Kisah Arok-Dedes versi Pram

Roman ini seharusnya difilmkan dan menjadi film kolosal terhebat yang pernah ada. Dan sudah sepatutnya dengan semua yang ditulis oleh Pram di buku ini, filmnya digarap oleh sutradara yang punya kemampuan membuat penontonnya terus berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana alur cerita dari filmnya, tokoh-tokohnya, penggambaran setiap adegan yang heroik sekaligus melankolis, kokoh sekaligus rapuh, sederhana namun bisa terlihat elegan.

Seperti, sutradara yang men-direct Christian Bale ketika jadi manusia kelelawar. Atau Tom Cruise waktu jadi pemimpin Satuan Misi Tak Mungkin-nya. Bisa juga sutradara dari film Brad Pitt waktu jadi ksatria Troya, boleh juga sutradara yang men-direct Gerard Butler ketika memimpin pasukan yang berjumlah 300 menghadapi 300.000 pasukan Persia.

Jalan cerita dan intrik-intrik di dalamnya, tak mudah ditebak akhir ceritanya. Ketika membacanya, kita selalu bertanya-tanya dan terus membuat kita untuk selalu berpikir. Mengikutinya, ketika di Kutaraja kita seperti menjadi politikus handal yang memegang penuh kendali Tumapel. Semua dalam genggaman, dari Paramesywari, para menteri, perwira serta seluruh prajurit, rakyat, emas, tanah dan seluruh isinya. Tapi di paragraf selanjutnya, kita terbengong melongo bego tak tahu ke mana arah politik negeri Tumapel. Bodoh sedungu-dungunya karena tak tahu siapa saja yang dapat dipercaya, siapa yang setia, siapa yang khianat, siapa pecundang, siapa pejuang, sama sekali nihil. Tak kita ketahui.

Ketika dalam peperangan, heroisme dalam diri membuncah melebihi si cerdik Arok yang mengingkan keadilan di seluruh negeri. Juga sekaligus ngeri tak bernyali layaknya Oti yang kehilangan segala, Ki Bango Samparan, yang kehilangan kebebasannya untuk berjudi dan memperbudak lainnya, karena ia harus menjadi budak dari kelaliman penguasa. Rakyat-rakyat kecil yang tertindas harta, kehormatan dan jiwanya.

Namun di saat yang sama, bisa saja tiba-tiba kita menjadi prajurit Tumapel yang pengecut lari tunggang langgang karena ketakutan hanya dengan mendengar nama Arok. Atau bisa juga kita menjadi Kebo Ijo; prajurit dungu, tak berpendirian dan khianat, yang hanya menjadi pion dari Empu Gandring ahli siasat, penipu, provokator namun tak jeli dan Belakangka, si licik, licin, penghasut, sok kuasa namun tiada daya pada dirinya selain menjad parasit bagi yang lain.

Di lain paragraf, tiba-tiba kita dipaksa menjadi seorang yang sentimentil dan romantis dengan berbagai cara. Rimang yang begitu narimo ing pandum bahwa kecantikan wajah dan tubuh hanyalah anugerah sesaat. Kapan saja ia menerima ketika dicampakkan oleh orang yang memperistrinya, hanya karena kecantikannya.

Oti yang menghujat dewanya karena harapan tentang cinta yang diidamkannya terbentur pada kasta, namun ia tetap mendharmabaktikan dirinya pada suami yang tak lebih dari beberapa menit ia kenal. Dan Umang, seorang sederhana yang mencintai dengan cara yang sederhana, patuh dengan cara sederhana. Rela menunggu tak sedikit waktu hanya untuk Arok.

Dedes? Memang patutlah ia menjadi seorang ratu yang diidamkan oleh setiap raja untuk mendampingi di singgasana. Seorang yang berpengetahuan dan cerdas, tenang, teguh dalam keyakinannya, mulia dengan kekuasaannya, berani bersikap saat diperlukan, berjiwa penyayang ketika sebagai wanita dan bijaksana ketika sebagai ratu.

Namun, Dedes tetaplah seorang anak gadis yang menjerit hatinya ketika diculik dari ayahnya dan dinikahi secara paksa oleh raja yang dibencinya. Kesepian dalam keriuhan dan kemewahan istana, cinta di hatinya terombang-ambing liar, meski dalam kepastian kedudukan sebagai permaisuri.

Tak hanya mata, namun hati dan jiwanya menangis haru sepanjang waktu ketika menerima kenyataan bahwa tubuhnya dipaksa, dipunyai oleh Tunggul Ametung. Bahkan terus berlanjut setelah ia disahkan oleh Dang Hyang Lohgawe menjadi pramesywari dari seorang Sudra yang menjadi Akuwu Tumapel dan harus ia panggil suami setelah kematian Tunggul Ametung. Egois dan tinggi hatinya sebagai Brahmani tetap mengalir dan ia masih merasa lebih mulia dari siapa pun, termasuk suaminya dan Ken Umang.

Secara keseluruhan, buku ini adalah keindahan.

Sudah barang tentu pastinya, karena ini adalah Pramoedya Ananta Toer!

Dan setelahnya, muncul pertanyaan dalam diri saya. Jangan-jangan, sebenarnya, sejarah tentang Arok dan Dedes kurang lebih seperti ini adanya. Tidak seperti yang ada di buku-buku sekolah dan karya penulis-penulis Walanda yang secara mentah-mentah kita telan begitu saja!

Artikel Baru

Artikel Terkait