaian tangan Mas Nur Kolis. Seolah medan magnet yang berada di selatan menemukan kutubnya di utara. Ia mengerti bawah lambaian kedua tangan itu adalah sinyal pengunjung untuk dijemput. Laki-laki itu adalah Kacuk, Ketua Pokdarwis Rembeng Raya ini.

Dalam hitungan menit, ia sudah sampai di darat. Kami pun melompat ke perahu, setelah perahu mendarat di garis pantai. Tanpa basa-basi, ia pun memutar haluan dan mengarahkan perahunya ke arah barat atau menuju laut kembali.

“Rumah Apung Rembeng Raya ini bukan rumah pampang biasa. Sebab, rumah apung ini didesain khusus dari bahan dasar yang terbuat dari WPC (Wood Plastic Composite), sehingga tahan hadangan dan menyesuaikan gelombang (pasang-surutnya) air laut. Pelampung ini mampu meredam sekaligus stabil terhadap gelombang ombak yang menerjang dari tengah laut,” tutur Kacuk sambil melanjutkan ceritanya merintis Rumah Apung.

Di Rumah Apung yang didesain joglo itu, Mas Kacuk langsung menawarkan kopi pada kami. Tanpa perlu jawaban lama, ia meluncur ke bagian belakang rumah apung. Selang beberapa menit, ia kembali dengan nampan dan empat cangkir kopi yang berisi warna hitam pekat. “Wah, cocok ini diseduh selepas berenang, penghilang rasa asinnya air laut,” batin saya.

Sambil menikmati segelas kopi dan ayunan gelombang yang datang dan pergi, kami berempat membentuk obrolan. Saya, Mas Kacuk dan Mas Nur Kolis duduk di atas WPC. Sementara Mas Dwi dan Ms Denys duduk di gazebo kecil, yang di atasnya ada panel matahari—alat penerangan maupun tenaga (ke)listrik(an) di rumah apung. Seolah tak rela obrolan itu menguap bersama angin dan deburan air laut, kami mengeraskan suara masing-masing saat memulai berkisah.

Rumah Apung ini pertama kali dibangun tahun 2016. Di tahun itu, pembangunan Rumah Apung ini diawali dengan pencangkokan terumbu karang, penyebaran berbagai macam ikan dan pembangunan Rumah Apung, serta penanaman pohon ketapang di pinggir pantai.

Sambil menyeduh kopi dan memperlihat serumpun alga cokelat jenis phaeophyta, kalau tidak salah, melekat di pelampung itu. Ia tak luput memberikan informasi bahwa alga jenis itu bisa dikonsumsi tanpa harus dimasak dahulu, terasa gurih. “Kami membiarkan serumpun alga cokelat jenis phaeophyta, polysiphonia (alga merah) dan ikan memakan alga-alga lain. Dan ketika alga-alga itu sudah cukup lebat, kami panen dan diolah bersama-sama Kelompok Pengawas Wisata,” ujarnya.

Kacuk juga menunjukkan sekumpulan ikan sedang menjilati alga yang menempel di pelampung. Warna tubuhnya yang kelabu muda membuat ikan ini tak terlalu mencolok dibandingkan warna-warni anemon yang ikut menari ‘tertiup’ arus air. Ikan bernama latin stegates nigircans ini merupakan salah satu ikan karang yang banyak ditemui di pantai sini. Ikan kerapu dan ikan-ikan yang lain ditangkar di kolam berukuran 20 x 20 m, di samping kiri kami ngobrol ini. Termasuk tiga atau empat kolam yang berada di kanan kami, yang di dalam terdapat epinephelinae, nama latin dari ikan kerapu. Namun di kolam ini Anda tak menjumpai ikan badut atau ikan nemo.

Kalau dahulu mencari relawan saja susah, kini yang mengelola Rumah Apung ini telah banyak. “Ada 23 anggota yang siap memanjakan pengunjung 24 jam penuh,” tambahnya. “Kami juga melakukan konservasi terumbu karang, transplantasi terumbu karang, membangun apartemen ikan atau bank ikan di beberapa spot, juga menjaga dan melestarikan terumbu karang alami supaya terjaga kelestariannya.”

Oleh karena itu, yang menjadi tantangan teberat dalam menumbuhkan terumbu karang adalah merawat dan memperbanyak, dengan tingkat kesuburan tumbuh terumbu karang itu. Menurutnya, dalam 1 tahun terumbu karang hanya mampu tumbuh tiga centimeter saja. Jadi jika sekali hancur seperti di Raja Ampat, Papua itu membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengembalikan terumbu karang seperti sediakala. “Taruhlah kena denda di atas 10 M itu tidak seberapa dengan terumbu karang yang dihancurkan,” ungkapnya dengan nada keras.

Selepas berkisah banyak tentang Rumah Apung dan ekosistem di dalamnya, kami diantar untuk menikmati eksotisme bawah laut dan mengunjungi bank ikan. Kami bertiga meminjam kano ke lokasi bank ikan, sementara Mas Kacuk hanya bermodal peralatan pelampung dan alat snorkling saja.

Oh iya, untuk biaya pinjam perahu kano terbilang sesuai isi kantong, yakni Rp. 20.000 per orang/jam, snorkling beserta alat (kaki katak) Rp. 25.000 per jam/ orang. Nah, apabila Anda ingin mengunjungi dan melakukan penyelaman di bank ikan, Anda cukup merogoh gocek kembali sebesar Rp. 10.000 per jam/ orang dan menyewa guide dengan biaya Rp. 5000. Dengan biaya semurah itu Anda bisa berkeliling di spot-spot yang banyak di-kelilingi ikan hias, ikan salmon, kerapu dan masih banyak lagi.

Tidak kalah nikmat juga, di Rumah Apung, Anda juga bisa menikmati sajian khas pesisir. Selain bersantai menikmati panorama laut, juga bisa melahap sajian ikan bakar, es kelapa muda ataupun sekadar menghilangkan penat dengan memancing di kolam ikan. Anda juga bisa bermalam di tengan laut. Tentu saja ini sebuah paket wisata yang komplit untuk dinikmati bersama keluarga dan teman-teman Anda.

TINGGALKAN KOMENTAR