Tuesday
29 September 2020
Njajah Desa Milang Kori


Nyolong Kayu di Bendungan, Trenggalek Jadi Bengawan

Sebuah Esai dari Randy Mahendra terbit pada 27 Agustus 2020 — Artikel ini dibaca normal dalam 2 menit.

Ketik ‘Bendungan Trenggalek’ di Google Maps di gawai Anda. Maka tampak topografi Bendungan. Salah satu kecamatan di Trenggalek dengan ketinggian 750 mdpl.

Dari potret topografi Bendungan  di Google Maps itu, yang menonjol adalah hutan. Rumah penduduk tampak saling berjauhan. Terlihat dari atas, rumah penduduk itu seperti berada di tengah-tengah hutan. Jalan raya pun terhalang oleh hutan.

Bendungan adalah hutan.  Pohon-pohon tumbuh di lereng bukit. Menahan laju air saat musim hujan datang.

Potret Bendungan di Google Maps itu merupakan gambar membeku. Tetapi Bendungan itu nyata. Terdapat cerita. Ingat banjir tahun 2006 di Trenggalek?

Tercatat sebanyak 16 orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor pada Kamis dini hari itu. Dari 15 orang itu, 13 di antaranya  merupakan warga Bendungan. Mereka tertimbun longsor.

Saat itu, seorang teman yang tinggal di asrama di Dusun Darang, Tamanan, Trenggalek. Dia ingat saat itu hari Kamis, tanggal 20 April dini hari. Dia sedang tidur tidur di kamarnya. Tiba-tiba air meluap dari Sungai Ngasinan masuk ke kamarnya. Jarak asrama dengan sungai hanya 400 meter. Air sungai itu cepat meluap naik hingga menggenang lebih dari 3 meter.

Dia menunjukkan dokumentasi soal banjir itu ke saya. Saya melihat, orang-orang di kelurahan itu harus naik ke lantai dua. “Itu terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari,” katanya.

Dua pekan setelah itu, seorang wartawan melaporkan hasil liputan di Kecamatan Bendungan. Ia mendapati orang-orang kedinginan di kantor kecamatan. Sebanyak 226 warga. Mereka saling berdesakan. Salah satunya adalah Tukiyem dan anaknya. Dia sedang menyusui anaknya yang berusia tiga bulan.

“Saya mulai tak kerasan,” kata Tukiyem kepada wartawan itu.

Wartawan itu juga menyaksikan pohon di bukit di Bendungan nyaris habis.  Lahan di perbukitan Bendungan hanya dijejali ubi jalar, jagung, dan rumput gajah. Tapi saya tak tahu tepatnya di sebalah mana. Sebab di Bendungan begitu banyak bukit. Jika wartawan itu berkendara dari arah kota Trenggalek, saya menduga lereng yang dimaksud adalah lereng menuju kantor kecamatan bendungan.

Jauh sebelum itu, pada tahun 2002. Salah satu tetangga saya masuk bui. Ia kepergok mencuri kayu sengon milik Perhutani.

Perlu diketahui, di desa masih sedikit yang punya dinding gedong. Mereka pikir kayu itu mereka curi untuk bikin dinding atau bahasa lokalnya blabak. Bukan untuk dijual. Tetangga saya itu yang masuk bui itu, hanya salah satu dari puluhan gerombolan di desa saya. Dia tertangkap, tapi yang lain tidak.

Pencurian  tak hanya dilakukan oleh warga di desa saya. Nyaris seluruh warga desa di Bendungan melakukan hal yang sama. Melakukan pencurian kayu milik Perhutani. Sehingga pohon-pohon yang tumbuh di lereng bukit itu habis.

Setelah saya baca berita majalah Tempo edisi 1 Mei 2006, saya jadi tahu, bukan hanya warga desa yang mencuri kayu. Dari berita berjudul Kongkalikong Mengundang Banjir itu, justru oknum Perhutani dan pengusaha terlibat pencurian kayu. Persekongkolan antara pengusaha dan oknum Perhutani ini yang dijadikan contoh oleh masyarakat. Untuk ikut menebang kayu.

Sementara itu, dari data tahun 2005, hutan yang rusak di Trenggalek mencapai 22.500 hektar. Itu akibat aksi penjarahan hutan besar-besaran yang terjadi pada 1999-2005.

Sementara itu, pada Januari 2006, Mabes Polri, Polda Jawa Timur, dan Polres Tenggalek melakukan operasi Hutan Lestari. Ada 29 penebang kayu ilegal dan satu pengusaha besar bernama Supardi yang langsung ditahan di Mabes Polri.

Dari hasil penyelidikan, Supardi mengaku menyetorkan kayu jarahan ke sejumlah cukong lainnya. Salah satunya adalah Edi Susanto, warga Pare, Kediri. Sayangnya, dalam operasi itu tak menyebutkan oknum Perhutani ada yang ditangkap.

TINGGALKAN KOMENTAR