Saturday, September 21, 2019
njajah desa milang kori


Menjadi Kartini Masa Kini

Kartini merelakan dirinya menjadi contoh propaganda, bahwa sebaik-baik wanita (perempuan) cantik dan kaya, akan lebih baik kalau berbudi dan mampu…

By Dian Meiningtias , in Opini , at 20 April 2019 Tag: , ,


==> artikel ini dibaca normal 5 menit

Kartini merelakan dirinya menjadi contoh propaganda, bahwa sebaik-baik wanita (perempuan) cantik dan kaya, akan lebih baik kalau berbudi dan mampu ber­pikir (Sulastin, 1979:341)

Memasuki bulan April, bangsa Indonesia semacam dihadiahi semangat emansipasi melalui Peringatan Hari Kartini. Emansipasi muncul di dalam masyarakat sebagai sebuah gerakan menuntut persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam sejarah awal pergerakan, emansipasi modern di Indonesia mencatat sejarah perjuangan perempuan yang berasal dari lingkungan bangsawan Jawa, bernama R.A Kartini. Menjiwai semangat emansipasi tidak selesai hanya melalui ritus “perayaan meriah sehari selesai”. Semangat emansipasi haruslah suatu yang melahirkan cita-cita, sebuah kesadaran yang merasuk pada jiwa setiap perempuan untuk bangkit sebagai manusia yang tidak puas hanya “diperempuankan” melainkan juga “berkeperempuanan”.

Perempuan sebagai bagian dari manusia dengan segala hak hidup yang melekat padanya. Berangkat dari peringatan 21 April, mari kita membahas Kartini. Kartini besar, bukan Kartini masa kini yang cukup puas hidup dalam puja-puji cantik dengan kosmetik dan pakaian yang identik dengan figur yang ingin dicitrakan lewat perayaan. Sebab perempuan memiliki spirit kesadaran sebagaiman gagasan dan buah pikir Kartini yang menyadarkan setiap manusia perempuan. Pun demikian, saya ucapkan “Selamat Hari Kartini” untuk seluruh perempuan Indonesia, baik mereka yang hari ini merayakan sosoknya lewat pakaian, momentum kegiatan maupun mereka yang telah terilhami semangat hidup Kartini dalam keseharian.

Terilhami Kartini tentu tidak cukup berbekal euforia sehari selesai, membahas Kartini artinya berkontemplasi pada gagasan-gagasannya ketika mengkritik kolonialisme dan feodalisme “Jawa”. Maka, untuk memperlebar khazanah berpikir kita sebagai masyarakat yang memiliki relasi sosial dalam kehidupan, tidak salah jika kita berangkat dari sejarah Kartini itu sendiri. Pertama, Kartini adalah seorang feminis yang lahir dari kekecewaan yang ditekankan pada tradisi pernikahan atas  kedua ibunya. Kedua, Kartini menggemari ilmu pengetahuan lewat buku-buku yang dibacanya sehingga ia melihat pentingnya hak pendidikan, sementara dalam masyarakatnya masih begitu timpang. Ketiga, dengan kemampuan berbahasa asing yang dimiliki membuat Kartini mampu menjalin pertemanan dengan orang Belanda sehingga membuka wawasan dan cakrawala berpikir yang lebih luas dan terbuka. Keempat, tradisi Jawa dan posisinya sebagai bangsawan memungkinkan perannya hadir sebagai jembatan perubahan.  

***

Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, sebuah kota kecil yang masuk dalam wilayah Karesidenan Jepara. Ia merupakan anak dari pasangan Raden Mas Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Kartini muda menjadi perempuan yang menentang tradisi Jawa yang kaku terlebih praktik poligami, di mana tradisi inilah yang menjadikan ibunya dimadu dan ia dengan berbagai pertimbangan harus menjadi istri kedua dari Bupati Rembang. Bukan tanpa tujuan, menjadi Raden Ayu, bagi Kartini merupakan sarana mewujudkan cita-citanya. Ia memutuskan menikah bukan sebatas tujuan menaikkan derajat hidupnya sebagai perempuan dalam ukuran masyarakat feodal Jawa. Ia memiliki tujuan besar, yaitu upaya menyediakan pelayanan bagi masyarakat, khususnya kesempatan melebarkan ruang pendidikan bagi perempuan di sekelilingnya.

Hal tersebut sebagaimana kondisi sosial yang kala itu menganggap kalangan bangsawan bahwa sebagai lajang tidak sepantasnya ia menulis untuk dibaca umum. ‘Memalukan dan merendahkan martabat kebangsawanan­nya’. Meski begitu, Kartini tetap menulis, hingga pada kesempatan yang lain, ia menemukan teman korespondensi dari Belanda yang memiliki pengetahuan luas dan sehaluan dalam berpikir. Tulisan yang berupa surat tersebut adalah media Kartini menyalurkan beberapa pandangan dan gagasannya. Adalah Estella Zeehandelaar, seorang perempuanBelanda yang menerima tawaran Kartini menulis di majalah De Hollandse Lelie yang diterbitkan di Negeri Belanda (1899). Ialah perempuan pertama yang menjadi teman korespondensinya, hingga tahun 1904.

Lewat surat-surat yang dikirimkannya, Kartini mengembangkan diri melalui tanya jawab dengan teman feminis sosialisnya tersebut. Melalui surat-surat yang dikirimkannya itu pula, ia memiliki kebebasan menyampaikan gagasan yang ditekankan pada kondisi sosial yang tumpang baik kritik terhadap tradisi Jawa maupun kritik terhadap Belanda atas ide kolonialisme di negerinya. lsi suratnya menyampaikan kritik terhadap perilaku Belanda dengan sistem kolonialnya yang menindas bangsa Indonesia tanpa memperhatikan hak asasi manusia, pun dengan kesengsaraan perempuan akibat perbedaan perlakuan. Jejak dan sumbangsih Kartini dalam kepahlawanan nasional adalah dengan menekankan perjuangannya pada kesadaran, pemikiran dan wacana yang emansipatif melampaui wawasan zamannya.

Lewat gagasan-gagasan yang dituangkannya dalam beberapa surat ia menyuarakan harapan dan cita-cita yang dipandang sebagai representasi nasib dan kepentingan kaum perempuan Indonesia dalam menuntut hak utamanya, yakni kesempatan memperoleh pendidikan. Sebuah cita-cita yang mengedepankan pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai pendidik dasar dalam keluarga. Kartini ingin menuntut persamaan hak bagi perempuan, baik hak memperoleh pendidikan maupun pencerdasan perempuan lewat pendidikan sebagai upaya membangun kesadaran.

Sebuah kondisi yang memungkinkan adanya celah pembodohan lewat kebijakan yang memperdaya hak perempuan sebagai manusia. Hak untuk sekolah bagi perempuan pribumi misalnya, adalah jembatan membangun kesadaran baik kesadaran atas kolonialisme maupun kesadaran akan tradisi yang merugikan kemanusiaannya. Kartini berpendapat, bahwa ada dua unsur penting yang harus dibangkitan terlebih dahulu, yaitu para bangsawan yang akan membawa rakyat kepada kemajuan dan kaum wanita (perempuan) yang harus mendidik anak-anaknya, agar kelak menjadi pendidik yang baik, serta menjadi pemimpin masyarakat yang handal (Nota Kartini, 1903).

***

Jika ditilik, ada perbedaan  antara feminisme Barat dengan ‘feminisme’ Kar­tini. Kartini menghendaki terjadinya modernisasi dalam pola pikir dan perilaku perempuan Jawa, yaitu perempuan yang “berani hidup, dapat menentukan kehendaknya, riang dan gembira, bersedia berbuat sesuatu untuk masyaraka­tnya, tidak mementingkan diri sendiri…” (Surat untuk Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899). Maka dalam mengimplikasikan kesadaran dibutuhkan lingkungan yang mampu menangkap pesan baik hubungan antar manusia maupun interaksi sekitar dengan jiwanya. Hal yang mampu menyatukan keduanya adalah kesamaan pandangan dan kesadaran atas relasi berkehidupan.

Kartini beranggapan bahwa perempuan tidak bersaing dengan laki-laki melainkan bermitra dalam kehidupan. Perempuan di hadapan Kartini adalah sebuah entitas agung serupa Ibu Alam yang memiliki panggilan sebagai pendidik pertama bagi manusia. Ia menyeluruh dalam kehidupan sebagaimana jiwa yang terselubung dalam jasmani dan kebertubuhan. Jika dalam semesta membutuhkan keberlangsungan spesies demi keberlangsungan hidup manusia untuk terus terjaga, laki-laki membutuhkan perempuan, pun sebaliknya. Hal yang kemudian ditekankan bahwa perempuan sebagaimana laki-laki, ia memiliki hak yang sama dalam hidup, pun memperoleh pendidikan sebagai panggilan dalam merawat dan mendidik anak-anak yang dilahirkan maupun dibesarkan.

Penempatan peran perempuan sebagai pendidik justru diperoleh salah satunya jika perempuan menjadi ibu rumah tangga, sebuah implikasi dari domestifikasi peran perempuan dalam kacamata patriarkis. Tapi apa yang keliru saat perempuan terdidik menjadi ibu rumah tangga? Bukankah berkarier dan menjadi ibu rumah tangga sama baiknya? Yang tidak baik adalah keberadaan iri sebagai individu yang terkungkung atas nama keterpaksaan dan diskriminasi peran. Bukankah perempuan terdidik lebih berkesempatan mendidik anak-anak menjadi cerdas dan berpikiran terbuka? Maka Kartini beranggapan bahwa posisi perempuan sebagai ibu tidak tergantikan.

Feminisme yang ditorehkan dalam gagasannya tidak sekalipun anti terhadap peran perempuan sebagai ibu. Kartini adalah feminis Jawa yang menggugat zamannya yang begitu feodal, terlebih ia berangkat dari masa lalu orangtua poligami dengan tugas Raden Ayu Moerjam di depan menerima tamu dan bersosialisasi ke luar, sedangkan tugas Mas Ngasirah (ibunya) di belakang sebagai “kepala” urusan kerumahtanggaan. Selain itu, dengan mengilhami feminis, tentu kita sepakat bahwa yang melandasi kehadiran paham ini adalah perlawanan atas belenggu yang mengikat peran gender sehingga perempuan maupun laki-laki tidak mampu mengambil sikap dan menentukan nasibnya sendiri. Kartini dengan bungkus budaya Jawa sangat menjunjung tinggi tindak tanduk dan perilaku dalam kehidupan di masyarakat. Bagaimanapun feminisme ala Kartini akan mustahil tanpa didahului oleh emansipasi ‘bangsa’, baik pandangan perempuan merupakan bagian dari masyarakat maupun perempuan sebagai pendidik. Feminisme Kartini meletakkan kebersamaan etis sebagai nilai yang mendasari relasi sosial laki-laki dan perempuan.

***

Surat-suratnya Kartini dengan beberapa teman korespondensinya yang ada di Belanda adalah noktah yang menjadi jejak mengenai perjuangan baik gagasan yang disuarakan maupun tulisan yang menggambarkan derita rakyat Jawa yang segera harus disudahi dan diganti dengan kondisi yang kondusif bagi kemajuan. Adalah mengembalikan peran perempuan sebagai sumber peradaban yaitu perannya sebagai Ibu Alam “pendidik pertama manusia”, pun dengan emansipasi cultural Jawa yang ditujukan kepada perempuan guna memperoleh  emansipasi intelektual untuk bangsanya, dan emansipasi politis yang ditujukan ke­pada rakyat Jawa agar bangkit kesadarannya sebagai ‘bangsa’. Dan ketiganya hanya bisa diperoleh lewat pendidikan yang melahirkan kesadaran bagi semua manusia.

Dengan peringatan Kartini pada pengulangan usia yang ke 140 tahun, mari menjadi perempuan yang tidak hanya puas dipuji sebagai perempuan melainkan secara sadar menjadi pribadi yang mandiri karena tugas kemanusian. Baik mandiri secara pikiran maupun mandiri untuk menentukan nasib sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Berikrar-lah dalam diri secara sadar, bahwa memutuskan berkarier maupun menjadi ibu rumah tangga adalah sama baiknya jika hal tersebut didasari pertimbangan yang matang dalam diri sebagai manusia yang memiliki hak. Dan berkaca dari Kartini sebagai peremuan Jawa seharusnya kita sadar bahwa sekalipun nanti kita berada di belakang, peran perem­puan Jawa besar sekali dalam keluarga, utamanya dalam menopang kedudukan suami. Selamat Hari Kartini, merdeka dalam jiwa.

TINGGALKAN KOMENTAR