OpiniTrenggalek Kota Trading

Trenggalek Kota Trading

Saya baru saja mengenal trading, tepatnya baru tertarik menggeluti trading setelah sekian lama berjibaku dengan pertanyaan, “kira-kira apa yang bisa menahan muda-mudi Trenggalek yang terkenal pinter-pinter itu, supaya tetap tinggal di Trenggalek dan memutar ekonomi di Trenggalek? Mereka tidak perlu keluar Trenggalek demi mendapatkan kehidupan ekonomi yang layak?”

Ini bukan kali pertama saya merasa galau dengan pertanyaan demikian, saking mangkelnya dengan kehidupan yang begini-begini saja lantas berbagai keahlian saya dalami, mulai dari menjadi blogger, menjadi pendamping UMKM, menjadi penulis, dan berkumpul dalam berbagai aktivitas kepemudaan yang saya kira bisa mengubah keadaan.

Nyatanya, tidak mudah untuk membangun ekosistem yang seimbang: menciptakan kehidupan yang ideal, mandiri, tidak tergantung pada kekuasaan, namun juga harus tetap menyiapkan ekonomi untuk masa depan. Ini sangat sulit dilakukan. Seideal-idealnya orang, ketika sudah berhadapan dengan ekonomi, tidak banyak yang bisa bertahan.

Teman-teman saya yang semula ketika masih kuliah menjadi singa podium, mampu berpikir kritis dan membangun, serta paling getol menyuarakan ketidakadilan, namun ketika sudah menyentuh pada kehidupan rumah tangga, mereka menjadi diam. Paling banter magang CPNS dan bercokol di sana selama hidupnya.

Saya tidak berkata bawah menjadi PNS adalah perbuatan non-idealis, namun saya hanya menyaksikan kealpaan suara-suara kritis dari para aktivis ini ketika sudah menjadi PNS. Ketakutan mereka adalah mengenai kenyamanan tempat bertugas dan keberlanjutan SK. Jika terus demikian, kita hanya bisa mengulangi siklus yang begitu-begitu saja. Ketika muda idealis, ketika tua pragmatis.

Yang saya sadari dari itu semua adalah hanya tentang ekonomi atau bisa dikatakan lebih keras: semua tentang uang. Uang mempengaruhi kehidupan semua orang. Uang adalah trend bagi masyarakat, ia adalah standar dari kehidupan manusia, baik di desa maupun di kota.

Saya memiliki banyak teman pintar dan memiliki skill mumpuni, misalnya punya skill membuat desain gambar, jago membuat coding yang pastinya menguasai kode-kode logic, teman yang berpotensi membuat rekaman video dan teman-teman lain yang berpotensi bagus dan jarang dimiliki oleh orang lain.

Namun mereka tidak memiliki ekosistem yang cocok di Trenggalek, mereka tidak memiliki lingkungan yang mendukung potensi mereka. Dan bahayanya lagi, mereka tidak kuasa untuk menciptakan lingkungan (ekosistem) yang mendukung skill-skill mereka. Jadinya ketika mereka harus dihadapkan pada kebutuhan ekonomi, mereka menyerah. Bagaimana mungkin, la wong potensi diri utama mereka tidak mampu menyuplai kebutuhan ekonomi yang tidak bisa ditawar-tawar itu. Mereka kalah.

Saya termasuk manusia anomali, dulu selepas sekolah saya membayangkan bahwa kehidupan layak dan membahagiakan orang adalah bekerja di tempat yang bagus (perusahaan besar) dan memiliki pendapatan yang besar. Dan saya mencoba peruntungan itu, saya pergi ke Kalimantan, bekerja di perusahaan bonafit seperti Trakindo Katerpilar dan perusahaan-perusahaan kelas internasional.

Lantas ketika bekerja selama setahun, saya merasakan kehampaan, kerja ikut orang dan menjalani kehidupan yang sama selama setahun (kerja-pulang-kerja-pulang) bukanlah kehidupan yang baik menurut saya. Itu terlalu template dan menjauhkan dari pengetahuan-pengetahuan yang lain. Kesimpulan inilah yang akhirnya membuat saya berpindah-pindah kerja di perusahaan. Lima (5) tahun di kalimantan, 6 perusahaan yang saya masuki. Sungguh bukan hal baik yang harus diikuti.

Akhirnya saya memilih menjadi pengangguran. Itulah anomali yang ada pada diri saya. Pengangguran di sini bukan berarti saya sama sekali tidak memiliki aktivitas yang menghasilkan uang. Hanya saja, saya tidak membelenggu hidup dengan menyerahkan pada pemilik perusahaan. Saya mengendalikannya sendiri.

Halah tulisannya jadi ke mana-mana.

Jadi intinya, manusia butuh pendapatan (uang) untuk bertahan hidup. Setelah pendapatannya cukup ia akan mampu menjalani kehidupan lain, selain bekerja. Namun bagaimana caranya supaya kita bisa memenuhi pendapatan ini.

Oke, di Trenggalek sedang mengalami bonus demografi, anak-anak mudanya banyak, yang sudah lulus kuliah dari luar kota juga banyak. Mereka ada yang memiliki pemikiran yang sama dengan gagasan yang telah saya tulis di atas: bagaimana cara bertahan hidup di Trenggalek dengan skill yang kita miliki.

Teman-teman muda ada yang membuat warung kopi nyentrik lagi mahal. Harganya mahal jika dibandingkan dengan warung kopi sachetan. Anak-anak muda mampu mengadopsi gagasan kapitalis dengan baik, bagaimana cara menjual barang yang sama namun memiliki harga berbeda. Ya, mereka memoles kopi-kopi ini menjadi layak untuk diperbincangkan dan seminarkan.

Komunitas kopi dalam dua tahun terakhir cukup berkembang di Trenggalek. Ini yang saya maksud dengan ekosistem. Percobaan membuka warung kopi yang harga kopinya mahal ternyata berhasil, peminat dan pembelinya banyak. Rata-rata anak muda yang lebih doyan mengonsumsi brand ketimbang mengkonsumsi kopinya. Konon, brand ini bisa mengubah rasa dari kopi yang ada.

Tapi dengan berkembangkan warung kopi, memunculkan persaingan di antara pemilik warung kopi itu sendiri. Mereka berebut konsumen. Konsumennya terbatas, tapi warung kopinya semakin banyak. Ada yang mampu bertahan dengan mempertahankan konsumennya, namun warung kopi yang gulung tikar juga banyak.

Tidak apa-apa, karena memang bisnisnya tidak Blue Ocean, bisnis semacam ini disebut sebagai strategi bisnis red ocean. Ini analisa strategi bisnis yang pernah saya dalami ketika mengikuti Training of trainer (TOT) pendamping UMKM dulu. Blue Ocean Strategy adalah strategi yang menekankan perusahaan untuk tidak memenangkan persaingan dengan cara melakukan strategi head to head dengan pesaing. Dengan arti lain, Blue Ocean Strategy adalah strategi melepaskan Anda dari kondisi Red Ocean. Kondisi Red Ocean adalah kondisi di mana adanya persaingan sangat ketat untuk mendapatkan pasar yang sama dengan kompetitor.

Di Trenggalek, budaya persaingan bisnis macam red ocean strategi ini banyak sekali, jika ada orang ramai jualan bakpia, pasti akan ada penyaing bakpia lain, ini terjadi di Kecamatan Pogalan. Warung kopi dan café-café juga begitu, persaingannya ketat, kalau ada warung kopi ramai, pasti akan ada warung kopi lainnya. Angkringan juga mengalami kondisi sama, sekarang di Trenggalek banyak angkringan-angkringan di pinggir jalan.

Ekosistem memang terbentuk, namun apakah ekosistemnya sehat? Belum tentu, untuk membuat ekosistem yang baik, kita harus meniadakan persaingan. Kita harus masuk pada strategi bisnis Blue Ocean. Tapi apakah persaingan itu bisa ditiadakan?

Tidak bisa, karena itu fitrah, kita ini lahir di dunia atas hasil persaingan berjuta-juta sperma, kita yang lahir ini adalah pemenang. Sperma yang lain mati karena tidak bisa menggapai indung telur. Mati karena kalah dari kita yang bisa lahir ini.

Tapi ini bukan cerita tentang persaingan sperma, ini adalah cerita bagaimana kita bisa bertahan hidup di Trenggalek dengan memakai skill yang kita miliki namun tidak dengan saling membunuh, jika perlu kita saling support. Apakah ini bisa?

Mari kita coba, bagaimana jika kita menjauhkan persaingan itu. Saingan tetap ada, tapi bukan kita yang bersaing, yang bersaing biar mereka yang punya kapital besar, kita saling support saja. Kita bermain blue ocean untuk di Trenggalek.

Lantas bagaimana cara untuk bisa mewujudkan gagasan ini?

Saya menggabungkan beberapa strategi yang saya ketahui, ada beberapa kata kunci yang sudah saya sebar di paragrap atas, yaitu: Ekomomi, Blue Ocean, Ekosistem, Idealisme, Kapital, Skill.

Jika saya terjemahkan ke dalam bahasa sederhana menjadi begini, bagaimana kita bisa bertahan hidup di Trenggalek (ekonomi) dengan menjauhkan persaingan (blue ocean) untuk mendapatkan ekonomi yang cukup (kapital), supaya tetap bisa menjaga potensi besar yang kita miliki (skill) dan merdeka dengan hidup yang kita miliki (idealisme)? 

Baik, contoh kasus, berapa rata-rata uang yang kita butuhkan untuk bisa bertahan hidup di Trenggalek? Saya menetapkan angka Rp.100.000/hari. Jika kita kalikan 30 hari, maka kita akan menemukan angka Rp.3.000.000,-. Angka yang lebih tinggi dari UMR (upah Minimum Regional) di Trenggalek.

Jika kita bisa mendapatkan uang sebensar Rp.100.000,- perhari tanpa menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk bekerja, kita bisa memakai banyak waktu dan tenaga untuk bisa menekuni potensi diri (skill) yang kita gemari. Kita tidak perlu berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang dari skill yang kita miliki, atau dalam bahasa lain, tidak menuntut potensi diri untuk menghasilkan uang.

Tapi bagaimana itu bisa diwujudkan?

Jangan terburu-buru dulu, ini barulah gagasan yang saya tawarkan. Dan yang saya tawarkan adalah membuat ekosistem trading di Trenggalek. Apakah ini relevan menjawab dari apa yang saya tawarkan tadi “bagaimana kita bisa bertahan hidup di Trenggalek (ekonomi) dengan menjauhkan persaingan (blue ocean) untuk mendapatkan ekonomi yang cukup (kapital), supaya tetap bisa menjaga potensi besar yang kita miliki (skill) dan merdeka dengan hidup yang kita miliki (idealisme)?

Trading adalah aktivitas jual beli yang tersistem, asal kita punya modal (uang) kita bisa berdagang. Trading yang saya maksud di sini bukan perdagangan layaknya di pasar pon, jika seperti itu kita harus memiliki kios, modal dan barang. Ujung-ujungnya cara semacam itu akan membuat persaingan antar tetangga juga.

Trading yang saya maksud adalah tentang perdagangan dunia, seperti menjual belikan mata uang Dolar dan Poundsterling atau yang lebih kita kenal dengan nama valuta asing. Kita bisa memanfaatkan fluktuasi dari kedua mata uang yang bernilai berbeda. Atau kita bisa memperdagangkan saham perusahaan untuk mendapatkan untung. Tidak usah berpikir muluk-muluk dengan angka milyaran, kita hanya fokus pada 100.000 perhari.

Apakah trading sulit? Sudah pasti itu sulit, tapi kata sulit hanya bagi mereka yang tidak tahu ilmunya. Seperti menulis, apakah kamu bisa menulis? Bagaimana kamu tidak bisa menulis, tapi saya bisa menulis. Itu hanya berkaitan dengan pengetahuan saja. Saya bisa membuat website dengan baik, tapi kamu tidak bisa membuat website, itu karena ada perbedaan ilmu di sini.

Ilmu trading bisa dipelajari, tidak membutuhkan waktu selama 9 tahun seperti pendidikan wajib belajar di negara kita. Kita bisa mempelajari ilmu dasarnya dengan waktu singkat. Jika Anda bisa berpikir, membaca dan menulis, saya rasa ini bisa kita lakukan. Ilmu trading tidaklah sulit bagi para sarjana. Saya kira lebih sulit lulus ujian CPNS (mohon maaf tapi saya belum pernah daftar atau ikut ujian PNS).

Kita tidak berbica angka milyaran atau ratusan juga, namun hanya berbicara Rp.100.000,- ya, kawan-kawan. Dan saya rasa itu cukup untuk biaya hidup di Trenggalek. Dengan trading, kita bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam sehari.

Apakah trading tidak ada persaingan? Jelas persaingan ada di mana-mana, saya telah menjelaskannya di atas, namun persaingan ini tidak dengan tetangga kita sendiri. Persainganya tidak seperti persaingan antar-warung kopi, bakpia atau angkringan. Area persaingan trading ada di jauh sana, di kota lain, bahkan di negara lain.

Persaingan trading adalah bagi mereka pemilik kapital besar (perusahaan, negara, skala modal besar), bagi kita yang hanya mengharap Rp.100.000,-/hari, tidak perlu bersaing, apalagi sampai mendatangi dukun supaya produk bakpia tetangga tidak laku atau warung makan tetangga basi. Kita malah bisa saling dukung dan berbagi informasi, seperti informasi apakah US Dollar akan naik atau turun dibandingkan dengan nilai XAU (emas).

Saya sangat tertarik untuk belajar trading karena dorongan dari beberapa orang untuk memutar uang yang mereka miliki. Saya menolak karena sama sekali tidak punya ilmunya. Kemudian saya menghubungi teman lain dan bertanya apakah memiliki teman yang pandai trading dan sudah lama menekuni dunia itu.

Teman saya tadi kemudian mengundang temannya yang sudah lama bermain trading datang ke Trenggalek. Untuk memanfaatkan momen itu, saya mengundang beberapa teman untuk belajar bersama. Pertemuan kecil tersebut lantas membentuk ekosistem kecil trader. Di situ kami diajari untuk berdagang mata uang alias forex.

Karena memiliki mentor yang baik, cerita harian kami adalah tentang profit bukan rugi. Kami setiap hari profit beberapa persen dari modal yang kami perdagangkan. Lantas saya berpikir Jika setiap individu yang saya kenal, memiliki pengetahuan cara trading dan bisa melakukannya, mereka bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus menanggalkan idealisme mereka. Ini hanya pikiran kecil saya.

Oh ya, saya dan teman-teman sudah beberapa kali membuat usaha bersama, namun usaha tanpa modal besar dan hanya berbekal semangat itu lebih sering mendatangkan kegagalan. Karena tidak semua orang mampu berpuasa (tanpa penghasilan) dalam jangka waktu yang lama.

Dulu saya dan teman-teman membuat usaha marketplace, namanya paditren.com (kini domain ini dibeli perusahaan Cina). Saat itu kami hanya memiliki modal untuk membangun website. Usaha ini gagal karena dalam beberapa bulan tidak mampu memberikan profit kepada kami sendiri.

Kami juga membuat beberapa website bagi para penulis untuk menghasilkan uang dari iklan. Nyatanya usaha ini tidak mampu mendatangkan keuntungan, karena terbentur antara idealisme dan bisnis. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan website sendiri tersebut sebagai web non profit: untuk mempublikasikan karya tulis. Lantas, dari mana para pengelolannya dapat uang? Padahal mereka membutuhkan uang.

Membuat usaha bersama memang sulit. Di awal, memang lebih mudah karena tidak butuh terlalu banyak modal untuk membayar tenaga dan pikiran. Namun, ini akan sulit bertahan selama usaha bersama tersebut tidak bisa memberikan value bagi para pengelolanya.

Ini sangat berbeda dengan bisnis perseorangan. Mungkin di awal membutuhkan modal besar untuk membeli apa yang tidak bisa kita kerjakan sendiri. Namun ke depannya, baik rugi maupun untung, bisa dikelola sendiri.

Gagasan menjadikan Trenggalek sebagai ekosistem para trader, bagi saya, adalah gagasan yang bisa menjawab kebutuhan Rp.100.000,- untuk biaya bertahan hidup di Trenggalek. Toh, sebenarnya, sudah ada banyak trader di Trenggalek. Hanya saja, mereka masih belum menampakkan diri.

Trigus D. Susilo
Trigus D. Susilohttps://www.mastrigus.com
Lelaki kelahiran Watulimo, Trenggalek. Sejak kecil bercita-cita menjadi "agent of change". Meski hingga saat ini ternyata tidak ada yang bisa dia ubah, bahkan untuk mengubah namanya sendiri.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru