Ilustrasi: Sopan santun dan jawanisme | Gambar edited mastrigus
Ilustrasi: Sopan santun dan jawanisme | Gambar edited mastrigus

Sejauh mana kita memahami sopan santun dan lalu mempraktikkannya dalam segi-segi kehidupan sehari-hari? Sejauh mana bentuk ungkapan yang ”nonjok halus” (satire, pasemon) atau ”nonjok kasar” (sarkasme, sinisme) bisa dipertalikan dengan babakan sopan santun? Apa sebetulnya arti kesopanan dan seberapa jauh manfaat sopan santun bagi komunikasi keseharian kita? Apakah saat kita sedang direcoki seseorang sedemikian rupa—dengan gaya dan gesture yang beraneka pula—sampai rasa panasnya bisa memerahkan telinga dan menaikkan suhu tubuh, sejauh mana lantas bisa menjadi bagian dari ketidaksopanan?

Bagaimana cara mengategorikan seseorang sopan atau tidak sopan, melalui gaya dan cara bertuturnya? Apakah dengan pendidikan setingkat S-3, lalu orang dengan sendirinya bisa berkomunikasi secara ”sopan”? Atau, apakah karena dengan hanya lulus SD, orang bisa secara otomatis menjadi tidak bisa bicara sopan. Bagaimana cara pendidikan mengajari orang untuk bertutur-kata sopan?

Apakah pengiyaan terhadap kebijakan dan tindakan ”tidak sebaiknya” yang dilakukan seorang atasan, atau penentu kebijakan (stake holder) tapi jauh dari hati kecil kita—ingin protes namun tak kuasa melakukan lantas tunduk (membisu) dan taat begitu saja mengikuti perintah majikan bagai gerak kepala yang mengikuti suara ritmis tabuhan gendang yang melenakan—merupakan perilaku yang mengandung kesopanan? Bagaimana norma-norma kesopanan (berbahasa) yang kita terima semenjak dahulu sampai sekarang, kita pahami dan praktikkan dalam segi-segi kehidupan sehari-hari?

Apakah nunduk-nunduk bisa dimaknai sebagai tawadhu? Jangan-jangan, bermuka manis di hadapan pejabat atau orang-orang tertentu, juga bagian dari tawadhu. Apa perilaku sopan-santun bisa diparameteri oleh percakapan di medsos misalnya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, bisa kita jawab sendiri sesuai argumen masing-masing. Boleh panjang; juga boleh pendek, tentunya sesuai kadar pengetahuan kita tentang konsep kesopansantunan itu.

Baiklah, saya turut berkomentar ihwal sopan-santun. Sopan santun—jika merujuk dari KBBI—memang berarti budi pekerti yang baik; tata krama; kesusilaan. Pengertian yang sangat konseptual dan kontekstual tentu saja.

Tapi, saya sering mengamati bahwa orang yang gampang muringan, terburu mendebat orang dalam percakapan di medsos, di antaranya dengan dasar gagasan yang belum benar-benar ia pahami dan bahkan ingin diskusikan, hingga makin tak jelas saja jluntrungnya. Adakalanya, karena kurang memahami gaya komunikasi, atau usaha mengalihkan dialog hingga merembet ke tema tak relevan.

Feodalisme, dalam varian tindakannya, bisa terdeteksi salah satunya dari perilaku atau sifat ”ingin dihormati” dan ”disopani” juga. Gaya ini, barangkali termasuk bagian dari kultur feodalisme tak tersurat. Kita masih ingat di era Pak Soeharto pernah muncul istilah ABS (Asal Bapak Senang). Perilaku ini mula-mula berhubungan dengan ketakutan bawahan untuk berkata sesuai realitas di lapangan atau karena faktor takut pada atasan lalu seseorang bertindak ”sopan”. Yang lama-lama membawa pada perilaku bagaimana si bawahan menjilat atasannya secara ”sopan”. Dan, kian ke belakang ABS menjadi perilaku murni seorang bawahan yang tengah menjilat atasannya: pejabat dan atau pimpinan-pimpinan tertentu pemerintahan.

Bahkan, seringkali, dalam kasus ABS, bukan pejabat atau si atasan yang keliru, justru yang salah adalah perilaku bawahan yang terlalu demen ber-ABS ria (bersopan ria) itu, dalam berbagai bentuknya.

Saya pernah mengamati seorang dengan cara tertentu membentengi atasannya: dengan tindakan mengevakuasinya dari pengaruh masyarakat, yang belum tentu pemimpin itu sendiri sukai atau setujui. Sehingga, kebijakan seorang pemimpin atau pejabat yang mestinya obyektif dan bisa bertemu dengan beragam pendapat demi pengayaan, preferensi, dan mencari banyak hal yang tak terlihat sebelumnya (sesuatu yang paling bagus di antara yang bagus) tak terlaksana. Akibatnya, membuat arah kebijakan pemimpin, menjadi kekurangan data dan referensi, yang sangat mungkin membuatnya—dalam memutuskan kebijakan—kurang fungsional, proporsional serta tepat sasaran.

Perilaku ABS memang kerap dilakukan sekadar sebagai tindakan atau aktivitas untuk menyenangkan pemimpin, atau sarana ber-PDKT. Meski, apa yang dilaporkan bawahan bisa saja tak sesuai kenyataaan. Seorang yang melakukan tindakan ber-ABS ini biasanya adalah seorang hipokrit. Mereka kerap bermuka manis di depan layar tapi nyengir atau mencibir di belakangnya. Dan, perbuatan ini tampaknya kalau dipelihara bisa menembus jalur lain yang lebih terjal, yakni pertaliannya dengan watak yang dulu pernah disinggung Pramoedya Ananta Toer sebagai ”Jawanisme”.

Jawanisme, dengan merujuk Pram, adalah perilaku taat dan setia yang membabi buta pada atasan. Saya membayangkan, perilaku yang sempat didefiniskan Pram itu, adalah semacam rasa patuh yang terlampau nunduk-nunduk penuh rasa hormat semu ditambah pembawaan gesture tertentu yang memperlihatkan kepatuhan itu. Tapi tidak begitu jelas dari aspek apa, yang dijadikan ukuran atau pertimbangan orang lantas menunduk dan memuji-muji seseorang. Penghormatan itu kerap malah punya tendensi sekadar urusan jabatan, posisi, pangkat hingga urusan perut. Jawanisme sendiri, kata sastrawan kelas nobel itu, bisa menghasilkan tindakan fasis. Atau yang kemudian oleh Pram, disebut sebagai ”fasisme Jawa”. Tentu saja setelah praktik nunduk-nunduk itu diamalkan dalam lingkar kekuasaan (politik).

Apakah tindakan dan perilaku ini hilang dengan berlalunya zaman. Tentu saja tidak. Ia masih kerap muncul dan—baik secara sadar atau tidak—sering kita lakukan. Seorang masyarakat biasa, umumnya orang tua, ketika kedatangan seorang pejabat atau orang yang dianggap penting dan layak dihormati, misal polisi, tentara atau pejabat tertentu, yang tengah berkunjung ke desanya dan apalagi mampir rumahnya, tentu saja punya rasa ewuh-pakewuh dan kerap berkecenderungan melakukan tindakan seperti ini: nunduk-nunduk menghormati. Sikap seperti ini sering dilakukan bukan karena peran dan kebaikan yang telah mereka torehkan, melainkan sering dilakukan karena memandang dari aspek-aspek luar belaka: seperti jabatan dan posisi-posisi tertentu yang nge-top di mata orang kebanyakan.

Berbeda dengan misalnya, seorang anggota masyarakat nunduk-nunduk ke seorang ilmuwan, kyai atau tokoh masyarakat yang secara track record diakui punya kapasitas dan jasa terhadap masyarakat, yang tak bisa dipungkiri. Penghormatan itu barangkali bukan bagian Jawanisme, seperti yang diistilahkan Pram. Peristiwa kedua, lebih karena orang dihormati sebab kapasitasnya sebagai tokoh dan ulama yang diagungkan karena belaka keilmuan dan kontribusinya dalam semesta kehidupan. Posisi kedua punya privilese lebih baik dari posisi pertama. Karena sudah jelas perbedaannya, bukan karena alasan posisi jabatan atau nasab, melainkan karena peran-peran tertentu yang tak dimiliki orang banyak, juga oleh orang yang dalam kategori pertama. Dan penghormatan untuk kategori kedua lebih konkrit dan fungsional, ketimbang penghormatan yang diberikan secara lebih untuk kategori pertama.

Ungkapan Pram ihwal Jawanisme ini bisa kita lacak-baca dalam buku ”Saya Terbakar Amarah Sendirian”. Sebuah buku hasil wawancara Andre Vltchek & Rossie Indira dengan Pramoedya Ananta Toer, yang lalu diterbitkan oleh Penerbit KPG. Fasisme Jawa atau Jawanisme inilah yang kata Pram membuat orang mudah bertekuk lutut di hadapan (ke)kuasa(an). Kekuasaan di sini tentu punya makna yang kini dapat melebar dan meluber ke segala penjuru; tak lagi sang penjajah tetapi bisa pejabat, orang kaya (tuan), tuan tanah, dan bisa juga kini barangkali investor asing. Fasisme Jawa inilah, yang kata Pram, kerap membuat orang—di masa lampau—acuh, permisif dan berdiam ketika dijajah lagi dijarah sumber dayanya. Bahkan kepatuhan dan ketundukan ini dulu membuat orang-orang pribumi yang kebetulan ningrat dan bangsawan, turut membantu penjajah menghisap sendiri bangsa dan masyarakatnya.

***

Ketika kita termakan ungkapan atau komentar pedas dari sebuah gagasan yang digelontorkan dengan mengedepankan rasa tersinggung: misal ikut mengomentari pengritik sebagai yang tak sopan (padahal tidak relevan), bahkan terbawa pada tindakan ”logical fallacy: ad hominem (terperosok mengomentari pribadi ketimbang isi gagasan), barangkali, kecuali hobi, juga belaka serangan balik akibat tak nemu gagasan sebanding. Karena ketepatan kebenaran komentar kebetulan menyasar, lalu reflek membuat pagar, ketimbang secara legawa dan proporsional menanggapi isi komentar. Karena, sungguh itu sajalah yang relevan. Ah, sudahlah…

BERBAGI
Artikel sebelumyaBiaya Promosi Itu Mahal, Mak Dhe!
Artikel berikutnyaNasionalisme Kyai Kampung
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).