Meruntuhkan Nggalekdotco dengan Semangat Sumpah Pemuda

17
Meruntuhkan Nggalekdotco dengan Semangat Sumpah Pemuda

Di penghujung Oktober, sebagai pemuda Indonesia kita disuguhi semangat dari Peringatan Hari Sumpah Pemuda. Peringatan yang telah memasuki angka yang tidak lagi muda, yaitu peringatan ke- 92 tahun. Angka ini diambil dari pelaksanaan Kongres Pemuda yang dilaksanakan pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Sebuah ikrar cita-cita putra-putri daerah untuk ber-tanah air, berbangsa dan berbahasa satu, bernama “Indonesia”. Momentum itulah yang menandai ikrar pemuda dari berbagai daerah, latar kesukuan, kelompok dan organisasi, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan tahun 1945.

Namun tulisan ini secara khusus tidak untuk mengulas mengenai Peringatan Sumpah Pemuda, melainkan relevansi semangat nggalekdotco sebagai laman yang digawangi anak-anak muda yang mengaku progresif. Jika Sumpah Pemuda adalah spirit yang hadir bersama gejolak muda yang mengakumulasi pemikiran dan pandangan yang jauh, untuk sebuah cita-cita besar melalui gerakan nyata yang kuat, lewat persatuan di atas perbedaan dan status kedaerahan. Maka, apa relevansinya untuk nggalekdotco hari ini? Memang siapa mereka?

Nggalekdotco sejauh yang saya tahu (tolong saya diingatkan jika keliru) adalah media lokal di Trenggalek dengan elaborasi kebudayaan, progresivitas, pemikiran, pengetahuan, cinta, dan kearifan lokal. Sebuah media yang tidak menerima adsense iklan sebagai bantahan atas mesin giling kapitalisme dalam memuaskan pembaca dengan tepuk tangan pujian. Kehadirannya sebagai warna atas keberagaman lokalitas dan kemajemukan manusia di dalam keberagaman itu sendiri.

Media ini kemudian banyak menampilkan wajah penulis dari berbagai bidang kajian, baik dari meraka yang berasal dari Trenggalek maupun ia yang memiliki pandangan akan ragam budaya Trenggalek. Sebuah kebudayaan yang tak terpisah dari manusia sebagai subjek kehidupan dan elemen yang tercipta lewat keseharian yang hidup.

Kemarin, dalam pandangan subjektif saya, nggalekdotco tidak hanya menjadi media yang menayangkan bagaimana kemampuan penulis dalam menarasikan keseharian melainkan ruang belajar yang dialogis dan kritis. Baik melalui gagasan yang ditawarkan dari cara pandang atas fenomena dalam dinamika sosial-politik, maupun lewat diskusi yang hadir melalui serangkaian tulisan yang bisa saling bantah dalam berbagai perspektif melalui kajian keilmuan.

Tentu hal tersebut hadir, jika kita memahami konsep dialogis pemikiran, di mana tesis akan selalu menghadirkan antitesis dari yang lain. Dengan konsekuensi logis mampu melahirkan sintesis baru sebagai sebuah pembelajaran sepanjang hayat dan relevansinya dengan semangat jaman. Tentu pemikiran di atas hanya subjektif penulis belaka, dangkal dan bisa berubah, karena hari ini saya juga sepakat untuk turut meruntuhkan nggalekdotco.

Dengan kemunduran itu dan pada momentum inilah, saya bersemangat Merayakan Keruntuhan nggalekdotco di Hari Peringatan Sumpah Pemuda. Ucapan saya di atas bukan tanpa sebab, melainkan sebuah kesadaran akan tidak pentingnya nggalekdotco di tengah-tengah kita dalam bermasyarakat. Ayolah kita sadar dan ndak usah baper membaca ini, kemunduran nggalekdotco sudah selayaknya diterima secara kesatria yang kalah perang di medan laga. Seperti kesadaran para penulis di tengah kesibukan mereka yang berjibun bahwa meluangkan waktu menulis di nggalekdotco memang tidak pernah memberi kepuasan apa-apa, kecuali tulisannya ditayangkan.

Mungkin ini yang membuat saya malas menulis. Lagian ngapain orang harus repot-repot menulis, menulis kan bukan pekerjaan yang dapat mengubah sesuatu? (udah nggak mengubah apa-apa, tidak dapat apa-apa lagi..)

 Nggalekdotco bukan komunitas menulis, lalu kenapa menulis di nggalekdotco? Sebagai penulis yang sudah males menulis lagi di nggalekdotco saya punya tiga keyakinan kepenulisan. Pertama, penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik, baik itu membaca teks, kondisi sosial maupun kemampuan membaca secara mendalam atau bisa kita sebut “menganalisis”. Kedua, membaca dan menulis tak ubahnya seperti pola makan dan gerak alat pencernaan; (banyak makan-sedikit buang air besar, menandakan pencernaan tidak sehat) sedang (sedikit makan-banyak buang air besar, juga menandakan pencernaan tidak sehat).

Maka, jika polanya sama, orang yang banyak membaca harusnya banyak menulis dan ia yang sedikit membaca jangan banyak-banyak menulis. Ketiga, penulis yang baik tak ubahnya seorang perenang. Perenang yang lincah bukan ia yang banyak membaca teori cara berenang, tapi ia yang rajin berenang. Begitu juga berlaku dalam dunia menulis. Dalam konteks tersebut, nggalekdotco apa sudah mengajari pola semacam ini? Jangan harap.

Dan di empat tahun perjalanan nggalekdotco, saya mengajak seluruh awak, penulis yang hendak tumbuh juga pembaca setia nggalekdotco—kalau itu adauntuk merayakan keruntuhan ini. Mau ini gimmick atau sebuah tahap perbaikan konten, harusnya kita menyadari satu hal bahwa nggalekdotco benar-benar mengalami kemunduran, dan runtuh adalah konsekunsi logis. Bahkan ia telah gagal merepresentasikan dirinya sebagai media yang progresif dengan konsistensi untuk merawat kekritisan dalam keterbatasan: satu hal yang ajaib di era ini.

Dengan tidak banyak yang bisa dibanggakan nggalekdotco di usia ini (kecuali keras kepala yang terus dirawat), westalah ayo kita runtuhkan saja. Wes Bubar… bubar... Kita kemudian bisa membuat perkumpulan nggalekdotco ini sebagai komunitas rasan-rasan, enak tho. Toh mengukuhkan diri sebagai orang kritis dan mampu mengawal kewarasan di tengah dinamika sosial-politik dan realitas yang sumbang, tidak harus menulis yang tidak dibaca orang seperti saat menulis di nggalekdotco ini.

Dian Meiningtias
Kelahiran Watulimo. Anak kesayangan bapak yang jarang pulang ke kampung halaman. Juga aktivis Pers Mahasiswa di IAIN Tulungagung.