Monday
14 October 2019
Njajah Desa Milang Kori


Andai Saya Kepala Dinas Pendidikan

Apa yang diajarkan di sekolah? Persamaan dan pertidaksamaan? Hukum mendel, hukum archimides, hukum kekekalan energi? Membaca apa? Menulis(kan) apa? Saya…

Sebuah Opini dari Bonari Nabonenar terbit pada 24 Mei 2019 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Apa yang diajarkan di sekolah? Persamaan dan pertidaksamaan? Hukum mendel, hukum archimides, hukum kekekalan energi? Membaca apa? Menulis(kan) apa? Saya bertanya kepada anak usia SMP yang lahir dan tinggal di desa, ”Ini rumput apa? Ini pohon apa? Ini pisang apa?” Tolah-toleh, dia. Tak satu pun pertanyaan saya itu dapat dijawabnya. Bocah Nggalek, ora ngreti jenenge wit-witan ing kiwa-tengene omahe dhewe, apa ora kebacut tenan?

Kita pantas bersedih. Anak-anak kita bisa tercerabut dari lingkungannya. Secara wadag, mereka yang tinggal di desa-desa, ternyata jiwa mereka entah di mana. Harapan akan lahirnya generasi yang makin mencintai lingkungannya itu pun bisa jadi impian siang bolong. Kita sudah gagal membuat mereka dapat berinteraksi dengan lingkungan. Sejak dini. Sekolah, mau tidak mau, dituding pula sebagai salah satu pihak yang punya andil dalam kegagalan ini.

Sekolah jangan hanya menghiasi diri dengan aneka tanaman bunga di serambi. Tanamlah aneka rumput di dalam pot atau keranjang tanaman. Juga aneka pohon. Jika lahan terbatas, sekian banyak pohon dapat ditanam dalam bentuk bonsai. Lalu pasang papan nama (label) pada tiap-tiap tanaman. Sungguh menyedihkan melihat anak-anak tidak kenal dengan lingkungan mereka, tidak tahu mana rumput yang bisa menyebabkan gatal-gatal, yang beracun, yang enak dimakan, dan seterusnya.

Sebaiknya sekolah di perdesaan punya kebun. Jangan cuma punya gedung. Ajaklah siswa mengolah kebun itu. Semua mata pelajaran akan terlibat, dari pelajaran agama, IPA, IPS, biologi, kimia, fisika, kewirausahaan, bahkan pelajaran agama.

Sekolah punya metodologi pendidikan. Pasti bisa, membuat kegiatan mengelola kebun bukan sebagai pekerjaan, melainkan sebagai cara lain bersuka-ria. Berbagai percobaan dan penelitian berkaitan dengan aneka tanaman pasti mengasyikkan. Bagi para siswa, berkebun adalah salah satu cara untuk menjadi semakin cerdas, berwawasan, berketerampilan, dan bertakwa kepada Tuhan.

Jika tidak tersedia lahan yang memadai, sudut halaman, pagar, bahkan dinding sekolah pun dapat digunakan sebagai media tanam. Kita kenal teknik hidroponik, aquaponik, dan vertical garden. Itu semua dapat diterapkan di sekolah dengan melibatkan para siswa. Keuntungan lain yang akan diperoleh, udara akan semakin segar dan lingkungan sekolah semakin tampak asri.

Apakah sekolah dengan wajah yang sejuk, segar, dan asri seperti itu belum ada? Pasti sudah. Tetapi, kita masih terlalu gampang mendapatkan sekolah-sekolah dengan lingkungan yang gersang, yang kering-kerontang di kemarau panjang, debu terbang membuat sesak napas ketika angin datang.

Banyak sekolah yang sudah hijau oleh rimbun tanaman hias dan pepohonan, tetapi masih memperlihatkan bahwa belum sepenuhnya dikelola dengan wawasan lingkungan yang baik. Ciri-cirinya antara lain, pohon-pohonnya seragam, begitu pula tanaman di dalam pot. Tidak menonjolkan keanekaragaman. Dengan demikian, fungsinya sebagai media pembelajaran juga tidak bisa dioptimalkan.

Sekarang ini lingkungan hidup menjadi isu global yang makin mengemuka. Diperlukan keterlibatan semua pihak untuk menyelamatkan lingkungan dari bahaya kehancuran. Kerusakan lingkungan itu sudah sekian lama berlangsung di sekitar kita. Bahkan, dari tahun ke tahun korban jiwa makin banyak saja jumlahnya. Oleh karenanya, tidak bisa ditawar-tawar lagi, sekolah mesti berada di garda depan untuk menyiapkan generasi yang ramah lingkungan. Dan itu tidak cukup hanya dengan teori bertumpuk-tumpuk di kepala. Anak-anak, para siswa, mesti dibekali dengan pengalaman yang nyata.

Andai saya jadi kepala dinas pendidikan, program tiga bulan pertama saya adalah menghijaukan sekolah-sekolah, pokokmen lembaga pendidikan, dari PAUD hingga perguruan tinggi. Pertama-tama akan saya panggil kepala sekolah untuk menerima pesan wanti-wanti, agar dalam tiga bulan ke depan tidak ada sebuah pun lembaga pendidikan di wilayah saya yang tidak ramah lingkungan. Harus hijau. Pokoknya hijau.

Sebagai seorang kepala dinas pendidikan, saya pasti akan malu, semalu-malunya jika sekolah-sekolah di wilayah saya justru akan menjauhkan anak-anak dari bumi yang mengandung dan membesarkan mereka. Mereka, bocah-bocah itu, sebagian besar lahir dari keluarga petani. Lalu, ketika lulus SMP atau SMA, biasanya mereka akan lebih suka gledar-gleder tidak juntrung di rumah, di luar jam sekolah mereka.

Ketika lulus SMA atau bahkan selesai kuliah, mereka akan melihat orangtua sendiri sebagai orang aneh. Maksudnya, bagi mereka bertani adalah pekerjaan aneh. Beruntung jika mereka segera mendapatkan pekerjaan di kota. Kalau keadaan memaksanya tetap berada di desa, tetap menyusu orangtua dan tidak mau bertani, ndhak ya ming nyepet-nyepeti mata? Saya tidak mau lagi ada pemandangan nyepet-nyepeti seperti itu.

Sebulan kemudian diam-diam saya berkeliling menengok sekolah-sekolah yang ada di wilayah saya. Saya hanya bisa tersenyum kecut, ketika menyadari semua lembaga pendidikan di wilayah saya sudah berseragam warnanya: hijau. Yang pertama-tama mereka beli ternyata cat, bukan bibit tanaman.*

TINGGALKAN KOMENTAR