EsaiSudut Pandang Lain tentang Trenggalek

Sudut Pandang Lain tentang Trenggalek

Anggapan bahwa Trenggalek itu tertinggal tidaklah sepenuhnya benar. Di Trenggalek, kita masih bisa mendapatkan lingkungan sosial yang baik.

Mungkin sejauh ini sudah sering kita dengar atau baca tentang pernyataan Trenggalek itu tertinggal secara ekonomi dengan beberapa tetangga kabupaten sebelah. Pernyataan demikian memang terlihat logis dengan kondisi Trenggalek sendiri.

Kebanyakan masyarakat harus pergi merantau ke luar kota bahkan ke luar negeri demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Itu menandakan jika pendapatan masyarakat di Trenggalek tidak begitu baik jika hanya menetap di Trenggalek. Tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup zaman sekarang, hingga harus merantau ke luar kota.

Di Trenggalek jarang ada industri besar yang mampu menampung banyak pekerja—kecuali industri Rokok B*y. Kebanyakan industri yang ada di Trenggalek adalah industri rumahan yang tidak memerlukan banyak pekerja. Biasanya dikerjakan sendiri dan jika memerlukan tenaga tambahan, mereka (pelaku industri rumahan) mempekerjakan tetangga sendiri.

Pohon Pinus di Kecamatan Dongko Trenggalek
Pohon Pinus di Kecamatan Dongko Trenggalek/Foto: Beni Kusuma Wardani

Itu pun tak selamanya bisa bekerja, karena kita tahu sendiri industri rumah tangga tidak bisa stabil seperti industri besar di kota yang besar. Misal industri rumahan bergerak di bidang makanan seperti genjer (rengginang dari singkong), mereka memerlukan pasokan bahan mentah singkong yang biasanya didapatkan dengan membeli dari tetangga atau penduduk sekitar mereka.

Mungkin hal itu bisa diakali dengan mencari pasokan di tempat lain. Namun itu tidak memungkinkan karena keterbatasan informasi atau relasi dan biaya transport yang lumayan tinggi.

Tapi di samping itu semua, limbah yang dihasilkan industri rumahan tersebut relatif kecil dan cenderung tidak membahayakan lingkungan. Seperti halnya industri genjer yang menghasilkan ampas singkong yang jika dibuang langsung di kebun bisa menjadi pupuk karena tergolong organik. Jadi lingkungan di Trenggalek tetap bisa terjaga.

Pemandangan di Kedai Kopi Dilem Wilis Kecamatan Bendungan
Pemandangan di Kedai Kopi Dilem Wilis Kecamatan Bendungan/Foto: Beni Kusuma Wardani

Dengan demikian, kita masih mempunyai ruang hidup yang baik di Trenggalek dan i think is not bad, kita masih mempunyai alam yang lestari meski tidak ada pabrik besar yang malah berpotensi mencemari lingkungan.

Berbeda dengan kota yang mempunyai industri besar yang bisa menghasilkan limbah-limbah berbahaya, seperti sisa pewarna tekstil dan polutan dari cerobong mesin industri. Bisa kita lihat jika dampaknya terhadap lingkungannya juga akan sangat terasa. Belum lagi jika saat proses produksi membuat bising sehingga mengganggu masyarakat di sekitar industri.

Belum lagi dampaknya terhadap masyarakat sosial. Dengan lingkungan industri yang besar akan membuat persaingan di masyarakat untuk dapat terus bekerja seproduktif mungkin. Karena pihak perusahaan suka dengan karyawan yang bisa diperas keringatnya, eh maksud saya: produktif.

Suasana di Kedai Kopi Dilem Wilis Kecamatan Bendungan
Suasana di Kedai Kopi Dilem Wilis Kecamatan Bendungan/Foto: Beni Kusuma Wardani

Ya, itu memang hal bagus. Namun, persaingan di masyarakat yang sengit akan berdampak pada hubungan sosial yang terjalin, semisal saling ingin memanfaatkan satu sama lain bukan saling membutuhkan.

Berbeda di Trenggalek dengan industri rumahannya yang relatif kecil. Hubungan antar-tetangga bisa terjalin dengan baik, karena si pemilik industri tidak akan sebegitu memeras keringat pekerjanya.

Dengan mempekerjakan tetangga, yang kadang masih ada ikatan kekerabatan, bisa saling membantu perekonomian saudaranya sendiri dengan terhormat. Mereka bekerja karena saling membutuhkan dan bisa menciptakan hubungan sosial yang harmonis.

Pemandangan jalan menuju hutan pinus di Kecamatan Dongko
Pemandangan jalan menuju hutan pinus di Kecamatan Dongko/Foto: Beni Kusuma Wardani

Patokan yang dijadikan tolok ukur anggapan bahwa Trenggalek itu tertinggal sebetulnya juga kurang jelas. Karena selama ini yang menjadikan tolok ukur (pada umumnya) tentang kemajuan sebuah kota adalah seberapa besar industri yang beroperasi, bukan seberapa besar kebahagiaan masyarakatnya.

Tak semua anggota masyarakat di kota besar dengan industri yang besar, masyarakatnya bisa bahagia. Banyak masyarakat yang termarjinalisasi di kota besar tidak bisa mendapatkan ruang hidup yang sehat, terbebas dari polusi mesin produksi. Ketimpangan sosial cenderung mereka dapatkan di lingkungan industrial.

Hanya pemilik modal besar dan pekerja yang mau menjilat atasan yang bisa mendapatkan keuntungan lebih. Dan, hey, tidak semua dari mereka yang bekerja adalah masyarakat setempat.

Jadi, anggapan bahwa Trenggalek itu tertinggal tidaklah sepenuhnya benar. Di Trenggalek, kita masih bisa mendapatkan lingkungan sosial yang baik. Setiap orang saling membutuhkan bukan saling memanfaatkan. Masih bisa mendapatkan ruang hidup yang nyaman, terhindar dari polusi dan alamnya yang masih asri. Dan menurut saya pribadi, hal itu tidak menunjukan suatu indikasi yang bisa kita sebut tertinggal.

Jika ada anggapan bahwa Trenggalek itu tertinggal, ya tidak sepenuhnya salah. Namun demikian juga tak sepenuhnya benar. Ada beberapa hal yang membuat Trenggalek itu bisa dikatakan lebih maju dengan kabupaten lain. Mungkin kita hanya perlu mengubah presepsi kita saja dalam memandang Trenggalek.

Beni Kusuma Wardani
Beni Kusuma Wardani
Seorang laki-laki yang mulai menekuni dunia seni visual dan kepenulisan karena tidak tahu mau ngapain.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru