OpiniSeaspiracy 2021: Konspirasi Besar di Laut

Seaspiracy 2021: Konspirasi Besar di Laut

Apa yang lebih misterius di dunia ini selain perempuan? Jawabannya akan beragam, namun saya berani menjawab: lautan.

Bayangkan, ada air yang sebegitu banyaknya hingga mendominasi permukaan bumi sebanyak 71%. Selain luas juga memiliki titik terdalam, yakni lebih dari 11 km dari permukaan dan titik terdalam ini ada di Palung Mariana.

Konon katanya, hingga saat ini manusia masih mengeksplorasi lautan sebanyak 5 % dan 95 % adalah misteri.

Kita bisa berpendapat lautan tidak akan pernah bisa ditaklukan oleh manusia (dalam waktu dekat). Namun lautan bisa dirusak eksositemnya sejak kemarin, bahkan kemarin lusa, seminggu yang lalu, bulan yang lalu, setahun yang lalu, atau puluhan tahun yang lalu.

Ekosistem di laut sangatlah kompleks dan beragam. Daerah geografis juga mempengaruhi ekosistem tersebut. Akan banyak keunikan-keunikan flora dan fauna. Sebuah spesies ada di suatu tempat, namun tidak ada di tempat lain. Atau juga sebuah spesies ada di segala kawasan, namun menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya; bisa berbeda warna, bentuk fisik, maupun organ dalam.

Ada spesies yang mempunyai dampak besar bagi ekosistem laut, yakni paus dan lumba-lumba. Jenis paus dan lumba-lumba sangat beragam dan dari makanannya juga bisa berbeda. Ada yang memakan ikan lain, dan ada pula yang memakan mikroba kecil di laut. Namun pada dasarnya kedua spesies tersebut menghasilkan kotoran organik yang dipakai fitoplankton dalam berfotosintesis selain karbon dioksida dan sinar matahari. Dan fotosintesis ini menghasilkan oksigen yang kita hirup.

Jika paus dan lumba-lumba semakin menipis jumlahnya, maka penghasil bahan organik untuk fitoplankton juga semakin sedikit. Secara tidak langsung fitoplankton kehilangan salah satu sumber bahan dasar ‘makanan’-nya dan membuat fitoplankton sendiri semakin sedikit di lautan. Jika fitoplankton semakin sedikit, maka sumber oksigen yang kita hirup juga semakin sedikit.

Kebanyakan negara di dunia sepakat bahwa membunuh paus dan lumba-lumba adalah hal yang dilarang. Namun ada sebagian negara yang melegalkan pembunuhan paus dan lumba-lumba. Hal ini seperti investigasi Ali Tabrizi dalam sebuah film dokumenter berjudul “Seaspiracy”.

Film dokumenter Seaspiracy rilis pada tanggal 24 Maret 2021 di Netfilx. Film ini di-direct oleh Ali Tabrizi dan diproduseri oleh Kip Anderson melalui Disrupt Studios dan difilmkan oleh A.U.M. FILMS.

Film ini juga bekerja sama dengan organisasi pemerhati lingkungan: Sea Shepherd Conservation Society dan Ecotricity.

Film ini membuka tabir konspirasi besar yang ada di laut. Seperti pembantaian lumba-lumba yang dianggap hama dalam persaingan menangkap ikan di kota pesisir Taiji-Jepang dan pembunuhan hiu untuk diambil sirip sebagai komoditas ekspor yang sangat menguntungkan secara ekonomi, namun tidak secara ekologis.

Banyak sekandal besar di laut yang diangkat dalam film tersebut. Ada perusahaan yang menguasai 40% pasar ikan tuna sirip biru yang kini langka. Dan sebuah perusahaan yang memberikan verifikasi label pada produk makanan laut kalengan “Free Dolphin” yang ternyata hanya palsu dan bisnis belaka.

Lalu ada perbudakan menusia di balik industri penangkapan ikan di salah satu negara di Asia Tenggara. Perbudakan ini sangat melanggar hak asasi, dalam beberapa kejadian ada anak buah kapal yang disiksa kapten kapal untuk terus bekerja siang hingga malam sampai meninggal dan jasadnya disimpan dalam ruangan pendingin bagi yang kurang beruntung jasadnya langsung di buang ke tengah laut.

Penyebab penurunan penyerapan karbon oleh laut juga diangkat dalam film ini. Ternyata industri penangkapan ikan modern memakai kapal yang sangat besar dan jaring besar serta panjang menjadi penyebab rusaknya terumbu karang. Jaring yang panjang untuk menangkap ikan juga menggerus terumbu karang di bawahnya dan beberapa spesies langka ikut terangkat, yang menyebabkan kematian spesies tersebut. Terumbu karang yang selama ini menjadi salah satu penyerap karbon terus berkurang karena industri penangkapan kapal tersebut.

Dan masih banyak lagi hal yang menyedihkan tentang ulah manusia dalam perusakan ekosistem laut yang selama ini menjadi penopang keberlangsungan kehidupan di muka bumi.

Saya sarankan Anda untuk menonton langsung film ini. Saya tidak bisa menjamin bahwa Anda akan benar-benar suka, namun fakta yang diangkat dalam film ini membuka mata kita untuk lebih memperhatikan kelestarian alam.

Manusia akan selalu menggantungkan hidup dengan alam. Kalau kita tidak menjaga alam maka keberlangsungan hidup kita terancam kepunahan masal. Alam akan selalu menang dengan hukum-hukum yang berlaku, dan manusia hanyalah subjek dari alam itu sendiri.

Mari bersama-sama menjaga alam kita.

Salam, kretxtxus a.k.a Beni Kusuma Wardani.

Trailer Seaspiracy 2021:

Beni Kusuma Wardani
Beni Kusuma Wardani
Seorang laki-laki yang mulai menekuni dunia seni visual dan kepenulisan karena tidak tahu mau ngapain.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru