Friday
10 July 2020
Njajah Desa Milang Kori


Kapan Kita Ajeg Menulis di Nggalek.co Lagi?

Sebuah Esai dari Trigus D. Susilo terbit pada 18 Maret 2020 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Surur ki jan koclok, setelah hampir setahun jarang-jarang kumpul di markas nggalek.co, karena melakoni kewajiban sebagai dosen di Kota Malang, tahu-tahu ia datang di markas. Kedatanganya tidak spesial dan masih seperti biasa, ia foto selfie dan mengirimkan pesan WA “Aku nek kene”. Ia pulang untuk memenuhi undangan mengisi workshop jurnalistik di Gedung NU, Trenggalek. Dan juga masih tak lupa meneror kawan-kawannya supaya rajin menulis di nggalek.co.

“Dod, ayo nulis. Awakmu wis jebol nulis, lo. Wis batal sebagai manusia yang konsisten menulis setiap bulan, katanya ketika kami sudah duduk bersama sambil menikmati Kopi Jimat.

“Loh. Emange Sampeyan udung jebol, Mas?” tanyaku padanya, bermaksud tidak mau kalah dengan tuduhannya.

Tiba-tiba ia mengambil laptop, membuka portal nggalek.co menuju laman di mana judul artikel, nama penulis dan waktu menulis dipajang. Ia mencari-cari bulan di mana saya tidak menulis, mungkin untuk menunjukkan bukti pada saya. Anehnya ia menghitung secara manual tulisan-tulisan yang tidak ada pada bulan tertentu, padahal di web tersebut sudah ada laman ringkasan.

Nah, iki lo wis ping telu olehmu ndak nulis” katanya dengan bangga. Saya tidak merespon. Lalu ia melanjutkan mencari bulan di mana ia tidak menulis. “Hahaha, aku yo jebol peng telu” lanjutnya sambil berekspresi lucu.

Memang, semenjak nggalek.co tanpa sengaja dibuat, saya dan Mas Surur berkomitmen untuk rajin menulis. Komitmen ini seakan menjadi perlombaan antara saya dan dia, bagi siapa pun yang jebol (tidak membuat karya tulis dalam sebulan), maka ia kalah. Dan ternyata persaingan ini nanti malah membuat saya produktif menulis.

Bulan Maret, tanggal 12, tahun 2016, nggalek.co tanpa sengaja disepakati untuk dibuat. Dan di bulan Maret tahun 2020 ini, nggalek.co berumur 4 tahun. Jika dianalogikan sebagai anak kecil, nggalek.co lagi tengil-tengilnya, pencilaan dan banyak energi. Seharusnya lebih banyak muncul opini, feature, esai, reportase, yang dilahirkan oleh para penulisnya. Namun faktanya lain, nggalek.co tak berkembang dengan baik, namun juga tidak bisa dibilang mati. Mungkin merujuk dengan bahasa kekinian yang disumbangkan world bank, kondisi ini bisa disebut dengan istilah stunting.

Kalau dihitung-hitung, ternyata saya dan Mas Surur sudah menulis setiap bulan tanpa jeda di nggalek.co selama 3,5 tahun. Di saat penulis-penulis lain nyerah menanggalkan komitmennya dahulu, kami masih ajeg menulis. Motivasi kami adalah untuk tidak memutus keasyikan persaingan.

Oh ya, soal bagaimana komitmen dibuat di nggalek.co, silakan baca artikel ini https://nggalek.co/2018/04/07/apa-untungnya-menulis-di-nggalek-co/. Di sana terdapat nama Androw, Sang Guru Agama di sebuah SD. Dulu ia bersemangat untuk membuat diyat (denda) bagi siapa saja yang tidak menulis, tapi akhirnya…. ah sudahlah. Sampai di sini saya paham pesan sahabat Nabi, Ali Bin Abi Thalib. Beliau berkata: “Jangan melihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan.” Mudah-mudahan dia masih punya stok guyon banyak sehingga bisa mengerti kenapa saya menulis ini.

Menulis setiap bulan tanpa henti, bukan perkara mudah. Penulis harus memiliki stok gagasan melimpah guna diurai menjadi tulisan menarik. Di masa awal-awal nggalek.co berdiri, saya dan Mas Surur sering keliling; dari desa ke desa untuk mengais data untuk dituliskan. Dari situ, menulis terasa lebih mudah dan menggairahkan. Sebenarnya ini adalah cara dia mengajarkan kepada saya untuk melihat objek dan memilih sudut pandang yang menarik, guna digoreskan menjadi tulisan.

Percakapan-percakapan yang kami lakukan, nyatanya bisa memberi sumbangsih gagasan bagi saya, dan tentu saja kepada Misbahus Surur sendiri. Meminjam pemikiran Edy Pang waktu masih di MTs (mungkin dia sudah lupa dengan celotehannya), bahwa hubungan antara yang diajari dan yang belajar, seperti halnya hubungan stalagmit dan stalaktit; yang di atas dan yang di bawah sama-sama tumbuh dan berkembang.

Keasyikan menulis pada diri saya ini, lama-lama melemah. Mas Surur lebih banyak tinggal di Kota Malang bersama istrinya, sedang saya masih setia di Trenggalek. Kebiasaan-kebiasaan seperti bertukar pikiran, ngompori untuk membaca buku ini-itu, blusukan dan bertemu kawan-kawan lain tak lagi bisa dilakukan. Bahkan, ejek-ejekan seperti “bulan iku aku wis nulis. Endi tulisanmu?” tak lagi terdengar sebanyak dulu.

Pun dengan yang lain. Saya beropini bahwa rutinitas pekerjaan yang mengikat adalah belenggu bagi kaum yang suka bergerak. Narasi pikiran tidak lagi banyak membicarakan alam sekitarnya, justru yang banyak menyedot pikiran adalah tentang “keakuan” diri sendiri.

Bahkan yang lebih gendeng, ketika tanpa sadar terjebak dalam “aku berkumpul untuk kepentingan aku sendiri, bukan untuk kepentingan perkumpulan.” Jika demikian yang terjadi, berkumpul pun tak mampu menciptakan hal istimewa, tapi sebagai wujud mengeksiskan diri semata.  Dalam kasus ini, hampir saja nggalek.co tak lagi banyak dibicarakan oleh para pendiri dan pegiatnya.

Tapi terlalu menyindiri mereka yang tengah serius bekerja bukan hal bijak. Orang kerja kok diharapkan menulis, la terus kapan bekerjanya. Kecuali bagi mereka yang pekerjaannya memang menulis. Bekerja untuk menafkahi keluarga hukumnya wajib, sedang menulis hukumnya banyak dan cenderung dihukumi mubah saja. Jadi, memang lebih utama bekerja ketimbang menulis. Tapi ya mbok aja nemen-nemen ta lah. Waktu bekerja kita tidak sampai 24 jam.

Kehadiran Surur di Trenggalek selama 3 hari, memicu saya untuk menulis lagi. Ini pertanda baik, meski diksi “ayo nulis” yang terus disuarakannya, membuat saya kesal. Namun efektif untuk merangsang pikiran tengil saya untuk dituliskan, meski objek yang saya tulis justru malah dia sendiri, bukan yang lain.

Ulang tahun nggalek.co ke-4 ini nyaris sunyi, sepi seperti pencalonan bupati dan wakil bupati Trenggalek tahun ini. Sebagai salah satu pendirinya, saya tidak tega sampai ia (nggalek.co) lunglai, lemas tanpa tenaga. Ia harus ceria kembali seperti awal-awal berdiri, harus ditenagai oleh tulisan-tulisan menarik. Mengingat, nggalek.co adalah media yang tercipta karena campur tangan Tuhan serta sebagai panggung terakhir bagi kawan-kawan yang galau mengarungi kehidupan.

Selamat ulang tahun nggalek.co

Cah, ayo nulis.

TINGGALKAN KOMENTAR