Abstain mungkin lebih ramah dirasakan dan didengar telinga ketimbang disebut dengan golput, meski secara pengertian kedua kata tersebut berarti sama. Namun, di Indonesia jangan sekali-kali mengatakan “saya golput” di depan umum jika tidak ingin dicap sebagai manusia berlumur dosa. Karena MUI (tempat kumpul para ulama yang didanai APBN) sudah mengeluarkan fatwa bahwa golput hukumnya haram. Bagi Muslim (menurut MUI) berikrar golput sama dengan makan daging anjing dengan sayur kol melanggar hukum agama. Keduanya bisa dicap pendosa. Lebih baik ucapkan “abstain”, karena mungkin sebagian orang tidak mengenali kata tersebut.

Golput, jika merujuk pada sejarah ia ada, merupakan gerakan ideologis. Golput ada sebagai bentuk protes terhadap pemerintah di zamannya. Ia ada karena lahir dari olah pikir, olah batin dan olah rasa terhadap kondisi sosial waktu itu, maka sebagai bentuk olah raga, para pejuang golput ini harus sering berhadap-hadapan langsung dengan aparat penegak hukum. Jadi, alasan melakukan tindakan golput bukan sebagai bentuk gagah-gagahan saja, akan tetapi sebagai pilihan politik dalam negara demokrasi.

Lantas untuk memerangi para manusia abstain ini, para pihak, baik yang didanai anggaran negara atau didanai duit partai, berlomba-lomba untuk membuat narasi tentang golput. Tujuannya mungkin untuk menyadarkan manusia golput supaya tidak golput, atau untuk menaikkan rating angka partisipasi masyarakat dalam pemilu (bagi penyelenggara). Karena jika merunut dari tujuan tersembunyi EO pemilu, salah satu indikator keberhasilan adalah angka partisipasi masyarakat dalam pemilu.

Narasi ini ada yang dibuat soft hingga narasi yang menyatakan ketidak-berpihakan mereka terhadap golput dengan cara keras. Sayangnya, dari sebagian besar narasi yang muncul dari pekerja kontrak APBN dalam pemilu, justru malah memunculkan narasi perpecahan. Sebelum memahami makna perpecahan di sini, Anda harus memahami tentang bagaimana hidup dalam negara demokrasi. Hidup dengan hak yang diberikan negara, serta hidup sebagai warga negara yang kudu pandai menjaga kerukunan. Namun sebelum Anda paham itu, lebih baik Anda memakai akal pikiran supaya wacana berpikir yang saya lempar melalui tulisan ini bisa nyambung.

Menguji Narasi Anti Golput

Coba Anda perhatikan bagaimana para EO pemilu dan pihak yang berkepentingan langsung (kontestan politik) dalam membuat narasi anti golput. Beberapa hal yang saya munculkan di sini, adalah sebagian dari narasi-narasi “permusuhan” dari Trenggalek.

  1. Golput nggak keren: Narasi ini mungkin baik bagi mereka yang anti golput, tapi bagaimana bagi mereka yang hendak golput? Yang hendak dilakukan mereka ini adalah untuk menyakiti para abstain atau untuk mengajak mereka untuk tidak golput? Kalau tujuannya menyakiti, fine ini nancap sekali. Tapi kalau untuk tujuan kedua, bisa jadi Anda sedang mengibarkan bendera perang dengan mereka.
  • Golput bukan solusi. Narasi JMBT kedua yang membuat tertawa bagi mereka yang berpikir. Jelas sekali, menggunakan atau tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu bukan perkara solusi. Tapi perkara hak pilih. Menyangkut pautkan golput dengan solusi unfaedah adalah bentuk penggiringan opini untuk meminggirkan para abstein. Ini tidak adil.
  • Memilih Golput akan membuat orang dzalim berkuasa. Nah ini narasi JMBT ketiga, saya rasa, para legislatif kemarin-kemarin itu dipilih oleh masyarakat Indonesia yang baik. Dan tidak mungkin hendak dikatakan, semua pemilih Papa Setnov adalah orang-orang dzalim, ya kan? Yang mengantarkan kedzoliman bagi penguasa adalah masyarakat yang tidak memunculkan kepekaan terhadap aturan negara. Salah satunya adalah money politik.
  • Kampanye damai dan anti golput. Narasi JMBT keempat, Anda tahu kenapa begitu? Jadi begini kawan, makna damai berarti memberi kenyamanan kepada semua pihak, tanpa menegasikan pihak lain sehingga memunculkan perselisihan. Lihat tuh KBBI. Lalu di kalimat selanjutnya dibunyikan kata anti golput. Nah, di  sini sudah mulai paham belum? Bagaimana mungkin akan ada damai kalau masih menegasikan golputer.
  • Golput bukan budaya kita. Ini bukan lagi narasi JMBT, tapi pembelokan akal waras. Ok kalau golput bukan budaya kita, apa lantas demokrasi itu budaya kita juga? Lalu dari narasi itu, jika golput bukan budaya kita lantas harus ditinggalkan, apakah kita juga perlu meninggalkan demokrasi (pemilu) karena juga bukan budaya kita?

Nah, dari beberapa narasi golput yang telah diuji di atas, mohon ada yang menguji balik hasil ujian di atas. Supaya muncul pemikiran untuk menguji ujian. Keren, ta? Ujian saja masih perlu diuji.

Punya Pilihan Silakan, Tapi Jangan Sombong

Jika kalian punya pilihan, dan ingin memilih pilihan tersebut  di tanggal 17 April mendatang, itu adalah keputusanmu sendri. Anda nyoblos adalah konsekuensi dari kesadaran Kalian untuk memilih jagoanmu. Ingat, itu kesadaranmu atas jagomu lho ya, bukan kesadaran atas cara hidup manusia bernegara di dalam negara demokrasi yang memberikan hak kepada rakyatnya.

Kenapa saya katakan begitu, karena bukan tidak mungkin jika nanti ada calon presiden atau calon legislatif yang maju, tapi tidak memiliki garis ideologis, tidak senapas dan se-cita-cita dengan apa yang kamu inginkan, lantas kamu tidak menentukan pilihan. Pilih memilih ini kan tidak selalu karena bibit, bebet dan bobotnya. Ada berbagai macam hal yang menjadi penentu kenapa orang memilih. Misal karena duitnya.

Pun dengan mereka yang memilih golput, harusnya diambil garis lurus (bukan garis lucu atau garis keras) dengan mereka yang tidak golput. Kalau keduanya sama-sama dinilai dari kepemilikan hak menggunakan suara, maka keduanya berhak untuk mendapatkan apresiasi atas pilihannya tersebut. Sebaliknya, menyalah-nyalahkan salah satu dari mereka di dalam negara demokrasi yang memberikan hak kepada rakyatnya, adalah perbuatan melecehkan pemberian negara itu sendiri. Ingat, negara memberikan hak pilih, hakmu ya hakmu, hakku ya hakku; bagimu atas hakmu, bagiku atas hakku.

“Wahai masyarakat Indonesia, jangan mencuri” kata negara pada rakyat. Lha ndilalah, ada orang yang mencuri, konangan, negara jelas hadir memberikan hukuman. Karena watak berpikir negara adalah mencuri itu dilarang.

“Wahai pejabat negara, jangan korupsi!” lha ndilalah Papa Setnov melanggar kata “jangan” tersebut dengan melakukan korupsi. Jelas, negara cangcut taliwanda melakukan kewajibannya, Papa setnov akhirnya terciduk.

Sekarang, bagaimana cara negara berkomunikasi dengan masyarakat dalam pemilu menyoal pilihan.

“Wahai masyarakat Indonesia, jangan golput” lantas ketika ada masyarakat yang golput, apa yang hendak dilakukan negara? Menghukumnya, memenjarakannya. Tentu tidak sayang, negara tidak melakukan apa-apa terhadap orang golput. Yang dijatuhi hukuman hanyalah bagi mereka yang melanggar  Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum Pasal 284.

Lantas, ketika kamu menjadi penyelenggara pemilu, menyeru kepada masyarakat supaya tidak golput, dan merundungi mereka yang memakai hak pilihnya untuk tidak memilih, apakah itu sudah sejalan dengan niat negara? Sedang apa yang jelas-jelas dilarang oleh negara, malah “dimaklumi” seakan seperti perbuatan yang tidak bisa diberantas, misalnya money politik!

Jangan lantas karena hendak menyoblos, muncul dalam hatimu perasaan menyelamatkan dunia dan menganggap bagi mereka yang golput adalah para perusak dan pengkhianat negara. Sebenarnya posisi kalian di mata negara sami mawon. Dan juga, jangan lantas karena saya menulis ini, langsung kalian cap sebagai golput. Itu jahat sekali sayang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Trigus D. Susilo
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.